MALANG KOTA-RADAR MALANG - Kinerja Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas) mendapat sorotan. Penyebabnya, ada dua posisi direksi yang kosong sejak 2020. Kekosongan yang terjadi berdampak terhadap performa badan usaha milik daerah di Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun.
Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menyampaikan, ada masalah-masalah krusial dan pembiaran sejak awal. Salah satunya pada struktur direksi. ”Di direksi hanya ada direktur utama, direktur operasional, dan dewan pengawas. Sementara posisi direktur keuangan dan umum kosong,” ungkap dia.
Menurutnya, untuk posisi direktur utama diisi pelaksana tugas (plt). Yakni Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan Hariadi. Dia menggantikan Dodot Tri Widodo yang mengundurkan diri untuk pindah ke Jakarta sejak 2025.
Ali belum mengetahui secara pasti terkait penyebab struktur direksi yang tidak lengkap. Yang dia tahu, Perumda Tunas sudah pernah mendapat rekomendasi dari akademisi terkait pengelolaan dan struktur direksi. Namun, pihaknya berjanji segera menindaklanjuti kekosongan yang ada.
”Target kami secepatnya dalam 3 bulan ini (ada yang mengisi posisi direksi yang kosong). Karena posisi plt kan sampai 6 bulan. Namun kalau dibutuhkan bisa kami ajukan perpanjangan sampai mendapat direktur yang definitif,” tegas Ali. Untuk melengkapi struktur direksi, pemkot sedang mempersiapkan open bidding atau seleksi terbuka. Tentunya dengan prosedur yang sesuai. Sosok yang dicari juga harus memenuhi persyaratan.
Menurutnya, adanya struktur direksi yang tidak lengkap menimbulkan kekurangan pada manajemen Perumda Tunas dan bisa berdampak. Sebagai contoh, secara target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebelumnya tidak sampai Rp 100 juta. Namun, sejak dipimpin plt sekarang di angka Rp 388 juta.
Kemudian omzet yang pada 2025 di angka Rp 2 miliar. Pada tahun 2026, terdapat peningkatan menjadi Rp 10 miliar.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji membenarkan, performa Perumda Tunas harus digenjot kembali. ”Meski sudah mulai mengalami peningkatan, tapi masih harus didorong kembali,” tutur dia.
Bayu memberi contoh, Perumda Tunas bisa fokus pada laha satu usaha yang paling menguntungkan. Itu lebih baik dibandingkan menjalankan banyak unit usaha. (mel/gp)
Editor : Galih R Prasetyo