Konsumsi BBM Subsidi Melonjak Capai 15 Persen, Pertamina Malang Tambah Pasokan

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 14:30 WIB
TINJAU SPBU: Seorang pengendara tengah mengisi bahan bakar di SPBU Ciliwung kemarin. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Tim TPID meninjau persediaan BBM, kemarin. (Andika Satria P)
TINJAU SPBU: Seorang pengendara tengah mengisi bahan bakar di SPBU Ciliwung kemarin. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama Tim TPID meninjau persediaan BBM, kemarin. (Andika Satria P)

 MALANG KOTARADAR MALANG- Konsumsi BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar di Kota Malang mengalami peningkatan. Angkanya mencapai 10-15 persen. Kondisi ini membuat antrean di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) lebih panjang.

 Sales Branch Manager Pertamina Malang Imam Rizki menyebut, peningkatan konsumsi terjadi karena dimulainya aktivitas perkuliahan pada Agustus lalu. Mobilitas masyarakat di Kota Malang juga meningkat. Situasi itu turut berdampak kepada kebutuhan BBM.

 Selain itu, ada faktor lain yang ikut mendorong lonjakan permintaan BBM subsidi. Penyesuaian harga BBM non-subsidi membuat sebagian konsumen beralih dari Pertamax ke Pertalite. ”Karena kenaikan Pertamax cukup tinggi, ada perubahan konsumsi ke Pertalite,” terangnya.

 Di wilayah Kota Malang, kenaikan konsumsi Pertalite rata-rata mencapai 6 persen hingga 10 persen. Sementara untuk jenis Solar lebih tinggi. Yaitu mencapai 10 persen sampai 15 persen. Konsumsi itu membuat Pertamina melakukan penyesuaian pasokan.

 ”Penambahan suplai secara keseluruhan mencapai 20 persen dari kapasitas normal. Untuk menjamin ketersediaan optimal di setiap SPBU,” jelas Imam. Menurutnya, peningkatan pasokan tersebut menjadi langkah antisipasi agar lonjakan permintaan tidak berkembang menjadi kelangkaan. Terlebih, antrean kendaraan di sejumlah SPBU sempat mengular.

 Di sisi lain, harga BBM non-subsidi masih dipengaruhi kondisi pasar minyak dunia. Imam menyebut, harga minyak mentah dunia saat ini berada di atas USD 92 per barel. Harga normalnya 40 USD atau 50 USD. ”Biasanya itu mentok di harga 70 USD per barel,” ucapnya.

 Dengan tingginya bahan mentah itu membuat mau tidak mau pemerintah meningkatkan harga jual ke konsumen. Terutama untuk jenis BBM non-subsidi. ”Untuk BBM subsidi harga jual sebenarnya juga naik, tapi ditahan oleh pemerintah,” pungkasnya.

 Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan, peningkatan konsumsi saat ini hanya berdampak pada antrean lebih panjang. Terkait stok dari Pertamina masih aman, sehingga dipastikan tidak terjadi kelangkaan. ”Masyarakat tidak perlu khawatir atau takut BBM subsidi habis. Stok dan distribusi sampai saat ini masih lancar,” tandasnya. (adk/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
Konsumsi BBM subsidi solar kota malang alami deflasi Pertalite