MALANG KOTA, RADAR MALANG - Cuaca di Malang Raya dalam beberapa waktu terakhir terasa lebih panas. Kondisi tersebut disebabkan atmosfer di wilayah Jawa yang relatif kering. Diperkirakan, atmosfer yang kering itu berlangsung sampai 8 Oktober mendatang.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang Linda Fitrotul menjelaskan, kondisi atmosfer yang kering dan minimnya tutupan awan membuat suhu udara lebih panas. Khususnya pada siang hari. ”Kondisi atmosfer yang kering sudah berlangsung sejak 2 sampai 8 Oktober,” ungkap Linda.
Kondisi lainnya yang memengaruhi yakni posisi gerak semu matahari yang berada di wilayah selatan ekuator atau garis khatulistiwa. Dengan demikian, penerimaan radiasi matahari menjadi kuat di wilayah Jawa, termasuk Malang Raya.
Kondisi lain yang sedang terjadi sekarang yakni El Nino yang masih berlangsung sangat kuat. Selain itu ada Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang juga berkontribusi terhadap berkurangnya suplai uap air ke wilayah Indonesia. Hal tersebut membuat pembentukan awan dan hujan terbatas.
Untuk sekarang, menurut Linda, masyarakat masih harus waspada terhadap panas menyengat di masa peralihan (pancaroba). ”Namun penurunan intensitas panas akan terjadi secara bertahap seiring meningkatnya pertumbuhan awan dan peluang hujan,” tutur dia.
Terpisah, Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang Pandu Rizki Darmawan menyampaikan, kondisi cuaca yang kering harus diwaspadai.
Sebab itu rawan memicu kejadian seperti kebakaran. Terbukti dengan adanya peningkatan kejadian kebakaran selama beberapa waktu terakhir.
”Pada September ini kami mencatat 66 kejadian kebakaran,” ungkap Pandu. Angka kejadian kebakaran pada September paling tinggi dibanding Juli dan Agustus. Peningkatan jumlah kejadiannya mencapai kali lipat.
Dari dokumentasi pemberitaan Jawa Pos Radar Malang, total ada 40 kasus kebakaran mulai 1 sampai 23 September lalu. Jumlah itu lebih banyak ketimbang bulan-bulan sebelumnya.
Pada Juni lalu, Damkar Kota Malang mencatat ada 7 kasus kebakaran. Sementara Juli lalu ada 22 kasus kebakaran dan Agustus ada 28 kasus. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra