Maksimalkan Anggaran SiLPA dari 2025 Lalu
MALANG KOTA, RADAR MALANG - Anggaran untuk sektor infrastruktur Kota Malang bakal ditambah. Perkiraan tambahannya mencapai Rp 8,5 miliar. Itu sesuai dengan pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD 2026.
Tambahan itu rencananya digunakan untuk tiga program (selengkapnya baca grafis). Untuk diketahui, dalam pembahasan PAK APBD 2026, Pemkot Malang menambah beberapa pos belanja daerah. Itu dilakukan untuk memaksimalkan angka Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) dari 2025 lalu.
Selain sektor infrastruktur, bidang kesehatan juga mendapatkan tambahan anggaran Rp 12,9 miliar. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Dandung Djulharjanto menyampaikan, sementara ini ada tiga program yang akan ditambah pada PAK.
Yaitu pemeliharaan infrastruktur, dan dua perbaikan bangunan milik Pemkot Malang. Khusus untuk pemeliharaan infrastruktur, pihaknya masih memetakan kebutuhan. Perlu kajian program apa yang dinilai paling mendesak untuk direalisasikan dalam PAK. "Pemeliharaan infrastruktur termasuk perbaikan jalan, perbaikan drainase, dan rehabilitasi bbangunan pemkot," jelasnya.
Untuk titik pasti perbaikan jalan maupun drainase, Dandung menyebut bakal dibahas lebih lanjut pada Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) APBD Perubahan. Pihaknya juga mempertimbangkan usulan perbaikan bangunan dari perangkat daerah lain.
Baca Juga: SiLPA Capai Rp 303 Miliar, DPRD Kota Malang Minta Bidang Persampahan dan Taman Diperhatikan
"Termasuk kami terbuka untuk infrastruktur pendidikan seperti sekolah, jika ada usulan yang perlu perbaikan segera," terangnya. Dia menambahkan, tambahan anggaran Rp 8,5 miliar itu berasal dari SiLPA DBH-CHT (Dana Bagi Hasil-Cukai Hasil Tembakau) tahun 2025.
"Tidak hanya untuk pemeliharaan rutin, kami juga harus menyiapkan cadangan untuk perbaikan jalan insidental. Karena masuk musim hujan banyak aduan jalan rusak," papar Dandung.
Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Siraduhitta mengatakan, selama ini persentase belanja modal terlalu kecil. Karena terdesak oleh belanja operasional, seperti belanja pegawai. Idealnya, belanja modal Pemkot Malang minimal 10 sampai 15 persen dari total belanja daerah.
Baca Juga: DPRD Kota Malang Prioritaskan Penggunaan SiLPA 2025 untuk Cover Premi BPJS Warga
"Tahun ini sekitar 8 persen, jadi ini masih belum ideal. Untuk itu infrastruktur menjadi salah satu perhatian pada PAK," ucapnya. Tambahan anggaran senilai Rp 8,5 miliar diharapkan mampu menjawab sebagian kebutuhan masyarakat terkait infrastruktur.
"Saat ini baru diketahui anggaran yang tersedia berapa, kemudian dibahas lebih detail melalui ranperda APBD perubahan," tutur Amithya. Pihaknya memastikan bakal mencermati penambahan program infrastruktur melalui rapat komisi. Karena waktu yang singkat, program itu harus dipastikan berjalan sesuai tahun kalender.
"Usulan insfrastruktur juga harus mempertimbangkan sisa waktu hingga akhir tahun. Jangan sampai gagal terealisasi, akhirnya timbul SiLPA lagi," tegasnya. Sementara itu, dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, masih banyak jalan-jalan di Kota Malang yang membutuhkan pemeliharaan secara insidental.
Seperti di Jalan Zaenal Zakse, kawasan Sawojajar, dan banyak lainnya. Banyaknya jalan yang membutuhkan pemeliharaan itu dibenarkan anggota Komisi C DPRD Kota Malang Arief Wahyudi. "Kalau untuk insidentil banyak jalan yang harus mendapatkan pemeliharaan. Tersebar di lima kecamatan," kata dia.
Arief mengamati, dalam satu ruas jalan, biasanya ada banyak titik-titik yang perlu mendapat pemeliharaan. Baik karena berlubang dengan ukuran kecil maupun besar. Ada juga yang terkelupas, berbentuk gundukan, dan tidak rata.
"Kemudian ada yang sifatnya rehab. Seperti di Jalan Taman Slamet dan Jalan Bromo," sebut politisi dari PKB tersebut. Biasanya, kerusakan terjadi pasca-musim hujan. Ada juga yang rusak karena sering dilewati kendaraan muatan berat hingga terkena air dari aktivitas warga.
Dengan kondisi jalan yang berbeda-beda, Arief meminta pemkot agar memanfaatkan anggaran seoptimal mungkin. Jika kerusakan jalan tidak parah, bisa memanfaatkan anggaran insidentil perawatan.
"Namun kalau kerusakannya besar, maka harus dilakukan rehab. Seperti yang ada di Jalan Taman Slamet tadi," sambung Arief. Dia juga mendorong agar penanganan terhadap jalan pada semester kedua harus lebih baik.
Arief menilai pengerjaan jalan pada semester satu belum maksimal. Dia melihat secara umum memang terasa aspal di jalan-jalan Kota Malang kurang tahan lama. "Mengingat anggarannya juga terbatas sehingga harus berbagi antara pekerjaan satu dengan pekerjaan lainnya," tutup dia. (adk/mel/by)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang