MALANG KOTA, RADAR MALANG - Pengolahan sampah di Kota Malang tak hanya dilirik Bank Dunia lewat Local Service Delivery improvement Program (LSDP).
Belum lama ini, pemkot berkomunikasi dengan sebuah badan usaha milik Pemerintah Swedia. Rencananya akan ada kerja sama pengolahan sampah.
Rencana kerja sama pengolahan sampah dengan perusahaan swasta asal Swedia itu disampaikan Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. ”Bentuk kerja samanya kemungkinan untuk mengelola sampah yang tersisa di TPA Supit Urang, tepatnya di area sanitary landfill,” kata dia.
Menurut Raymond, sampah lama yang tertimbun di sanitary landfill cukup banyak. Jumlahnya mencapai 4 juta meter kubik. Raymond melanjutkan, untuk pendekatan pengolahan sampah nanti berupa mesin penghancur.
”Jadi nanti sampahnya dimasukkan ke mesin. Bisa hancur 100 persen,” sambung laki-laki yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Dinas Koperasi dan Perindustrian (Diskopindag) Kota Malang tersebut.
Kendati demikian, pembahasan mengenai pengolahan sampah bersama perusahaan swasta di Swedia itu masih tahap awal. ”Jadi masih dibahas lewat Zoom, tapi kalau dari Kota Malang tertarik,” ucap Raymond.
Ketertarikan timbul karena dalam rencana kerja sama itu Kota Malang tidak perlu mengeluarkan anggaran.
Kota Malang hanya perlu menyiapkan TPA Supit Urang sebagai lokasi dan timbunan sampah. Raymond menegaskan, kerja sama pengolahan sampah harus dilakukan. Itu karena dalam 2,5 tahun mendatang, TPA Supit Urang diprediksi overload.
Langkah lain yang bisa dilakukan yakni dengan perluasan TPA Supit Urang. Saat ini, luas TPA Supit Urang 32 hektare. ”Sementara dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), TPA Supit Urang masih bisa dimaksimalkan hingga 50 hektare,” sebut Raymond.
Langkah pengolahan sampah lain yang dalam waktu dekat dilakukan melalui LSDP. Yakni pengolahan sampah padat terpadu dari hulu ke hilir. Anggaran untuk LSDP di Kota Malang mencapai Rp 157 miliar.
”Namun tidak langsung dilaksanakan dalam setahun. Melainkan secara bertahap selama lima tahun,” tutur Raymond. Program LSDP nantinya dimulai tahun 2027.
Sebagian dana yang berjumlah Rp 31 miliar digunakan untuk perbaikan sarana prasarana di 5 TPS 3R. Satu lagi untuk pembangunan TPS 3R di Kelurahan Purwantoro.
”Ke depan, keberadaan TPS 3R di Kelurahan Purwantoro untuk mengganti TPS di Sulfat,” ucap Raymond. Sebab kondisi TPS di sana sudah tidak layak. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra