MALANG KOTA – Penyakit kardiovaskuler melonjak tajam. Dalam kurun empat bulan terakhir, Januari-April 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mengidentifikasi ribuan penderita baru. Meningkat sekitar 300 persen dibanding sepanjang 2025, yakni 769 kasus.
”Untuk Januari sampai April, kami sudah mencatat 2.023 kasus kardiovaskuler selain hipertensi,” ujar Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang Meifta Eti Winindar kemarin (17/5)
Angkanya bertambah jika didata penyakit kardiovaskuler akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi juga dicantumkan.
Meifta mengatakan, penyakit kardiovaskuler yang terdata oleh dinkes ada tiga macam. Di samping hipertensi, lanjutnya, ada gagal jantung dan penyakit jantung koroner (PJK). Sama seperti hipertensi, dia melanjutkan, penyebab penyakit kardiovaskuler juga tidak jauh dari pola hidup yang tidak sehat. Misalnya kurang beraktivitas atau berolahraga.
Selain itu, dia mengatakan, mengonsumsi makanan yang tidak memiliki gizi seimbang. Bahkan cenderung tinggi natrium atau kandungan garam. Kemudian merokok, kurang tidur, hingga tidak mampu mengelola stress dengan baik.
Ada pula faktor risiko yang memicu terjadinya penyakit kardiovaskuler. Di antaranya penyakit penyerta seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan obesitas. Faktor lain adalah riwayat genetik dari keluarga.
"Sebagai upaya antisipasi maupun penanganan terhadap penyakit kardiovaskuler, kami menggencarkan skrining atau cek kesehatan gratis di 16 puskesmas," tegas Meifta.
Menurutnya, skrining jantung bisa dilakukan dengan elektrokardiogram (EKG). Yakni alat medis yang berfungsi untuk merekam aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan EKG bisa menunjukkan hasil yang bervariasi. Mulai aritmia (gangguan pada detak jantung), serangan jantung, atau kondisi lain. Jika grafik EKG terlihat tidak biasa, pihak puskesmas biasanya akan menyarankan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.
Tak hanya menyediakan skrining dan pemeriksaan, masyarakat yang positif mengidap penyakit jantung akan mendapat obat sesuai diagnosis masing-masing. Sebagian besar obat untuk penyakit kardiovaskuler sudah ter-cover BPJS Kesehatan. Di antaranya obat antihipertensi, obat antiangina untuk mengobati jantung koroner, dan banyak lainnya.
Kemudian dinkes juga menggencarkan program prolanis. Program tersebut biasanya dilakukan melalui 16 puskesmas. Terutama untuk pasien penyakit diabetes mellitus dan hipertensi.
"Bentuk programnya ada senam, edukasi, pemeriksaan laboratorium dan layanan pengobatan secara rutin," sambung Meifta.(mel/dan)
Editor : Mahmudan