MALANG RAYA, RADAR MALANG - Meski terjadi penurunan, animo warga Malang Raya dalam memanfaatkan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih terbilang bagus.
Untuk diketahui, FLPP merupakan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi dari pemerintah yang ditujukan untuk membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Program itu ditujukan untuk warga yang ingin mendapatkan rumah pertama dengan harga terjangkau. Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Korwil Malang Raya Doni Ganatha mengatakan, kuota FLPP secara nasional tahun ini sebanyak 350 ribu unit.
"Di Malang Raya untuk serapannya kalau ditotal sampai sekarang hampir 5 ribu unit," sebut dia. Ribuan unit itu berasal dari keanggotaan Apersi Korwil Malang Raya saja. Untuk diketahui, sekarang Apersi Korwil Malang Raya memiliki 148 pengembang. Yang paling banyak berada di Kabupaten Malang.
Misalnya di Kecamatan Karangploso, Kecamatan Lawang, Kecamatan Tajinan, Kecamatan Singosari, dan Kecamatan Wagir. Sementara untuk Kota Malang masih minim. Itu karena keterbatasan dan harga lahan yang mahal sehingga tidak bisa digunakan untuk program FLPP.
Demikian pula di Kota Batu. Sama halnya dengan Kota Malang, harga lahan di Kota Batu juga tinggi. Alhasil, masyarakat memilih di kawasan terdekat dengan Kota Malang seperti Kabupaten Malang.
Menurut Doni, harga rumah lewat FLPP masih tetap di angka Rp 166 juta per unit. "Padahal sekarang harga material atau bahan bangunan sedang naik. Kenaikannya kurang lebih 15 sampai 20 persen," sebut laki-laki yang juga pengembang di Podorukun Group tersebut.
Karena kondisi yang ada, pihaknya harus menekan margin. Sebab, pihaknya tidak mungkin mengurangi kualitas rumah. "Tidak apa-apa untungnya sedikit, tapi secara kuantitas banyak," tegas Doni.
Menurut dia, saat ini peminat rumah lewat FLPP semakin beragam. Mulai dari keluarga, pegawai, hingga pekerja pabrik. "Saya melihat di mana ada pendatang, itu akan potensial bagi pengembang. Terutama di kawasan-kawasan yang dekat dengan pabrik atau industri," terangnya.
Selain Apersi, Real Estate Indonesia (REI) Malang Raya juga mencatat adanya penjualan rumah lewat FLPP. Senada dengan Doni, Musa, Sekretaris Komisariat REI Malang Raya menyebut bahwa penjualan masih didominasi di Kabupaten Malang. Salah satunya di Kecamatan Pakis.
"Di Kota Malang ada juga, tapi tidak banyak. Salah satunya di perbatasan Kecamatan Kedungkandang dengan Kabupaten Malang," beber Musa. Hal tersebut karena pengembang kesulitan mencari harga tanah yang sesuai dengan ketentuan FLPP.
Harga yang sesuai yakni di kisaran Rp 75 ribu sampai Rp 300 ribu per meter persegi. Namun di Kota Malang maupun Kota Batu sudah lebih tinggi sehingga tidak bisa digunakan menjadi rumah lewat FLPP.
Kendati penjualan didominasi di Kabupaten Malang, Musa menyebut ada penurunan penjualan pada 2026. Itu jika dibanding tahun 2025. "Karena sekarang daya beli masyarakat sedang menurun," tuturnya.
Agar program 3 juta rumah bisa tetap terwujud, REI berharap ada langkah strategis dari pemerintah. Misalnya memanfaatkan aset negara untuk pembangunan rumah rakyat. Selain itu bisa juga dengan tanah sitaan dari instansi. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra