KOTA MALANG, RADAR MALANG - JARUM jam menunjukkan pukul 18.00 di Kota Gdynia, Polandia. Sore itu, satu per satu pelanggan mulai berdatangan ke Tera Thai Salon Day Spa. Sebagian besar sudah melakukan reservasi sejak beberapa hari sebelumnya.
Di tengah ramainya aktivitas, Galang tak hanya memantau operasional usaha yang dirintisnya. Sesekali dia turut membantu resepsionis melayani pelanggan yang datang.
Pemandangan itu jauh berbeda dibanding lima tahun lalu saat pertama kali menginjakkan kaki di Polandia. Kala itu, pria alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut datang sebagai perantau yang belum memiliki pekerjaan tetap. Kini, dia justru menjadi pemilik usaha spa dengan omzet mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta per bulan.
Perjalanan itu dimulai pada Mei 2021, ketika pandemi Covid-19 masih membatasi mobilitas masyarakat di berbagai negara. Saat banyak orang memilih bertahan di rumah, Galang justru nekat merantau ke Eropa.
”Keinginan ke luar negeri sebenarnya sejak 2020. Karena pembatasan di Indonesia lebih ketat, sehingga 2021 saya paksa pergi,” ujarnya.
Baca Juga: Marcos Santos Tuntaskan Pekerjaan Rumah saat Jeda Panjang
Polandia bukanlah tujuan utama. Impian awalnya adalah Australia. Namun, empat kali pengajuan visa negara tersebut selalu berujung penolakan. Kesempatan juga belum berpihak ketika mencoba jalur ke Selandia Baru dan Kanada.
Hingga akhirnya seorang teman memberinya informasi bahwa Polandia membuka peluang bagi pekerja asing. Kesempatan itu langsung dicoba. Dalam pengajuan pertama, visanya disetujui.
Setelah menjalani tes Covid-19 dan karantina setibanya di Polandia, Galang mulai mencari pekerjaan. Lulusan prodi Agribisnis itu sebenarnya berharap bekerja sesuai latar belakang pendidikannya di bidang peternakan. Namun kenyataan berkata lain.
Agensi yang menyalurkannya justru menempatkan dia sebagai petugas kebersihan gudang. Setiap hari, pekerjaannya membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membereskan limbah sisa kegiatan industri. Pekerjaan fisik itu menjadi pintu masuk yang umum bagi pekerja migran karena tidak membutuhkan kemampuan bahasa Polandia yang tinggi.
Namun, pekerjaan tersebut hanya bertahan dua bulan akibat kecelakaan kerja yang di alaminya. Setelah itu, Galang beralih menjadi penjual kebab.
Di tempat baru itulah dia mulai belajar bahasa Polandia secara perlahan. Kemampuan berkomunikasi menjadi kebutuhan utama karena harus berhadapan langsung dengan pelanggan.
”Tempat kebab pertama hanya lima bulan karena administrasi saya tidak diurus dengan baik,” kenangnya.
Kariernya mulai menemukan arah ketika bekerja di toko kebab lain. Berbeda dengan pekerjaan sebelumnya, tempat tersebut menawarkan jenjang karier yang jelas. Galang memulai dari posisi paling bawah sebagai penyaji kebab sebelum perlahan naik menjadi kepala toko.
Selama 3,5 tahun bekerja, dia memanfaatkan setiap kesempatan untuk menabung. Pengeluaran hariannya relatif ringan karena kebutuhan makan ditanggung perusahaan, sementara biaya tempat tinggal mendapat subsidi.
Tabungan yang terkumpul perlahan memunculkan mimpi baru yakni memiliki usaha sendiri. ”Dari situ saya berkeinginan keras membuka usaha. Awalnya ingin kebab, tetapi pada prosesnya memilih spa,” katanya.
Perubahan rencana itu terjadi setelah dia bertemu seorang terapis pijat asal Bali yang juga bekerja di Polandia. Dari berbagai obrolan, Galang melihat peluang bisnis yang lebih menjanjikan.
Jumlah usaha spa Asia di Polandia masih terbatas, sementara minat masyarakat cukup tinggi. Teknik pijat Asia dinilai memiliki keunggulan karena tidak hanya memberikan relaksasi, tetapi juga terapi refleksi yang membantu mengurangi pegal dan kelelahan.
Melihat peluang tersebut, Galang memberanikan diri membuka Tera Thai Salon Day Spa pada Agustus 2024 dengan modal sekitar Rp 365 juta atau setara 90 ribu zloty. Tantangan pertama justru datang dari sisi administrasi.
Sebagai warga negara asing, dia tidak bisa mendirikan usaha dalam bentuk CV dan diwajibkan menggunakan badan hukum setara perseroan terbatas. Seluruh proses perizinan harus dilalui secara ketat.
”Untuk izinnya butuh dua bulan. Kalau di sini izin belum ada, tidak boleh beroperasi,” jelasnya.
Hasilnya ternyata sepadan. Dalam waktu relatif singkat, jumlah pelanggan terus bertambah. Selama tujuh bulan pertama, Galang bahkan masih menjalani dua pekerjaan sekaligus. Pagi hingga sore menjadi kepala toko kebab, sedangkan malam hari mengurus spa miliknya.
”Karena double job, bekerja sampai 16 atau 18 jam. Tetapi itu modal saya sebagai pendatang, harus ngoyo daripada warga asli,” ujarnya sambil tersenyum.
Pada Maret 2025, dia akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaan lamanya dan fokus penuh mengembangkan Tera Thai. Keputusan itu berbuah manis. Usahanya terus berkembang hingga mampu membuka cabang kedua di Kota Gdansk pada akhir Mei lalu.
Bagi Galang, keberhasilan yang diraih tidak datang secara instan. Kerja keras, keberanian mengambil peluang, dan disiplin menabung menjadi kunci utama selama merintis hidup di negeri orang.
”WNI yang ke Polandia kalau mau bekerja keras dan pintar menabung pasti bisa sukses,” pungkasnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho