Berawal dari kegelisahan melihat seni dan teknologi berjalan di jalannya masing-masing, Doddy Hernanto menciptakan Kodeisme. Melalui QR Art, ia mengubah lukisan bukan sekadar objek yang dipandang, tetapi pintu menuju cerita, pengetahuan, hingga Sejarah.
KOTA MALANG, RADAR MALANG - DI RUANG kerjanya, kuas, cat air, cat minyak, dan perangkat digital berdampingan tanpa sekat. Bagi Doddy Hernanto, semuanya hanyalah alat. Yang menentukan arah sebuah karya tetaplah manusia beserta gagasan yang dibawanya.
Nama Doddy lebih dikenal di dunia seni sebagai Mr. D. Selama bertahun-tahun, ia mengembangkan QR Art, sebuah pendekatan yang menggabungkan seni rupa dengan teknologi kode QR. Dari gagasan itu lahir Kodeisme, aliran seni yang memadukan logika, matematika, teknologi, dan ekspresi artistik dalam satu kesatuan.
Baca Juga: Menutup Usia ke-18: Sepekan Jazz, Seni, dan Kolaborasi di BRI Jazz Gunung Bromo 2026
Berbeda dengan lukisan konvensional, karya-karya Mr. D menyimpan lapisan informasi yang hanya bisa diakses ketika kode QR dipindai.
Sebuah lukisan tak lagi berhenti pada visual, tetapi membuka pintu menuju audio, video, arsip, maupun cerita yang melatarbelakanginya.
“Lukisan tanpa informasi hanyalah dekorasi. Sebaliknya, informasi tanpa seni hanyalah tumpukan data,” ujarnya.
Baca Juga: HUT Ke-1266 Kabupaten Malang Libatkan UMKM hingga Seniman, Usung Semangat Berdaya Saing
Gagasan tersebut lahir dari kegelisahan sederhana. Menurut Doddy, seni harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya. Teknologi bukan ancaman, melainkan medium baru untuk memperluas cara orang menikmati karya seni.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Saat QR Art mulai diperkenalkan, tidak sedikit yang menganggap idenya terlalu jauh dari pakem seni rupa. Namun, ia tetap memilih berjalan di jalurnya sendiri.
Latar belakangnya yang dekat dengan logika dan matematika justru menjadi bekal untuk menyusun sistem visual yang presisi. Bahkan dalam melukis menggunakan cat air, Doddy menghitung banyak hal yang kerap luput dari perhatian. Arah angin dari kipas, suhu lampu, hingga kecepatan pengeringan pigmen menjadi bagian dari proses kreatifnya.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi hanyalah alat bantu. Menurutnya, kecerdasan buatan maupun algoritma tidak akan pernah menggantikan rasa yang dimiliki manusia.
”Teknologi dan kecerdasan buatan hanyalah alat, hanya kuas modern. Kalau kita menerima semua masukan tanpa berpikir kritis dan tanpa sentuhan rasa, kita akan kehilangan jiwa,” katanya.
Prinsip itulah yang menjadi fondasi Kodeisme. Di balik susunan kode digital yang tampak kaku, Doddy ingin menunjukkan bahwa karya seni tetap berangkat dari pengalaman, emosi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Pendekatan tersebut mulai mendapat perhatian di tingkat internasional. Sejumlah akademisi seni, di antaranya Dr Steven di New York, ikut menaruh perhatian terhadap gagasan yang dikembangkannya. Kolaborasi bersama seniman Nick Wacker pun menjadi salah satu pintu membawa Kodeisme ke panggung yang lebih luas.
Namun, ambisi terbesar Doddy justru tertuju ke Indonesia. Saat ini ia tengah menyiapkan karya yang menerjemahkan teks Proklamasi Kemerdekaan ke dalam bahasa visual Kodeisme. Gagasan itu diharapkan dapat menjadi cara baru mengenalkan sejarah kepada generasi muda melalui perpaduan seni dan teknologi.
September mendatang, ia juga berencana meluncurkan kanal edukasi mandiri sebagai ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mengenal Kode isme lebih dekat.
Bagi Doddy, keberhasilan sebuah karya bukan semata-mata diukur dari banyaknya pameran atau penghargaan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat seseorang berhenti di depan lukisan, memindai kode yang tersembunyi, lalu menemukan cerita baru yang sebelumnya tak terlihat.
“Jangan pernah takut ide kalian dianggap aneh. Melukis ataupun menulis, sama sama menghasilkan sesuatu yang akan dikenang selamanya,” pesannya.
Melalui Kodeisme, Mr. D terus membuktikan bahwa seni dan teknologi tidak harus saling meniadakan. Keduanya justru bisa berjalan beriringan, selama manusia tetap menempatkan akal dan rasa sebagai pusat dari setiap karya. (*/adn)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang