MALANG KOTA, RADAR MALANG - Tradisi satu suro dengan membuat bubur masih dilestarikan warga yang tinggal di sekitar Pesarean Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Kemarin (16/6), warga di sana membuat 150 porsi bubur untuk dibagikan kepada warga lain dan pengunjung pesarean.
Pembuatan bubur dimulai pukul 10.30. Bubur dimasak langsung oleh Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Devi Arif Nurhadiyanto, Lurah Madyopuro Fredy Johari Andiansyah, dan beberapa warga. Prosesnya diawali dengan merebus air sampai mendidih di atas wajan besar.
Lalu, beberapa bahan seperti sereh, daun jeruk, daun salam, dan sedikit gula dimasukkan ke dalam wajan. Dilanjutkan dengan memasukkan beras. Selanjutnya, beras di wajan diaduk sampai menjadi bubur. Tidak lupa diberi tambahan santan.
”Beras yang digunakan untuk bubur memiliki kualitas premium. Total ada 8 kilogram beras yang kami masak. Nanti jadi sekitar 150 porsi,” sebut Devi di sela-sela memasak bubur. Dia melanjutkan, setelah matang, bubur akan disajikan dalam wadah yang diberi selembar daun pisang.
Kemudian di atas bubur diberi beberapa lauk. Seperti abon, telur yang sudah diiris tipis, kering tempe, daun bawang goreng, daun bawang warna hijau, hingga kerupuk udang. Menurut Devi, tradisi membuat bubur atau yang biasa disebut Mbabar Mbubur Suro itu sudah berlangsung untuk keenam kalinya.
Bedanya pada tahun ini tidak ada prosesi kirab. ”Karena saya lihat di beberapa tempat di Kota Malang dan sebagian Kabupaten Malang sudah menggelar kirab. Jadi kami hanya membuat bubur saja,” kata dia.
Kendati tak ada kirab, makna Mbabar Mbubur Suro tidak berkurang. Itu terlihat dari antusiasme warga yang berpartisipasi dalam memasak bubur.
Mbabar Mbubur Suro sendiri memiliki makna yang dalam. Yakni kesucian, keberkahan, dan awal doa di Tahun Baru Islam. Biasanya, bubur yang dimasak juga disantap bersama-sama. Jumlah warga yang mengunjungi makam dari Senin sore (15/6) sampai kemarin juga cukup banyak.
”Saya lihat dari Senin sore, sudah ada lebih dari 8 rombongan yang datang,” imbuh Devi. Devi berharap, ke depan tradisi Mbabar Mbubur Suro tidak hanya dilestarikan di Pesarean Ki Ageng Gribig. Namun juga bisa dilaksanakan di setiap kampung di Kota Malang. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra