MALANG KOTA, RADAR MALANG - Event job fair kembali digelar Pemkot Malang. Tahun ini, total tersedia 1.967 lowongan pekerjaan dari 50 perusahaan.
Event itu dilaksanakan selama dua hari. Mulai kemarin (16/9) dan hari ini (17/9) di GOR Ken Arok, Kecamatan Kedungkandang.
Untuk diketahui, pada 2025 lalu, event job fair yang digelar Pemkot Malang menghadirkan 2.500 lowongan pekerjaan. Dengan jumlah peserta mencapai 4.000 orang. Lokasinya sama, di GOR Ken Arok.
Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja-PMPTSP Sugeng Prastowo mengatakan, peserta hingga pagi kemarin mencapai 3.480 orang. Kemungkinan jumlah itu akan terus bertambah.
Diperkirakan sampai 5 ribu atau 6 ribu peserta. ”Nanti tambahan pencari kerja biasanya mendaftar secara online, kemungkinan besok (hari ini) lebih banyak,” ujarnya.
Untuk menjaga agar tidak terjadi penumpukan, disnaker membagi dalam dua sesi setiap harinya. Sehingga sirkulasi pencari kerja di dalam GOR tetap aman dan tidak sampai berdesakan.
”Total 50 perusahaan itu tidak hanya dari Kota Malang, ada dari luar kota tetapi masih Jawa Timur,” terang Sugeng.
Ditanya tentang serapan tenaga kerja di event job fair, Sugeng menuturkan bahwa hal itu bisa terpengaruh beberapa faktor. Paling utama tergantung preferensi para pencari kerja. Terkadang ada lowongan yang terbuka lebar, namun tidak ada yang berminat.
”Mungkin karena bukan sesuai bidangnya. Selain itu terkadang pencari kerja ingin pekerjaan yang jelas jenjang karier dan gajinya,” tutur Sugeng.
Jika melihat data dari tahun lalu, kemungkinan serapan tenaga kerja pada job fair 2026 mencapai 80 sampai 90 persen.
Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, saat ini tingkat pengangguran mencapai 5,97 persen. Angka itu mengalami penurunan dibanding tahun lalu, yang berkisar 6,10 persen.
Dengan digelarnya job fair, pemkot berharap event itu menjadi salah satu program yang bisa menurunkan angka pengangguran.
Wahyu menambahkan, masih tingginya angka pengangguran di Kota Malang disebabkan banyak pekerja informal yang tercatat belum memiliki pekerjaan. Contohnya content creator maupun warga yang bekerja di sektor ekonomi kreatif (ekraf).
”Seperti IT dan ekraf sebenarnya mereka memiliki pekerjaan dan pendapatan. Namun dalam pendataan masih dicatat sebagai pengangguran,” terangnya.
Di Kota Malang, total ada 17 subsektor ekraf yang tumbuh. Jika diestimasi, jumlah pekerja ekraf bisa mencapai ribuan orang. Ke depan, lanjut Wahyu, ekraf seharusnya dimasukkan menjadi jenis pekerjaan. Karena sektor tersebut telah menghasilkan pendapatan bagi pekerja. (adk/by)
Editor : Bayu Mulya Putra