MALANG KOTA, RADAR MALANG - Penentuan rute Bus Trans Jatim Koridor II Malang Raya turut diperhatikan kalangan legislatif. Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Arief Nurakhmadi menuturkan, dari awal memang ada dua opsi jalur.
Dibanding Jalan Soekarno-Hatta (Soehat), jalur yang paling memungkinkan yakni melalui Jalan Sulfat,
Dito mengakui, sebenarnya cukup banyak masyarakat yang menginginkan Bus Trans Jatim melintasi Jalan Soehat. Sebab, kawasan tersebut memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi.
Terlebih, kawasan itu menjadi salah satu pusat aktivitas pendidikan, perdagangan, dan jasa di Kota Malang.
Namun karena banyak trayek angkot yang beroperasi di sana, dikhawatirkan bakal bersinggungan dengan Bus Trans Jatim. Karena itu pemilihan melalui rute di Jalan Sulfat dipandang paling realistis.
”Jalur Sulfat bersinggungan dengan lima trayek. Sedangkan jalur Soekarno-Hatta bersinggungan dengan delapan trayek,” kata Dito.
Rute di Kota Malang lewat Jalan Sulfat pun akhirnya dipilih Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim.
Setelah koridor dua beroperasi, dewan menekankan bahwa pemerintah harus memperhatikan keberlangsungan angkutan kota. Salah satu skemanya yakni menjadikan angkutan kota sebagai angkutan pengumpan atau feeder Bus Trans Jatim.
”Angkutan pelajar saja tidak cukup, kami harap feeder segera direalisasikan,” tegas legislator dapil Lowokwaru itu.
Terpisah, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Malang Purwono Tjokro Darsono menyebut tidak ada masalah antara Pemprov Jatim dan sopir angkot yang bersinggungan dengan koridor dua. Selama ini pembicaraan untuk operasional koridor tersebut tidak menemui jalan buntu.
”Selama ini pembicaraan dengan provinsi selalu humanis dan mereka memikirkan nasib sopir angkot yang terdampak,” ucapnya. Dia mencontohkan, sopir angkot akan diprioritaskan menjadi pengemudi Bus Trans Jatim asalkan memenuhi syarat.
Provinsi juga membuka peluang pekerjaan untuk bagian perawatan bagi sopir angkot yang sudah berusia lanjut.
”Kemarin juga ada kesepakatan sopir jalur AMG (yang terdampak) bisa dimudahkan untuk pemutihan pajak. Sehingga mereka menerima Bus Trans Jatim jika melewati Araya hingga Jalan Sulfat,” papar pria yang akrab disapa Ipung itu.
Dia menambahkan, operasional Bus Trans Jatim itu ditujukan untuk meningkatkan moda transportasi di Kota Malang.
Karena itu para sopir angkot akan selalu mendukung. ”Ketika banyak yang naik Trans Jatim. Itu juga akan mengangkat angkot,” pungkasnya. (adk/by)
Editor : Bayu Mulya Putra