MALANG KOTA, RADAR MALANG - Kabar kelangkaan beras premium di pasaran ditindaklanjuti Pemkot Malang. Kemarin, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang melakukan pengecekan di tiga titik. Yakni di Pasar Blimbing, Pasar Klojen, dan distributor sembako di Kecamatan Blimbing.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menuturkan, kelangkaan beras premium tak hanya terjadi di pasar tradisional saja. Kondisi serupa ditemui di distributor sembako. Kelangkaan terjadi sejak dua pekan lalu.
”Distributor (di Blimbing) berasnya kosong sudah dua minggu. Untuk lainnya seperti minyak goreng dan gula masih aman,” tutur dia.
Di Pasar Blimbing, stok beras yang tersedia lebih banyak jenis medium atau SPHP (Stabilitas Pasokan Harga Pangan). Sementara untuk beras premium stoknya terbatas. Pedagang yang menjual beras jenis itu harus mencari barang dengan upaya lebih.
”Beberapa pedagang sampai mencari ke kota-kota lain untuk beras premium. Membuat harganya lebih tinggi dibanding biasanya,” jelas Wahyu. Meski harga naik, tetap ada permintaan dari pelanggan. Sehingga pedagang tetap menyediakan barang meski harus membeli dari daerah lain maupun toko modern.
Dalam peninjauan di Pasar Klojen, pemkot juga mendapati kondisi yang sama. Stok beras premium terbatas, hanya dimiliki salah satu toko sembako saja. Karena terbatas, harganya mengalami kenaikan. ”Di Klojen, beras merek Lahap dan Mentari ada, tapi harganya cukup tinggi,” imbuh Wahyu.
Melihat kondisi itu, TPID bakal melakukan rapat koordinasi untuk menentukan skenario penyediaan beras premium. Apakah melakukan intervensi mandiri atau melaporkannya ke pemerintah pusat.
”Beras premium masalah selera dan masih banyak permintaannya. Kami akan rapatkan, mudah-mudahan ada solusi agar tidak terus mengalami kelangkaan,” ucap Wahyu.
Pantauan Jawa Pos Radar Malang di Pasar Klojen, dari dua toko sembako, hanya satu yang menyediakan stok beras medium. Sayid, pedagang di toko tersebut mengaku harus keliling untuk mencari stok beras premium. ”Saya dapatnya di kawasan Comboran. Sudah (cari) dari distributor dan toko modern tidak ada,” kata dia.
Karena membeli dari pedagang lain, harga beras premium yang dia jual lebih mahal. Jika normal Rp 84 ribu per lima kilogram, saat ini mencapai Rp 87 ribu per kilogram. ”Stok yang sulit ini sudah terjadi dua pekan belakangan,” tambah Sayid.
Dengan naiknya harga, beberapa pelanggan urung membeli harga jenis premium. Sementara lainnya masih ada yang memahami karena stok terbatas. ”Kalau penyebab pasti langkanya karena apa kami belum mengerti. Tapi isunya banyak barang yang ditarik dari pasar,” pungkas dia. (adk/by)
Editor : Bayu Mulya Putra