MALANG KOTA, RADAR MALANG - Proses relokasi pedagang Pasar Induk Gadang (PIG) dikebut. Kemarin (28/4), lapak-lapak pedagang buah dan ikan mulai dibongkar. Sesuai rencana, mereka bakal menempati bangunan sementara di sisi timur.
Sebagai informasi, semua proses relokasi itu ditanggung pedagang. Pemkot Malang hanya menyediakan lahan untuk bangunannya. Untuk proses pembangunan, pedagang melakukan patungan. Mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Minimal belasan hingga puluhan juta. Kabarnya juga ada yang mengeluarkan sampai ratusan juta. Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi menuturkan, meski pindah ke tempat relokasi, mereka tetap masuk kategori pasar rakyat.
Sehingga harus membayar retribusi setiap bulannya. ”Tidak ada keringanan retribusi. Karena pasar rakyat tetap membayar retribusi, pedagang tidak masalah (dengan hal itu),” kata dia.
Penetapan retribusi pasar diatur melalui Perda Nomor 1 tahun 2021 tentang Perubahan atas Perda Nomor 3 tahun 2015 tentang Retribusi Jasa Umum.
Dalam regulasi tersebut menyatakan bahwa tarif retribusi senilai Rp 1.000 per meter persegi per hari. ”Karena ini masih termasuk pasar rakyat jadi disamakan saja,” imbuh Eko.
Total pedagang yang pindah ke tempat relokasi sebanyak 1.200 orang. Khusus kemarin (28/4), ada 625 pedagang yang pindahan secara bersamaan.
Eko menekankan, seluruh fasilitas di tempat relokasi sudah siap. Mulai dari drainase, toilet, hingga area parkir. Dengan tersedianya area parkir, transaksi jual beli tidak boleh lagi dilakukan di bahu jalan. Kendaraan juga tidak boleh berhenti sembarangan di jalan. ”Fasilitas sudah ada semua, pedagang tinggal pindah,” terang Eko.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menambahkan, jalan di sisi timur akan terbebas dari pedagang. Baik pedagang resmi PIG maupun PKL liar. ”Jadi lapak pedagang hari ini (kemarin) dibongkar mulai dari jembatan sampai lampu merah. Besok (hari ini) sudah harus bersih,” terangnya.
Sebelumnya Pemkot Malang menargetkan proses pembongkaran selesai 25 April lalu. Namun realitasnya baru diselesaikan kemarin. Wahyu memberi toleransi keterlambatan hingga tiga hari.
”Hari ini (kemarin) pembongkaran dimulai dengan syukuran. Pedagang sangat berterima kasih sudah difasilitasi, karena sudah 35 tahun pasar ini tidak pernah berubah,” ucap Wahyu. (adk/mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra