Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Merdeka dalam Energi

Galih R Prasetyo • Minggu, 28 Juni 2026 | 13:26 WIB
Galih R. Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Galih R. Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

KOTA MALANG, RADAR MALANG - KERESAHAN dan kesulitan yang muncul akibat harga bahan bakar minyak (BBM) naik dan pemadaman listrik bergilir menghadirkan satu fakta penting. Kita punya ketergantungan tinggi terhadap energi. Saat ditelaah lebih dalam, menunjukkan adanya belenggu dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudahan yang ditawarkan pada era modern saat ini, ternyata menciptakan sebuah keterbatasan. Bisa dibayangkan, bagaimana dampak saat BBM tiba-tiba langka, atau di Indonesia terjadi blackout (pemadaman listrik total). Tentunya, setengah aktivitas di kehidupan kita akan lumpuh.

Baca Juga: Perspektif: Ironi Romantisasi Hari Ibu

Kuda besi yang jadi kebanggaan yang beberapa masih punya angsuran itu akan mati suri untuk sementara waktu. Kemudahan yang ditawarkan mobile banking atau E-money hanya akan bertahan dalam hitungan jam. Beragam aktivitas produksi modern dengan teknologi canggih yang menawarkan kecepatan dan hasil detail juga tak akan berdaya.

Tak hanya itu, handphone canggih yang Anda miliki pastinya tak bisa beroperasi. Dipastikan, situasi itu akan membuat mobilitas, produksi, komunikasi, sampai transaksi terkena dampak yang luar biasa. Beberapa pelaku usaha di Kota Malang mengaku mengalami kerugian puluhan juta akibat pemadaman bergilir beberapa waktu lalu. Padahal listrik mati dalam hitungan jam.

Karena itu, kenaikan harga BBM bukan hanya tentang bagaimana situasi minyak dunia. Atau pemadam listrik akibat kekurangan batu bara saja. Toh, saat minyak dunia kembali ke harga terendah selama perang belum berdampak apa-apa sekarang.

Baca Juga: Dari Energi Sampai Otot, Ini Alasan Daging Merah Penting untuk Tubuh

Satu hal yang perlu menjadi catatan saat ini, apakah kita siap menghadapi situasi blackout dan kelangkaan BBM. Meski situasi itu belum akan terjadi dalam waktu dekat, tapi perlu diingat dua energi itu tak terbarukan. Artinya sangat mungkin habis.

Lantas, apakah mungkin manusia merdeka secara energi? Sangat mungkin un tuk dilakukan, tetapi membutuhkan usaha. Contoh sederhananya, kita bisa mulai berinvestasi dengan membeli sepeda. Kayuhan demi kayuhan (baca dengan nada lagu Dalam Dinamika) akan membuat kita bergerak ke daerah yang dituju.

Sedangkan untuk tidak bergantung dengan listrik PLN, mulai membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) bisa jadi salah satu solusi. Berdasar penelusuran saya dari berbagai sumber, sudah mulai banyak masyarakat memanfaatkan PLTS untuk memenuhi kebutuhan akan listrik.

Saat ini PLN juga sudah memanfaatkan PLTS. Itu setelah membangun PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat. Lalu, PLTS Likupang yang berada di Sulawesi Utara.

Sebagai informasi, jenis sistem PLTS ada tiga. Pertama, On-Grid yang terhubung dengan jaringan PLN. Tidak terhubung baterai. Biaya pasang paling murah, bisa menghemat tagihan bulanan secara langsung. Kedua Off Grid atau mandiri total tanpa bantuan PLN. Harus menggunakan baterai.

Ketiga adalah hybrid. gabungan antara terhubung PLN dan baterai. Listrik rumah akan tetap menyala normal meskipun PLN sedang padam. Alternatif pemenuhan kebutuhan listrik sejatinya terus berkembang saat ini. Selain PLTS, ada pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), pembangkit listrik tenaga bayu (angin).

PLN juga sudah memulai memanfaatkan, tapi memang jumlahnya belum masif. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara masih jadi pilihan karena beberapa faktor. Mulai kemampuan memenuhi kebutuhan energi, perlu langkah bertahap untuk pindah ke energi lain, sampai adanya perjanjian kerja sama dengan perusahaan swasta.

Ada banyak cerita masyarakat Indonesia yang berusaha mandiri untuk dalam hal energi. Salah satunya dengan memanfaatkan PLTS. Sosok yang mencoba perlahan memanfaatkan energi terbarukan itu adalah Bagyo, Warga Ngemplak Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunung kidul, Jogjakarta.

Dia sudah sekitar 10 tahun memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya. Bagyo memanfaatkan aki bekas dan dua panel surya untuk membuat PLTS miliknya. Selama memanfaatkan energi terbarukan itu, pengeluarannya untuk listrik bisa ditekan.

Setelah penggunaan PLTS, dia baru keluar Rp 350 ribu untuk membeli aki. Setiap satu aki umurnya bisa mencapai sekitar dua tahun. Tapi yang terpenting dari kemandirian itu, dia jadi tak bergantung dengan listrik PLN untuk pencahayaan di rumahnya.

Sedangkan Syamsu Aida Yahya, warga Jalan Merbabu Nologaten, Ponorogo, sejak tujuh tahun terakhir tidak terlalu bergantung dengan PLN untuk urusan listrik. Kini dia merasakan penghematan karena penggunaan listrik PLN sebagai pelengkap, seperti untuk AC dan memasak air. Meski awalnya membutuhkan biaya sekitar Rp35 juta untuk instalasi.

Berangkat dari itu, jalan menuju kemerdekaan energi tentunya sangat terbuka lebar. Meski bersepeda membutuhkan tenaga dan waktu, PLTS perlu modal yang tak sedikit, tapi saat kita tak perlu bergantung dengan pihak ketiga terkait memenuhi kebutuhan energi akan jadi hal yang lebih menyenangkan. Apalagi dengan energi terbarukan, kita juga akan ikut mendukung lingkungan dan menjaga alam.

Saya dan Anda mungkin belum menuju ke sana sekarang. Tapi, cita-cita untuk mandiri dalam energi perlu terus kita miliki. Karena, saat menonton film dokumenter Sexy Killers karya Watchdoc Image sekali lagi, kembali muncul pertanyaan sejauh apa atau sampai kapan bisa terus memanfaatkan listrik dan BBM dari pihak ketiga. (/*)

Editor : A. Nugroho
#Merdeka dalam Energi #BBM #plts #PLN