MALANG KOTA, RADAR MALANG - Proyek perbaikan jalan di Pasar Induk Gadang (PIG) sudah berjalan dua bulan. Meski tampak lancar, masih ada pengganjal dari proyek tersebut. Sebab, sisa lapak pedagang di sisi barat belum dibongkar.
Jika dibiarkan terus menerus, ada potensi proyek itu akan molor. Sesuai kontrak, proyek perbaikan jalan itu berdurasi sekitar 5,5 bulan. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menargetkan proyek bisa selesai dalam empat bulan. Agar pihaknya memiliki waktu untuk evaluasi hasil pengerjaan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang R Dandung Djulharjanto menuturkan, untuk progres proyek masih sesuai jadwal. Menurut perencanaan awal, pihaknya mengerjakan perbaikan di sisi timur terlebih dulu.
Setelah lapak pedagang dibongkar, pengerjaan akan berpindah ke sisi barat. Dandung mengatakan, proyek perbaikan dan relokasi tetap dikerjakan secara paralel. ”Progresnya sampai Agustus sudah 17 persen. Sementara ini masih pekerjaan drainase akhir di sisi timur,” ujar dia.
Mulai kemarin, dilakukan pengetesan kekuatan tanah. Itu merupakan persiapan sebelum melakukan pengerjaan perbaikan jalan. ”Minggu depan mulai dilakukan pengerjaan perbaikan jalan. Namun hanya satu ruas terlebih dulu, agar tidak mengganggu aktivitas,” terangnya.
Dandung mengatakan, ruas jalan dari Simpang Empat Jalan Rajasa hingga Jembatan Pasar Gadang akan menggunakan aspal biasa. Sedangkan jalan di depan PIG menggunakan metode cor beton. Metode itu dipilih agar jalan lebih awet dari genangan air.
Ditanya terkait potensi molornya pengerjaan akibat belum dilakukan sisa relokasi, Dandung mengaku tidak bisa berbicara banyak. Sebab proses pemindahan pedagang itu dilakukan perangkat daerah lainnya. ”Kami melakukan pengerjaan jalan saja. Relokasi di perangkat daerah lain,” imbuh dia.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat meminta pengerjaan perbaikan dua ruas jalan bisa selesai dalam waktu empat bulan. Artinya masing-masing maksimal dua bulan. Karena pengerjaan ruas di sisi utara agak tersendat, Wahyu meminta mengejar ketertinggalan pada ruas selatan.
Pemilik kursi N1 itu meminta sebelum Desember sudah tidak ada lagi pengerjaan. ”Akhir tahun itu momen ramainya orang. Saya minta November sudah selesai, agar tidak mengganggu pedagang,” tegasnya.
Alumnus ITN Malang itu menekankan, percepatan itu bermanfaat untuk menjaga kualitas pengerjaan.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi memastikan pihaknya akan terus mendorong percepatan pembangunan tempat relokasi tahap kedua. Menurut dia, lapak pedagang tidak bisa dibongkar sebelum pembangunan relokasi rampung.
Eko menyampaikan, kendala molornya pengerjaan relokasi karena anggarannya berasal dari swadaya pedagang. Sehingga harus menunggu dana terkumpul terlebih dulu. ”Kami sangat apresiasi kontribusi pedagang. Namun dukungan itu juga kami dorong untuk dipercepat,” tutur dia.
Sebelumnya, relokasi sisa bedak itu diperkirakan rampung pada pertengahan Juli atau paling lambat akhir Juli. Namun menjelang pekan kedua bulan Agustus, belum dilakukan pembongkaran lapak di sisi barat.
Anggota Komisi C DPRD Kota Malang Arief Wahyudi menuturkan, potensi molornya proyek disebabkan pengerjaan yang bersamaan, namun dilakukan perangkat daerah berbeda. Seharusnya seluruh lapak pedagang sudah dipindah sebelum memulai proyek perbaikan jalan.
Arief mengatakan, untuk proyek perbaikan jalan sudah ditetapkan standar jelas. Sesuai kontrak harus selesai dalam 172 hari. Sedangkan relokasi pedagang, tidak ada target jelas dari dinas terkait. ”Sampai saat ini jumlah pedagang yang dipindah, maupun tidak dapat tempat lagi belum dijelaskan secara rinci oleh pemkot,” tegasnya. (adk/by)
Editor : Bayu Mulya Putra