MALANG KOTA, RADAR MALANG - Setiap tanggal 15 Oktober, dunia memperingati Hari Tongkat Putih. Momentum itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terkait pentingnya aksesibilitas terhadap penyandang disabilitas netra.
Sehubungan dengan peringatan Hari Tongkat Putih itu, sebanyak 38 disabilitas netra mengunjungi Perpustakaan Kota Malang, kemarin (15/10).
Puluhan disabilitas netra yang berkunjung ke perpustakaan berasal dari Komunitas Belajar Alquran Braille. Menurut Ketua Yayasan Hikmah Mata Hati yang menaungi Komunitas Belajar Alquran Braille yakni Citra Damayanti Agus, kunjungan ke perpustakaan merupakan kali pertama.
”Yang berpartisipasi dalam kunjungan ini dari anak-anak sampai orang dewasa,” kata Citra. Dia melanjutkan, kunjungan bertujuan agar para anggota komunitas mengenal fasilitas di Perpustakaan Kota Malang.
Secara fasilitas, Citra menilai bahwa Perpustakaan Kota Malang dinilai sudah mendukung para disabilitas.
Namun pihaknya berharap agar ke depan fasilitas di perpustakaan semakin ditambah untuk mendukung kebutuhan pengunjung disabilitas.
”Misalnya saja kalau untuk disabilitas netra ditambah kamus bahasa asing. Lalu text book yang dibutuhkan para pelajar maupun mahasiswa,” sebut Citra.
Kebutuhan menambah buku dibutuhkan karena Kota Malang memiliki banyak pelajar maupun mahasiswa. Termasuk yang memiliki kondisi disabilitas.
Selain mengenalkan perpustakaan, Citra juga mengajak para anggota komunitas untuk merasakan fasilitas publik lainnya.
Seperti menggunakan Bus Trans Jatim dan berkunjung ke Pasar Among Tani di Kota Batu. Sementara itu, pengelola pustaka di Perpustakaan Kota Malang yang bernama Andi Eko mengungkapkan, animo para disabilitas yang berkunjung cukup bagus.
Selain Komunitas Belajar Alquran Braille, ada komunitas lain yang rutin berkunjung. ”Kalau yang rutin itu dari UPT Rehabilitasi Bina Netra (RSBN). Biasanya mereka berkunjung ke perpustakaan sekali dalam seminggu dengan membawa 9 sampai 13 orang,” terang Andi.
Kemudian ada dari Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Karena animo yang bagus, perpustakaan terus mendukung dengan cara memberikan layanan.
Misalnya saja layanan pojok braille di lantai 2, 1.164 eksemplar koleksi buku braille, 264 keping CD untuk audio book, hingga guiding block.
”Untuk penambahan koleksi buku, kami masih berupaya berkomunikasi dengan Kementerian Sosial,” tegas Andi. Itu karena penerbit braille di Indonesia terbatas. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra