Terimbas Bus Trans Jatim, Pendapatan Sopir Angkot Disebut-sebut Turun hingga 80 Persen

Nabila Amelia • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 10:49 WIB
KEBERATAN: Sejumlah angkot memenuhi Alun-Alun Tugu untuk menolak rencana operasional Bus Trans Jatim Koridor II, 28 September lalu. (Darmono/Radar Malang)
KEBERATAN: Sejumlah angkot memenuhi Alun-Alun Tugu untuk menolak rencana operasional Bus Trans Jatim Koridor II, 28 September lalu. (Darmono/Radar Malang)

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Operasional Bus Trans Jatim koridor satu yang sudah berlangsung sejak 20 November 2025 masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah (PR). Terutama di kalangan sopir angkot. Mereka mengaku belum menerima manfaat dari kehadiran Bus Trans Jatim itu.

 

Salah satunya yakni para sopir angkot di jalur GL (Terminal Hamid Rusdi sampai Terminal Landungsari). Menurut Karyanto, seorang sopir di jalur GL, belum semua sopir mendapat informasi secara utuh terkait operasional Bus Trans Jatim.

 

”Sebelum Bus Trans Jatim jalan, informasi yang kami dapat simpang siur. Dari ketua jalur sendiri tidak mengajak anggota untuk berkumpul membahas hasil koordinasi Bus Trans Jatim,” ungkap dia. Karena informasi yang diperoleh para sopir angkot tidak utuh, banyak yang akhirnya kaget dengan pola operasional Bus Trans Jatim.

 Baca Juga: Dishub Temui Perwakilan Sopir Angkutan, Penolakan Bus Trans Jatim Koridor Dua Tetap Menggema

Misalnya saja dari aspek titik henti berupa rambu atau shelter. Karyanto menilai, jumlah titik henti Bus Trans Jatim terlalu banyak. ”Waktu awal lihat saya kaget. Lho kok titik hentinya banyak? Setiap berapa kilometer ada,” sambung laki-laki yang sudah menjadi sopir angkot sejak 1993 tersebut.

 

Karyanto memberi contoh titik henti bus yang memberi dampak signifikan terhadap sopir jalur GL. Seperti di sekitar Mal Olympic Garden (MOG). Selain itu juga titik henti di Jalan Bandung, Jalan Veteran, kawasan Sumbersari (dekat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), sepanjang kawasan Dinoyo (depan Unisma), hingga Terminal Landungsari.

 

”Kalau seperti itu, kesempatan saya mengangkut penumpang di mana,?” tanya Karyanto. Sebelum Bus Trans Jatim beroperasi, dia menyebut para sopir jalur GL bisa mengangkut penumpang dari kawasan Alun-Alun Merdeka. Selain itu juga kawasan di lingkar kampus.

 

Namun sejak adanya Bus Trans Jatim, dia hanya mendapat sebagian penumpang di kawasan Janti, depan Pasar Kasin, Sardo Swalayan, dan Pasar Dinoyo. Terkadang juga tidak mendapat penumpang sama sekali.

 

Karena minim penumpang yang terangkut, pendapatannya pun berkurang drastis hingga 80 persen. Padahal, sebelum pandemi, jika dia berangkat sore hari untuk pergi-pulang (PP) bisa memperoleh pendapatan bersih senilai Rp 100 ribu.

 

Kondisi serupa tidak hanya dirasakan Karyanto. Terkadang, dia saling berbagi penumpang dengan rekan-rekan sesama sopir. Terutama yang berada di jalur GL. Sebab, saat ini masih ada sekitar 50 sampai 70 sopir yang aktif.

 

Agar para sopir angkot tetap bisa mengangkut penumpang, pemerintah daerah sebenarnya sudah menyiapkan kompensasi. Baik dari Dishub Kota Malang maupun Dishub Provinsi Jatim. Kompensasi yang sekarang sudah terealisasi adalah angkot pelajar.

 Baca Juga: Sopir Angkot Pelajar Gratis di Kota Malang Bisa Terima Rp 315 Ribu Per Pekan

”Namun, informasi yang beredar simpang siur. Awalnya ada informasi bahwa yang diikutkan harus kendaraan yang berada di bawah naungan koperasi, tapi selanjutnya selama kendaraan laik jalan tidak apa-apa,” tutur Karyanto. Karena informasi yang simpang siur, dia sempat kebingungan

 

 

Editor : Andika Satria Perdana
sopir angkot kota malang Trans Jatim Malang Raya pendapatan menurun