MALANG KOTA, RADAR MALANG - Program angkutan pelajar gratis hampir berjalan tiga pekan. Sampai kemarin (17/9), belum semua kebutuhan armadanya terpenuhi. Setidaknya ada dua problem yang melatarbelakangi.
Yang pertama karena sopir belum memenuhi syarat. Berikutnya berkaitan dengan kelayakan kendaraan. Untuk diketahui, kebutuhan armada angkutan pelajar Kota Malang mencapai 96 kendaraan. Hingga kemarin masih ada kekurangan 30 armada.
Operator angkutan pelajar Sekretaris Koperasi AL Setia Kawan Bambang Soenarjo menuturkan, sampai kemarin belum ada laporan tentang penambahan armada baru. Jumlah kendaraan yang beroperasi masih sama, yaitu 66 kendaraan.
”Kalau ada tambahan kendaraan pasti ada laporan. Salah satunya ada pemasangan GPS,” terangnya. Meski belum ada tambahan, dia memastikan program angkutan pelajar masih bisa berjalan normal. Hanya saja, ada beberapa rute yang jumlah penumpangnya hampir overload.
Contohnya rute menuju sekolah di kawasan Alun-Alun Tugu. Di jalur itu, satu angkot bisa mengangkut 9 sampai 10 pelajar. Untuk kapasitas maksimal angkot sendiri mencapai 12 orang. ”Kami tidak menggunakan kapasitas maksimal untuk kenyamanan pelajar. Agar tidak berdesakan,” jelasnya.
Harianto, Bendahara Koperasi AL Setia Kawan menambahkan, sopir angkut pelajar tambahan tidak bisa langsung beroperasi. Mereka harus mengikuti proses administrasi. Salah satunya teken kontrak seperti yang dilakukan 66 sopir sebelumnya.
Dalam pelaksanaan kontrak itu, mereka harus memenuhi seluruh persyaratan. Seperti lengkap SIM dan STNK. Tidak menunggak pajak kendaraan, hingga lolos uji kendaraan. ”Ada 10 kendaraan yang disiapkan untuk melaksanakan kontrak kedua,” tuturnya.
Sebanyak 10 kendaraan itu mayoritas masih mengurus pembayaran pajak. Kemudian beberapa lainnya juga perlu melaksanakan uji kendaraan. ”Selama belum memenuhi syarat, jumlah kendaraan yang beroperasi masih sama seperti sebelumnya,” terang pria yang akrab disapa Bingbing itu.
Koperasi belum bisa menentukan target pemenuhan 96 kendaraan. Sebab itu tergantung dengan kemampuan sopir dalam memenuhi persyaratan. Jika dipaksakan, bakal memberikan risiko hukum ketika dilakukan audit oleh pihak eksternal.
Di tempat lain, anggota Komisi C DPRD Kota Malang Arief Wahyudi menuturkan, jumlah 66 armada itu masih jauh dari ideal. Jika dihitung, kemungkinan mereka hanya bisa mengangkut sekitar 700 pelajar setiap harinya.
Jumlah itu masih jauh dibanding dengan jumlah pelajar di Kota Malang yang mencapai puluhan ribu. Untuk itu, dewan mengusulkan jika memungkinkan, jumlah armada harus ditambah. Bahkan lebih dari 96 kendaraan.
”Kalau mau mengurangi kendaraan pribadi jangan setengah-setengah. Sekarang ini menurut saya dampaknya belum terlalu besar,” tegas Arief. Legislatif bakal melakukan evaluasi besar setelah satu bulan operasional program tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang R Widjaja Saleh Putra menyebut ada berbagai faktor yang membuat angkot pelajar belum beroperasi secara maksimal. ”Antara lain karena administrasi yang mati seperti STNK dan KPS,” kata dia.
Untuk itu, pihaknya masih menunggu kesiapan pengemudi angkot lain. Ada juga pengemudi yang merasa sudah cukup dengan pendapatan saat mengaspal di trayek sendiri. Salah satunya yakni trayek AMG.
Jika sudah demikian, pemkot tidak memaksa. ”Kalau sudah merasa oke ya tidak apa-apa karena itu pilihan,” sambung Jaya. Dengan demikian, pihaknya bakal mengoptimalkan 66 armada yang ada dulu.
”Kalau pun ditambah mungkin lima armada. Jadi sebanyak 71 armada dulu. Namun secara bertahap akan ditambah sehingga ada 96 armada yang beroperasi,” tambah dia.
Sembari mempersiapkan armada yang belum beroperasi, pemkot bersama koperasi bakal mengevaluasi program angkot pelajar. Terutama jika ada keluhan-keluhan dari masyarakat. (adk/mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra