Sungai Amprong Sepanjang 1,3 Kilometer di Kelurahan Madyopuro Segera Dinormalisasi

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 16:01 WIB
TANGKAL BANJIR: Salah satu ekskavator mulai beroperasi aliran Sungai Amprong di wilayah Kelurahan Madyopuro, kemarin (14/9). (Darmono/Radar Malang)
TANGKAL BANJIR: Salah satu ekskavator mulai beroperasi aliran Sungai Amprong di wilayah Kelurahan Madyopuro, kemarin (14/9). (Darmono/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Usulan penanganan banjir Sungai Amprong di sepanjang Kelurahan Madyopuro akhirnya disetujui.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas bakal melakukan pengerukan sedimentasi sepanjang 1,3 kilometer. Selain itu ada dua program lainnya yang disiapkan. 

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin, tampak dua ekskavator telah tiba di lokasi. Tepatnya di Jalan Ki Ageng Gribig Gang 5.

Alat berat itu belum melakukan pengerukan ke dasar sungai. Pengerjaan yang dilakukan kemarin masih menyiapkan lahan kosong untuk mempermudah pengangkutan sedimen.

Camat Kedungkandang Fahmi Fauzan menyampaikan, normalisasi itu merupakan pengajuan dari Kelurahan Madyopuro. Alasannya pada 2024 terjadi banjir besar di wilayah tersebut. Kemudian banjir kembali terulang pada akhir 2025.

”Kami terus berkomunikasi dengan BBWS sejak adanya banjir. Pengajuan akhirnya disetujui, dimulai dengan pengiriman alat berat hari ini,” ujarnya. Fahmi menerangkan, pengerukan sedimentasi bakal dimulai dari Gang 5 tersebut, kemudian mengarah ke selatan. 

Diperkirakan normalisasi itu akan berakhir di Sungai Rolak, Kelurahan Kedungkandang. Sementara ini masih belum diketahui durasi pengerukan Sungai Amprong. ”Besok (Selasa) kami rapat koordinasi lagi untuk mengetahui hal yang lebih teknis. Durasi pengerjaan hingga personel yang dilibatkan,” tutur Fauzan.

Selain pengerukan, penanganan lainnya dilakukan dengan menertibkan urukan luar di sempadan Sungai Amprong. Di lokasi kemarin, memang terlihat banyak tumpukan sampah berada di bibir sungai tersebut.

Jika terkena angin, sampah tersebut berpotensi jatuh ke sungai. Sampah-sampah itu bisa membentuk sedimen baru atau menghambat aliran sungai. 

”Besok kami sekaligus memberikan sosialisasi kepada warga jangan lagi membuat tumpukan sampah liar di dekat sungai,” tegasnya. Tak hanya melarang, pemkot bakal mencarikan solusi pengganti untuk pembuangan sampah. Sehingga warga tak lagi membuat urukan di bibir sungai. 

Penanganan terakhir yang dilakukan yakni pembangunan plengsengan atau bronjong. Total pengerjaan sepanjang 80 meter. Di Gang Mirej 60 meter dan Gang 5 Ki Ageng Gribig sepanjang 20 meter. 

Sementara itu, Surya, Staff BBWS yang berada di lokasi belum bisa menjelaskan detail tentang rencana normalisasi Sungai Amprong. Dia menyebut bahwa pernyataan bakal diberikan setelah rapat koordinasi lanjutan hari ini. (adk/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
madyopuro Sungai Amprong BBWS Brantas normalisasi sungai