Rocky Gerung Sebut Kota Malang Bisa Menjadi Ibu Kota Ideologi

Nahdiatul Affandiah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 14:24 WIB
MENGGUGAH RASIONALITAS: Pengamat Politik Rocky Gerung jadi salah satu pembicara dalam acara Red Talks 2026 di Malang Creative Center (MCC), kemarin (25/7). (NAHDIATUL AFFANDIAH/RADAR MALANG)
MENGGUGAH RASIONALITAS: Pengamat Politik Rocky Gerung jadi salah satu pembicara dalam acara Red Talks 2026 di Malang Creative Center (MCC), kemarin (25/7). (NAHDIATUL AFFANDIAH/RADAR MALANG)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Pengamat politik Rocky Gerung punya pandangan tersendiri soal Kota Malang. Menurut dia, Malang adalah singkatan dari Marhaenisme harus Menggalang. Statement itu dia sampaikan di hadapan ratusan pemuda dalam acara Red Talks 2026 di Malang Creative Center (MCC), kemarin (25/7).

Marhaenisme sendiri merupakan sebuah paham yang memperjuangkan nasib kaum kecil untuk mendapatkan kesejahteraan hidup. Pencetusnya yakni presiden pertama Indonesia Ir Soekarno. Tujuan dari pemikiran itu untuk membebaskan rakyat kecil atau kaum marhaen dari penindasan kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme.

 Baca Juga: Profil Lengkap UNMER Malang: Dari Benteng Ideologi Pancasila hingga Menjadi Kampus Berkualitas

”Dari ideologi itu, bisa dipahami perlunya perlawanan terhadap ketidakadilan struktural modern ketimbang dipahami secara sempit sebagai petani kecil masa lalu,” ujar Rocky. Pemikiran itu cocok diterapkan dalam kondisi negara saat ini, yang sedang carut marut di sektor struktural. 

Rocky melihat Kota Malang yang sudah menjadi super kultur metropolitan yang cocok menjadi tempat pengembangan pemikiran yang memihak kaum lemah itu. Dengan potensi anak muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa, Kota Malang menurut Rocky bisa menjadi ibu kota ideologi dan pemikiran itu sendiri. 

Untuk itu kesempatan memelihara kemajemukan dan kondisi rasional tergambar besar di Kota Malang. Sebagai contoh, otak rasional saat ini mulai cemas setelah militer yang mulai terjun ke beberapa sektor masyarakat sipil. Yang penting ditekankan yakni keresahan pada militerismenya. Bukan ketakutan harfiah pada militer itu sendiri.

 Baca Juga: Peringati Lahirnya Pancasila, Jokowi: Waspadai Ideologi Transnasional

Pemikiran semacam itu, menurut Rocky, harus disebarluaskan untuk membangun kesadaran agar masyarakat bertindak secara tepat untuk membela kaumnya. Dalam misi penyebaran marhaenisme, Rocky juga menyoroti ranah politik yang saat ini seharusnya mulai diambil alih anak muda.

Namun dalam realitasnya tak banyak yang mau terjun di dunia itu. Gap atau jarak antara anak muda dengan politik saat ini cukup jauh sehingga menciptakan keengganan. ”Saya memahami gap itu disebabkan tidak adanya petunjuk ideologi yang bisa mereka capai,” paparnya. 

Politik saat ini banyak dipandang sebagai praktik titip uang. Ditambah anak muda, terutama Gen Z, sedang dalam kondisi burn out society. Kondisi itu menyebabkan banyak anak muda gagal memiliki harapan. 

Mereka merasa lelah secara mental karena terus menghadapi ketidakpastian. Mulai dari kondisi ekonomi yang semrawut hingga janji 19 juta lapangan pekerjaan yang belum juga tampak. Kondisi itu mendorong sebagian anak muda makin skeptis dan pasif, serta lebih memilih fokus menyelamatkan hidup masing-masing. (aff/by)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
Ibu Kota Ideologi Red Talks Rocky Gerung MCC