MALANG KOTA-RADAR MALANG - Sektor pariwisata berkontribusi cukup besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada 2025, capaian pajak dari sektor tersebut mencapai Rp 246 miliar. Mulai dari pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan.
Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi menjelaskan, potensi pendapatan dari sektor wisata cukup besar setiap tahunnya. Seperti contoh realisasi pajak hotel tahun lalu mencapai Rp 60 miliar.
Kemudian dari pajak restoran mencapai Rp 175 miliar dan pajak hiburan Rp 11,8 miliar. Menurutnya, capaian dua pajak itu tinggi salah satu faktornya jumlah kunjungan wisata yang selalu meningkat. Pada 2025, disporapar mencatat kunjungan wisata 3,4 juta orang. Jumlah itu melebihi kunjungan wisata tahun sebelumnya 3,3 juta orang.
”Pada 2025 dari 3,4 juta wisatawan, 77 ribu merupakan wisatawan mancanegara,” terang Baihaqi. Destinasi yang menjadi favorit di antaranya Kajoetangan Heritage dan Alun-alun Merdeka.
Meskipun tidak memiliki destinasi alam, potensi wisata Kota Malang masih besar. Itu menyusul, mempunyai keanekaragaman kuliner di berbagai tempat. Ditambah lagi, Kota Malang juga menjadi titik transit bagi wisatawan yang hendak ke Kota Batu atau mengunjungi destinasi wisata di Kabupaten Malang.
Berangkat dari itu, Disporapar belum berencana menambah destinasi wisata baru pada 2026. Sebaliknya, strategi yang ditempuh adalah memaksimalkan potensi destinasi yang sudah ada. ”Fokus utamanya, kami arahkan pada peningkatan kualitas perawatan dan pengelolaan. Agar tetap menarik dan nyaman bagi wisatawan,” ucap dia.
Tak hanya itu, disporapar juga mendorong pelaku industri pariwisata. Mulai dari agen perjalanan, hotel, hingga restoran untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan. Dia melihat, wisatawan harus memiliki kesan yang menyenangkan supaya mereka bisa kembali ke Kota Malang.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi mengapresiasi capaian pariwisata yang mendongkrak pendapatan daerah. Meski demikian, masih ada beberapa catatan dari dewan. Salah satunya, belum ada roadmap pengembangan pariwisata.
Menurutnya, roadmap perlu disusun agar rencana pengembangan lebih terarah. Setelah di Kajoetangan, praktis belum ada pengembangan destinasi lain yang dilakukan Pemkot Malang. ”Karena destinasi wisata harus melakukan inovasi terus. Agar tidak ditinggal oleh pengunjung,” tandasnya. (adk/gp)
Editor : Galih R Prasetyo