MALANG KOTA, RADAR MALANG - Finalisasi program angkutan pelajar membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah peraturan wali kota (Perwali) diterbitkan Juli lalu, masih ada beberapa poin yang perlu dituntaskan. Diperkirakan program itu bisa dijalankan mulai akhir bulan ini.
Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Muhammad Anas Muttaqin mengatakan, total ada 96 armada angkot yang dilibatkan. Jumlah itu merupakan hasil dari pendataan akhir. Jumlah tersebut bisa bertambah, karena masih dilakukan pembahasan lanjutan antara pemkot dan paguyuban angkot.
Politisi PKB itu menambahkan, kini pemkot tinggal menyelesaikan syarat administrasi. Untuk teknis seperti rute dan besaran subsidi sudah disepakati. ”Karena ini program subsidi dari pemerintah, syaratnya lebih banyak. Sehingga saat ini masih finalisasi,” ujarnya.
Anas merinci, anggaran untuk program itu mencapai Rp 1,9 miliar. Tujuannya untuk memberikan kemudahan mobilitas para pelajar. Sebab, ada beberapa rute yang baru dibanding Bus Halokes. Sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi pengemudi dan pengusaha angkot lokal.
Program itu juga ditujukan untuk penguatan angkot di tengah persiapan koridor dua Bus Trans Jatim. Dewan juga mengingatkan masih ada satu janji lagi untuk para sopir. ”Kami mendorong pemkot segera merealisasikan feeder (angkutan penghubung). Agar angkot tidak merasa tersisih dengan Bus Trans Jatim,” imbuh dia.
Di tempat lain, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Malang Purwono Tjokro Darsono menyebut, saat ini pihaknya masih menunggu proses audit koperasi selesai. Sebelumnya, ada empat koperasi yang dibentuk. Setelah verifikasi, hanya satu yang dinyatakan memenuhi syarat.
”Kami berharap sebelum akhir Agustus prosesnya sudah selesai, sehingga (program) bisa segera berjalan. Teman-teman sudah menunggu angkutan pelajar,” tuturnya. Ada perubahan rencana terkait jumlah armada yang dioperasikan angkutan pelajar.
Sebelumnya, organda hendak menggunakan 80 angkot. Namun ada peluang jumlah itu ditambah. Tujuannya agar semakin banyak sopir angkot yang mendapatkan manfaat dari program itu.
Baca Juga: Pelaksanaan Angkutan Pelajar di Malang Tunggu Audit Koperasi
”Karena pendapatan sopir setelah adanya ojek online menurun drastis. Program ini bisa dibagi ke teman-teman,” jelas pria yang akrab disapa Ipung itu. (adk/by)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang