MALANG KOTA, RADAR MALANG - Dari tiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemkot Malang, Perumda Tugu Tirta atau PDAM masih menjadi andalan dalam mendulang pendapatan asli daerah (PAD). Kontribusinya tetap yang terbanyak ketimbang Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas) dan BPR Tugu Artha (selengkapnya baca grafis).
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menerangkan, dari laporan terakhir 2025, laba yang disumbangkan tiga BUMD itu mencapai Rp 63,16 miliar. Kontribusi dari PDAM mencapai 95,61 persennya. "Pendapatan Tugu Tirta (PDAM) tahun 2025 mencapai Rp 232 miliar. Kemudian laba bersihnya Rp 60,3 miliar," terang dia.
Wahyu mengakui kinerja BUMD belum seimbang. Seperti di BPR Tugu Artha, yang memiliki aset senilai Rp 56,24 miliar. Namun laba bersih yang dicatatkan pada 2025 hanya Rp 2,61 miliar.
Wahyu menambahkan, laba yang belum maksimal itu terjadi karena BPR Tugu Artha tidak sekadar mencari keuntungan. Tujuan lainnya harus membantu UMKM agar naik kelas. Selain itu, kredit yang diberikan juga harus memenuhi kriteria ketat. Itu untuk mencegah kredit tak tertagih atau macet.
"Untuk meningkatkan laba, kami akan mempercepat penyelesaian kredit bermasalah. Serta mengoptimalkan restrukturisasi bagi debitur yang masih memiliki prospek usaha," jelasnya. Dari tiga BUMD, PR terbesar pemkot terdapat pada Perumda Tunas.
Sebab, laba bersih tahun 2025 berada di bawah Rp 200 juta. Kecilnya laba itu dikarenakan beban operasional yang terlalu besar. "Kami akan mengkaji restrukturisasi kelembagaan, keuangan, dan SDM. Untuk efisiensi biaya operasional," tambah Wahyu.
Tantangan lainnya, Perumda Tunas juga masih belum memiliki direktur utama definitif sejak 2025 lalu. Itu terjadi setelah pejabat sebelumnya diangkat menjadi direktur BUMD di Jakarta. Posisi yang kosong itu kini dijabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan Hariadi sebagai pelaksana tugas.
BUMD yang berada di Kelurahan Gadang itu juga mengalami kekosongan di dua posisi direksi. Yakni direksi keuangan serta direksi umum. Karena struktur direksi yang tidak lengkap realisasi pendapatanPerumda Tunas belum maksimal. Sebagai contoh, secara target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebelumnya tidak sampai Rp 100 juta.
Sementara itu, Kepala Dispangtan Kota Malang Slamet Husnan Hariadi menjelaskan, operasional Perumda Tunas saat ini masih dalam tahap pengembangan dan penjajakan bisnis. Itu terlihat dari realisasi dari tahun ke tahun.
Slamet merinci, pada 2024, omzet yang diperoleh sebesar Rp 83,1 miliar. Sementara labanya Rp 1,6 miliar. Kemudian tahun 2025 terdapat penurunan omzet menjadi Rp 74,5 miliar dan labanya Rp 133,8 juta.
"Untuk tahun 2026 dari Januari sampai Juni, perolehan omzet sementara sebesar Rp 43,8 miliar dan labanya sudah Rp 357 juta," beber Slamet. Capaian tersebut mengalami peningkatan secara laba. Menurut Slamet, saat ini penopang omzet dan laba Perumda Tunas terletak pada bisnis yang eksisting.
Yakni jasa Rumah Potong Hewan (RPH), penjualan sembako, serta penjualan sapi hidup. Slamet melanjutkan, agar realisasi lebih maksimal, tahun ini sedang berlangsung kerja sama pengadaan daging sapi dengan pelaku usaha kuliner di Kota Malang.
"Ada rencana kerja sama juga dengan retail modern menggunakan sistem franchise. Kerja sama itu memanfaatkan aset kios-kios di sekitar Jalan Kolonel Sugiono sisi timur atau depan RPH," imbuh dia. Kemudian ada rencana kerja sama pemotongan kambing dengan pelaku usaha makanan khas timur tengah.
Saat ini kerja sama itu sedang dalam persiapan sarana prasarana dan administrasi. Slamet menambahkan, penting juga melakukan peningkatan omzet serta kerja sama bisnis dengan intansi lain. Itu berkaitan dengan pembentukan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Serupa dengan Perumda Tunas, kekosongan di posisi direksi juga terjadi di BPR Tugu Artha. Secara struktural, seharusnya diisi direktur utama dan direktur kepatuhan. "Untuk direktur utama baru saja purna tugas. Jadi sementara hanya ada saya selaku direktur kepatuhan," kata Direktur Kepatuhan BPR Tugu Artha Lukman Nulhakim.
Sementara dalam sehari-hari menjalankan tugas sebagai BUMD, ada kegiatan yang berkaitan dengan pemkot dan operasional unit usaha. Karena itu, kini BPR Tugu Artha harus menyeimbangkan diri sembari menunggu posisi direktur utama terisi.
Namun, pihaknya akan tetap berupaya agar operasional BPR Tugu Artha tetap maksimal. Sebab tahun ini, target laba mereka cukup tinggi, senilai Rp 2,5 miliar. "Untuk realisasi pada semester satu baru 50 persen," sambung Lukman.
Dalam rangka memaksimalkan operasional, BPR Tugu Artha berencana mengembangkan unit usaha. Tidak hanya melayani kredit untuk ASN dan UMKM saja. Ke depan, pihaknya sedang berencana menyisir potensi kredit pensiun hingga kredit untuk RT/RW. Lalu, BPR Tugu Artha juga menyisir kembali kredit-kredit yang bermasalah sehingga dana yang disalurkan kembali normal.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji menyampaikan bahwa Perumda Tunas mendapat atensi khusus dari pihaknya. Seperti rekomendasi dari pihaknya dalam laporan pertanggungjawaban Wali Kota Malang 2025.
"Meski sudah ada peningkatan, tapi Perumda Tunas harus didorong kembali," tegas Bayu. Dia juga merekomendasikan agar Perumda Tunas fokus pada salah satu usaha yang paling menguntungkan. Kemudian, dia juga berharap agar ada intervensi dari pemerintah daerah dan segera mengisi kekosongan dua direksi. (mel/adk/by)
Rapor Laba 3 BUMD Pemkot Malang
Perumda Tugu Tirta
- Tahun 2025 mencatatkan laba Rp 60,3 miliar.
- Jumlah itu lebih banyak ketimbang laba 2024 yang tercatat di angka Rp 42,7 miliar.
- Laba masih bisa ditambah karena target minimal 200 ribu Sambungan Rumah (SR) belum terpenuhi
BPR Tugu Artha
- Laba dari tahun ke tahun mulai dari Rp 800 juta hingga Rp 2 miliar.
- Kekosongan di posisi direksi membuat operasional dan realisasi laba belum maksimal.
- Pada 2026 ini ditarget meraup laba Rp 2,5 miliar.
Perumda Tunas
- Pada 2025 lalu hanya mencatatkan laba Rp 133,8 juta.
- Jumlah itu menurun drastis ketimbang laba 2024, yang tercatat di angka Rp 1,6 miliar.
- Tidak adanya direktur utama definitif jadi penyebab sulit berkembangnya usaha.
Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang