MALANG – Kawasan rumah yang prospektif di Malang tidak selalu berada di pusat kota atau memiliki harga tinggi. Bagi calon pembeli, prospek sebuah kawasan perlu dilihat dari akses, aktivitas ekonomi, perkembangan lingkungan, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan jangka panjang.
Pertimbangan tersebut semakin relevan dengan pertumbuhan ekonomi Kota Malang. Berdasarkan data 2025, ekonomi Kota Malang tumbuh 5,92 persen, meningkat dibandingkan 5,41 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 7,23 persen, yang menunjukkan aktivitas investasi dan pembangunan masih bergerak.
Di tengah kondisi daya beli yang membuat konsumen semakin selektif, kebutuhan terhadap hunian tetap ada. Karena itu, calon pembeli tidak cukup hanya melihat harga dan lokasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan kemudahan akses serta fasilitas di sekitar kawasan.
Akses menuju pusat aktivitas menjadi salah satu indikator penting. Rumah yang berada di luar pusat kota tetap dapat menjadi pilihan apabila memiliki jalur yang mudah menuju tempat kerja, pusat perdagangan, fasilitas pendidikan, dan layanan publik.
Selain akses, aktivitas ekonomi di sekitar kawasan juga perlu diperhatikan. Keberadaan pusat perdagangan, jasa, pendidikan, serta kebutuhan harian dapat menjadi penunjang kenyamanan penghuni dalam jangka panjang.
Eko Wahyudi, Sales Tomoland, mengatakan konsumen kini semakin mempertimbangkan karakter kawasan sebelum membeli rumah.
“Kadang orang menganggap kawasan yang prospektif itu harus yang paling ramai atau paling dekat dengan pusat kota. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana kawasan itu dipakai sehari-hari. Aksesnya mudah atau tidak, lingkungan sekitarnya berkembang, kebutuhan harian dekat, dan rumahnya masih nyaman untuk jangka panjang,” ujar Eko.
Menurutnya, calon pembeli juga perlu memikirkan kebutuhan keluarga di masa mendatang.
“Rumah kan tidak dipakai satu atau dua tahun saja. Ada konsumen yang sekarang masih tinggal berdua, nanti mungkin kebutuhan keluarganya berubah. Jadi kami biasanya mengajak mereka melihat bukan cuma unit rumahnya, tapi juga kawasannya,” tambahnya.
Salah satu pilihan hunian yang ditawarkan Tomoland adalah Grand Avenue Sukun. Kawasan ini memiliki akses menuju pusat Kota Malang, termasuk kawasan Alun-Alun dan Kayutangan. Lokasinya juga menawarkan pemandangan Pegunungan Arjuna yang menjadi salah satu karakter lingkungan hunian.
Meski demikian, istilah kawasan prospektif tidak dapat dijadikan jaminan kenaikan harga properti. Perkembangan suatu wilayah dipengaruhi berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi, infrastruktur, permintaan pasar, dan perubahan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, calon pembeli disarankan melakukan survei langsung sebelum menentukan pilihan. Selain melihat kondisi bangunan, survei dapat dilakukan dengan memperhatikan waktu tempuh, akses kendaraan, fasilitas sekitar, serta kondisi lingkungan pada jam yang berbeda.
Perkembangan infrastruktur juga menjadi faktor yang patut diperhatikan. Di Kecamatan Sukun, sejumlah peningkatan infrastruktur jalan berlangsung pada 2026, termasuk rehabilitasi ruas Gadang-Bumiayu untuk mendukung akses masyarakat.
Dengan mempertimbangkan akses, aktivitas ekonomi, lingkungan, dan kebutuhan jangka panjang, calon pembeli dapat memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan kawasan hunian di Malang.
Untuk informasi mengenai properti Tomoland, ketersediaan unit, jadwal survei, maupun kunjungan show unit, masyarakat dapat menghubungi WhatsApp Tomoland di 0821-4212-5500. (aw)
Editor : Indra Andi