El Nino Diprediksi sampai Awal 2027

M. Affan Fauzan • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:13 WIB
HARUS WASPADA: Petugas BMKG Karangploso Malang tengah melakukan pengecekan peralatan. Salah satunya anemometer untuk mendeteksi dan mengukur kecepatan angin.
HARUS WASPADA: Petugas BMKG Karangploso Malang tengah melakukan pengecekan peralatan. Salah satunya anemometer untuk mendeteksi dan mengukur kecepatan angin.

 MALANG KOTA -RADAR MALANG- Fenomena El Nino yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur sekitar garis ekuator diprediksi bakal berlangsung dalam waktu lama. Berpotensi sampai pada awal 2027. Hal tersebut berdampak ke meningkatkannya risiko kekeringan serta kebakaran hutan di Jawa Timur selama kemarau.

 Prakirawan BMKG Karangploso Malang Linda Fitrotul menjelaskan, berdasar pemantauan terbaru, kondisi El Nino sekarang lebih kuat. Kondisi tersebut jika dibandingkan tahun 2025.

 Menurutnya, El Nino yang berlangsung sampai 2027 diprediksi akan memberikan dampak signifikan selama musim kemarau 2026. ”Terutama periode musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober 2026,” imbuhnya.

 Karena fenomena El Nino, curah hujan di sejumlah daerah di Indonesia bisa berkurang. Lebih lanjut, kondisi itu juga menurunkan ketersediaan air dan membuat lahan semakin kering.

 Linda merinci data BMKG Karangploso. Dari data tersebut hampir seluruh daerah di Jawa Timur perlu mewaspadai ancaman kekeringan selama periode kemarau. Antara lain Bangkalan, Kota Batu, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Kediri, Jember, Lamongan, Madiun, Magetan, Kabupaten Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung. ”Kota Malang juga masuk daftar,” kata Linda.

 Dengan demikian, lanjut Linda, masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air untuk kebutuhan sehari hari seperti pertanian harus waspada. Masyarakat bisa melakukan antisipasi seperti menggunakan air secara bijak dan tidak melakukan pemborosan.

 Di samping berdampak pada ketersediaan, fenomena yang terjadi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan. Karena itu, penting untuk waspada terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar seperti rumput, ilalang, daun kering, dan ranting.

 BMKG mengimbau masyarakat untuk mencegah sumber api. Dengan demikian juga bisa mengurangi risiko kebakaran terutama di kawasan hutan, lahan terbuka, perkebunan, dan wilayah dengan vegetasi kering. (mel/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
bmkg karang ploso el nino prediksi cuaca