MALANG KOTA, RADAR MALANG - Sebanyak 176 pegawai Pemkot Malang sudah berkumpul di lantai dua Grha Purva Praja, Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, kemarin siang (2/10) sekitar pukul 13.30. Ada yang mengenakan setelan jas. Ada pula yang mengenakan batik.
Sejatinya, mereka semua diagendakan mengikuti pelantikan sebagai bagian dari proses mutasi. Selang 19 menit berikutnya, ada kabar yang menyebut bahwa proses pelantikan ditunda. ”Agendanya ditunda karena informasi dari ajudan, pak wali mendapat undangan dari Jakarta,” terang Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang R Dandung Djulharjanto.
Setelah ada kabar itu, semua pegawai pemkot yang diagendakan mengikuti pelantikan langsung balik kanan. Dandung menyebut bahwa undangan untuk wali kota berasal dari Sekretariat Presiden RI. ”Kalau dari secretariat tentunya urgent.
Tidak bisa diwakilkan atau ditunda, sehingga beliau langsung berangkat ke sana (Jakarta),” terang laki-laki yang juga menjabat sebagai Kepala DPUPRPKP Kota Malang itu.
Baca Juga: Disorot DPRD Kota Malang, Pelantikan 14 Pejabat Pemkot Malang Belum Sesuai Ekspektasi
Saat ditanya isi dari undangan Sekretariat Presiden RI, Dandung mengaku belum mendapat informasi. Sebab, kabar pemanggilan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat ke Jakarta disampaikan secara mendadak.
Terkait dengan agenda pelantikan berikutnya, dia belum bisa menyampaikan waktu.
Dia berharap, pelantikan bisa segera dilaksanakan. Terlebih, usulan mutasi dan pengisian jabatan di lingkungan Pemkot Malang sudah rampung. Usulan tersebut juga sudah disetujui Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Dandung menjelaskan, ada 176 pegawai yang rencananya dilantik. ”Mulai dari eselon 2 sampai eselon 4. Untuk perangkat daerahnya rata,” jelasnya. Namun dia enggan membeberkan sosok- sosok yang akan mengisi jabatan. Terutama jabatan utama. ”Ya coba dilihat nanti,” pungkasnya.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, rencana pengisian posisi itu cukup beragam. Ada kepala bagian (Kabag) dinas yang ditunjuk menjadi Camat. Ada pula kepala seksi (Kasi) yang digeser menjadi Lurah. Ada pula kabid yang digeser ke dinas lain. (mel/by)
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang