Punya Rumah di Usia Muda Masih Realistis? Ini yang Perlu Dihitung

Indra Andi • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 19:10 WIB
Ilustrasi Grand Avenue Sukun
Ilustrasi Grand Avenue Sukun

 

Malang – Memiliki rumah di usia muda masih menjadi impian banyak pekerja dan pasangan muda. Namun, keinginan tersebut perlu diimbangi dengan perhitungan keuangan yang matang, mulai dari kondisi arus kas, dana awal, kemampuan membayar cicilan, hingga biaya setelah menempati rumah.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, kelompok usia 26–35 tahun memiliki indeks literasi keuangan 78,70 persen dan inklusi keuangan 96,27 persen. Kelompok tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Data tersebut menunjukkan semakin pentingnya kemampuan mengelola keuangan, termasuk ketika merencanakan pembelian rumah pertama.

Karena itu, cara agar punya rumah di usia muda sebaiknya dimulai dengan memahami kondisi keuangan pribadi. Calon pembeli perlu menghitung pemasukan, pengeluaran rutin, kewajiban yang masih berjalan, serta dana yang dapat dialokasikan untuk cicilan rumah.

Besarnya cicilan juga bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Calon pembeli perlu memastikan angsuran tetap menyisakan ruang untuk kebutuhan bulanan, dana darurat, tabungan, dan pengeluaran tidak terduga.

Dana awal juga perlu disiapkan sejak jauh hari. Selain uang muka, calon pembeli perlu memperhitungkan biaya pindahan, furniture, perlengkapan rumah, dan kebutuhan lain setelah rumah mulai ditempati. Sebaiknya, dana untuk membeli rumah tidak menghabiskan seluruh tabungan dan dana darurat.

Dari sisi pembiayaan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama masyarakat. Bank Indonesia mencatat, pada triwulan II 2026, sebanyak 70,05 persen pembelian rumah di pasar properti residensial primer secara nasional menggunakan KPR.

Meski demikian, calon pembeli perlu memahami uang muka, tenor, bunga, serta kewajiban selama masa pembiayaan. Membandingkan beberapa simulasi KPR dapat membantu menentukan cicilan yang sesuai dengan kemampuan keuangan.

Menurut Iluk Kristina, Sales Tomoland, sebagian pekerja muda sebenarnya sudah memiliki keinginan membeli rumah, tetapi belum mengetahui kemampuan membeli yang realistis.

"Kadang yang membuat calon pembeli muda ragu bukan karena mereka sama sekali belum mampu, tetapi karena belum pernah menghitung secara detail. Setelah dilihat penghasilan, kebutuhan rutin, dana yang tersedia, dan cicilan yang masih nyaman, biasanya pilihan rumahnya mulai terlihat lebih jelas," ujar Iluk.

Selain kemampuan finansial, lokasi juga perlu masuk dalam perhitungan. Rumah dengan cicilan terjangkau dapat menjadi beban tambahan apabila lokasinya membuat penghuni mengeluarkan biaya transportasi lebih besar atau membutuhkan waktu perjalanan yang panjang setiap hari.

Tujuan pembelian juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Pekerja muda mungkin belum membutuhkan rumah berukuran besar, sementara pasangan atau keluarga muda dapat mempertimbangkan hunian yang memiliki ruang lebih fleksibel untuk kebutuhan beberapa tahun ke depan.

Salah satu proyek Tomoland yang menyasar segmen rumah pertama, keluarga muda, dan pekerja adalah Grand Avenue Sukun. Proyek ini menawarkan pilihan cicilan mulai Rp3 jutaan, akses menuju pusat Kota Malang, serta view Pegunungan Arjuna.

Nominal cicilan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan tipe unit, uang muka, tenor, dan skema pembayaran yang dipilih. Karena itu, calon pembeli sebaiknya melakukan simulasi sebelum mengambil keputusan.

Iluk juga menyarankan calon pembeli melakukan survei lokasi secara langsung setelah perhitungan finansial dinilai sesuai.

Ketika datang langsung, calon konsumen biasanya mulai melihat hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir. Mereka bisa membayangkan akses harian, ukuran ruang, lingkungan, sampai kebutuhan beberapa tahun ke depan. Jadi keputusan membeli tidak hanya berdasarkan angka, tetapi juga apakah rumahnya nyaman untuk benar-benar dijalani," tambahnya.

Bagi pembeli muda, kebutuhan furniture dan penataan rumah juga dapat dilakukan secara bertahap. Cara ini membuat dana setelah transaksi tetap memiliki ruang untuk kebutuhan penting lainnya.

Pada akhirnya, tidak ada batas usia atau nominal pendapatan tertentu yang otomatis membuat seseorang siap membeli rumah. Kesiapan lebih banyak ditentukan oleh kondisi keuangan, kebutuhan, lokasi, serta kemampuan menjaga pengeluaran setelah pembelian.

Semakin awal kondisi finansial dihitung, semakin banyak waktu yang tersedia untuk menyiapkan dana, memperbaiki pola pengeluaran, membandingkan pilihan, dan menentukan rumah yang sesuai kebutuhan.

Untuk informasi mengenai pilihan properti Tomoland, ketersediaan unit, simulasi pembayaran, serta jadwal survei atau kunjungan show unit, masyarakat dapat menghubungi tim Tomoland melalui WhatsApp 0821-4212-5500. (aw)

Editor : Indra Andi
Grand Avenue Sukun rumah hunian tomoland Kredit Pemilikan Rumah