MALANG KOTA, RADAR MALANG - Skema pembayaran subsidi angkutan pelajar gratis bakal dilakukan berdasar jumlah kilometer yang ditempuh setiap armada. Bukan jumlah penumpang yang diangkut. Per kilometernya, sopir angkot akan mendapatkan subsidi senilai Rp 6 ribu.
”Di aplikasi itu akan memuat berapa kendaraan yang beroperasi, berapa pelajar yang diangkut, dan lainnya. Kami membeli jasa sopir dihitung per kilometer,” jelas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra.
Selain sistem monitoring, Jaya menyebut pihaknya juga telah menetapkan standar operasional prosedur (SOP). Aturan itu wajib dipatuhi seluruh pengemudi dan koperasi angkot yang terlibat dalam program Pemkot Malang.
Beberapa ketentuannya seperti pengemudi wajib mengenakan seragam dan dilarang merokok selama berkendara. Serta, tidak diperkenankan menggunakan telepon seluler secara sembarangan saat mengemudikan kendaraan.
”Angkutan pelajar berbeda dengan penanganan penumpang umum yang mayoritas dewasa. Sehingga sopir diharapkan juga menjadi orang tua selama perjalanan,” tegas Jaya.
Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Malang Purwono Tjokro Darsono menambahkan, dari sisi angkot, persiapan sudah rampung sejak beberapa bulan lalu.
Pihaknya menunggu pelaksanaan program itu cukup lama. ”Dijanjikan awal tahun tetapi hingga Juni juga belum terealisasi. Sehingga seperti hanya diberikan janji,” keluh dia.
Pria yang akrab disapa Ipung itu meminta Pemkot Malang segera menunaikan janjinya. Karena di satu sisi, Pemprov Jatim telah mewacanakan Bus Trans Jatim Koridor dua. Jika angkutan pelajar tidak segera beroperasi, dia menyebut ada potensi gesekan.
”Kami sayangkan banyak rapat tetapi belum ada hasilnya. Teman-teman sopir angkot sangat butuh dengan program ini,” imbuhnya. Dia memastikan, sopir angkot telah menyetujui segala SOP yang ditetapkan Pemkot Malang. Seperti harus memiliki smartphone yang terhubung ke aplikasi monitoring.
Kemudian juga jam operasional angkutan pelajar. ”Jadi teman-teman sopir harus siap sejak jam 5 pagi, kemudian melakukan penjemputan. Kemudian saat pulang sekolah juga sudah ditentukan jadwalnya,” terang Ipung. Tak hanya SOP, sopir angkot nanti akan membuat grup WhatsApp (WA) dengan wali murid.
Itu dilakukan untuk memudahkan komunikasi dalam proses penjemputan. Jika siswa tersebut tidak sekolah, sopir tidak perlu menunggu.
”Kami sudah mengimbau teman-teman sopir bisa menganggap pelajar ini seperti anak mereka. Sehingga pelayanan yang diberikan maksimal,” pungkasnya. (adk/by)
Editor : Bayu Mulya Putra