Penyelamat Perut saat Memasuki Akhir Bulan

M. Affan Fauzan • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:12 WIB
UNTUK SEMUA KALANGAN: Dua lansia mengambil makanan di Griyo Dahar Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kota Batu untuk dibawa pulang.
UNTUK SEMUA KALANGAN: Dua lansia mengambil makanan di Griyo Dahar Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kota Batu untuk dibawa pulang.

KOTA MALANG, RADAR MALANG - BAGI sebagian mahasiswa perantauan, akhir bulan bukan hanya soal menunggu kiriman uang. Ada kalanya kebutuhan kuliah datang bersamaan dengan kebutuhan makan harian. Dalam situasi seperti itu, keberadaan layanan makanan darurat menjadi salah satu pilihan untuk bertahan sampai kondisi keuangan kembali pulih.

Pengalaman tersebut dirasakan Indra, mahasiswa perguruan tinggi negeri di Malang. Uang yang dimilikinya habis untuk kebutuhan ospek kampus dan jurusan. Tidak memiliki kerabat dekat di Kota Malang karena berasal dari Sumatera, dia kemudian menghubungi Nasi Darurat Malang.

BERBAGI MANFAAT: Seorang pengemudi ojek online mengambil makanan gratis yang disediakan Griyo Dahar Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kota Batu.
BERBAGI MANFAAT: Seorang pengemudi ojek online mengambil makanan gratis yang disediakan Griyo Dahar Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kota Batu.

Bantuan tersebut menurut Indra cukup untuk menjaga kebutuhan makannya selama satu hingga dua hari. Proses pengajuannya pun relatif sederhana. Dia hanya perlu menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu tanda mahasiswa (KTM).

“Saya menggunakan bantuan tersebut untuk membeli makanan di warteg dengan nominal Rp 12 ribu,” ujarnya.

Bagi mahasiswa perantauan, bantuan semacam itu bukan sekadar soal nominal. Ketika pilihan untuk meminjam uang atau meminta bantuan keluarga tidak mudah dilakukan, makanan gratis maupun bersubsidi dapat menjadi penyangga sementara.

Indra menilai keberadaan Nasi Darurat Malang sangat membantu mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Bantuan dapat digunakan untuk membeli makanan siap santap sesuai kebutuhan penerima.

RAMAI: Warga menyantap hidangan yang dibuat Griyo Dahar Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kota Batu.
RAMAI: Warga menyantap hidangan yang dibuat Griyo Dahar Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kota Batu.

Pilihan lain juga tersedia berupa bahan pokok. Sofi, misalnya, memilih membeli beras satu kilogram dan telur seperempat kilogram. Menurut dia, bahan pangan mentah lebih efisien karena dapat dimasak sendiri dan memenuhi kebutuhan makan beberapa hari.

“Saya memilih membeli bahan pokok supaya bisa dimasak sendiri dan cukup untuk beberapa hari,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan beras dan telur tersebut, dia hanya mengeluarkan Rp 16 ribu. Pola bantuan seperti ini memperlihatkan bahwa tren berbagi makanan kini tidak selalu hadir dalam bentuk nasi kotak atau makan gratis di satu lokasi.

Bagi penerima, fleksibilitas menjadi penting. Ada yang membutuhkan satu porsi untuk mengganjal lapar hari itu. Ada pula yang lebih membutuhkan bahan pokok agar pengeluaran makan bisa ditekan beberapa hari ke depan. (zan/adn)

 

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
nasi darurat malang Penyelamat Perut KTP KTM