MALANG KOTA – Intensitas penggil ingan padi di Kota Malang mengalami penurunan. Beberapa tahun yang lalu, pengilangan padi bisa beroperasi ham pir setiap hari. Sedangkan sekarang, dalam satu minggu hanya sekali aktivi tas penggilingan padi.
Berdasar informasi digali wartawan koran ini, ada berbagai faktor yang menjadi penyebab situasi itu. Salah satunya, banyak dari masyarakat Kota Malang memilih membeli beras yang sudah dikemas. Lalu, juga disebabkan lahan persawahan yang kian berkurang di Kota Malang.
Baca Juga: Beras Premium Langka di Pasar Kota Malang, Pemkot Tunggu Arahan Bapanas
Menurunnya, intensitas penggilingan padi, salah satunya dirasakan oleh Umi Sutiani, 76. Umi membuka usaha penggilingan padi di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Penggil ingan padi miliknya sudah beroperasi sekitar tahun 1971.
”Betul sekarang sudah banyak ber kurang (proses penggilingan padi). Karena banyak yang memilih membeli beras di pasar,” katanya. Selain itu ju ga disebabkan adanya penggilingan padi yang beroperasi secara berkeliling. Ditambah lagi sekarang, dari petani gabah langsung dibeli dalam jumlah yang banyak oleh pengepul.
Menurut Umi, penggilingan padi di tempatnya mampu memproduksi beras dalam skala besar. Mencapai tiga ton dalam sekali giling beberapa tahun yang lalu. ”Sekarang sekitar 1 ton. Itu dari sawah sendiri. Luasnya sekitar tiga hektare,” sebutnya.
Baca Juga: Sidak di Tiga Tempat, Pemkot Malang Dapai Stok Beras Premium di Distributor juga Langka
Menurutnya, tidak pernah membeli padi dari hasil tebasan. Itu karena, umumnya harganya sudah tinggi. Hal itu berpotensi membuatnya merugi.
Biasanya beras hasil produksi sendiri dijual Umi ke masyarakat. Itu menyusul, jumlahnya semakin ber kurang. Namun dulu sempat dijual ke Bulog. ”Sekarang yang beli keba nyakan warga sekitar. Jualnya sekitar Rp 14 ribu per kilogram,” katanya.
Beras yang dijual Umi mempunyai ku alitas bagus. Proses penggilingan biasa nya dibantu tiga pegawainya.
Editor : Aditya Novrian