KOTA MALANG, RADAR MALANG - BAGI sebagian orang tua, tantangan terbesar bukan mengajarkan anak menjadi pintar, melainkan memahami cara terbaik agar potensinya tumbuh. Itulah yang dirasakan Yuniar Kartika Sari, salah seorang wali murid di Kota Malang. Sejak mengenal tes STIFIn, ia mengaku lebih percaya diri menentukan pola asuh, memilih sekolah, hingga mendampingi perkembangan putrinya. Perjalanan itu dimulai ketika anaknya berusia 2 tahun 8 bulan. Setelah pandemi Covid-19, sang anak mulai tinggal bersama orang tua dan menjalani aktivitas di sekolah serta daycare. Saat itulah ia merasa perlu mencari cara memahami karakter buah hatinya.
“Anak kami terlihat pendiam dan kurang responsif. Tapi kami tahu dia senang belajar. Daripada menebak-nebak, kami memilih mencari panduan agar cara mendampinginya tidak keliru,” ujarnya.
Hasil tes menunjukkan putrinya memiliki tipe Intuiting Introvert. Bagi keluarga tersebut, hasil itu bukan menjadi label, melainkan pintu untuk mengenali kebutuhan anak. Mereka mulai memberi lebih banyak ruang bagi putrinya untuk berkreasi, mengeksplorasi hal baru, dan belajar sesuai ritmenya.
Orang tua itu juga mengubah cara menentukan sekolah. Reputasi bukan lagi pertimbangan utama. Lingkungan belajar yang kaya aktivitas kreatif justru menjadi prioritas karena dinilai lebih sesuai dengan karakter anak.
“Kami sadar tugas orang tua bukan memaksakan anak mengikuti sistem, tetapi mencari lingkungan yang membuat potensinya berkembang. Setelah memahami itu, banyak keputusan menjadi lebih mudah,” tegas Yuniar.
Baca Juga: Usia 0-6 Tahun Jadi Fase Krusial, Wabup Malang Minta Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
Pendampingan tersebut berlanjut dengan mengikutkan anak dalam berbagai kompetisi sejak usia 3 tahun 8 bulan. Berawal dari lomba tingkat lokal, kini putrinya telah mengikuti olimpiade matematika dan bahasa Inggris hingga level nasional maupun internasional.
Meski STIFIn masih menuai perbedaan pandangan di kalangan psikologi, ia mengaku tidak menjadikannya sebagai satusatunya acuan. Namun, bagi keluarganya, hasil tes tersebut cukup membantu memahami karakter anak.
Baca Juga: Dukung Tumbuh Kembang Bayi dengan Memberikan ASI Eksklusif 6 Bulan
”Yang paling penting, orang tua berhenti sibuk memperbaiki kekurangan anak. Fokuslah menemukan kelebihannya, karena di situlah potensi mereka bisa tumbuh,” pungkasnya. (kia/adn)
Editor : A. Nugroho