Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bangun Ruang Belajar untuk Generasi Baru

M. Affan Fauzan • Minggu, 24 Mei 2026 | 13:30 WIB
GUYUB RUKUN: anggota komunitas Malang Hiphop Movement foto bersama setelah event Kolektifa pada 14 Mei lalu.
GUYUB RUKUN: anggota komunitas Malang Hiphop Movement foto bersama setelah event Kolektifa pada 14 Mei lalu.

KOTA MALANG, RADAR MALANG - PERKEMBANGAN komunitas hiphop di Kota Malang mulai diwarnai munculnya ruang kolaborasi lintas generasi. Rapper senior tidak lagi hanya fokus berkarya, tetapi juga mulai membangun wadah untuk membantu rapper muda berkembang.

Hal itu terlihat dalam acara Kolektif Kata yang digelar Malang Hiphop Movement. Melalui forum tersebut, rapper senior dan generasi baru dipertemukan dalam satu panggung untuk saling berbagi pengalaman dan proses kreatif.“Dulu circle-circle kecil, saat tanya belum tentu mendapat jawaban. Kalau sekarang kita bikin seperti ini, harapannya anak anak muda yang baru tumbuh bisa mendapatkan jawaban apa yang harus dilakukan ketika terjun sebagai rapper baru,” ujar rapper senior asal Malang, Enchus.

Baca Juga: Siapa Max Dowman? Wonderkid Arsenal 16 Tahun yang Bisa Jadi Generasi Baru Saka

Menurut Enchus, rapper muda saat ini sebenarnya memiliki akses informasi yang jauh lebih mudah dibanding generasi sebelumnya. Jika dulu proses belajar dilakukan secara terbatas, kini referensi produksi musik lebih mudah ditemukan lewat internet dan media sosial. “Kalau dulu kami buta informasi. Kalau sekarang sudah punya informasi valid. Beat ini ke sini, routing vokalnya ke mana, kita sudah ada referensinya,” lanjutnya.

Meski begitu, menurut dia, keberadaan komunitas tetap dibutuhkan. Tidak hanya untuk belajar teknis produksi musik, tetapi juga sebagai ruang berdiskusi mengenai penulisan lirik, pemilihan beat, hingga proses rekaman.

Rapper senior lainnya, Mazmo, melihat perkembangan hiphop di Malang kini semakin beragam. Genre tersebut mulai dipadukan dengan unsur musik lain maupun budaya lokal. “Ada hiphop dan dangdut jadi hipdut, ada juga yang kolaborasi sama hardcore. Jadi sebenarnya nggak pernah stuck, selalu berevolusi,” ujarnya.

Baca Juga: Ada Apa Dengan Cinta (AADC) Remake: Rangga dan Cinta Hidup Kembali di Generasi Baru Lewat Drama Musikal

Menurut Mazmo, setiap daerah memiliki karakter hiphop masing-masing. Di Malang, penggunaan bahasa Jawa dan pola permainan rima menjadi salah satu ciri yang cukup menonjol.

Ia juga menilai gaya penulisan lirik rapper muda mulai berkembang. Jika dulu lirik lebih banyak menggunakan bahasa seharihari, kini mulai muncul penggunaan metafora, satir, hingga sarkasme dalam karya mereka.

Di sisi lain, perkembangan skena hiphop Malang dinilai masih menghadapi kendala minimnya ruang tampil. Event rutin di anggap penting untuk menjaga ekosistem komunitas tetap hidup. (zan/adn)

Editor : A. Nugroho
#Bangun Ruang #generasi baru #hip-hop #belajar