Pacu Transformasi Pendidikan dan Riset di Lingkungan Kampus

Antik Widaya Gita Asmara • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 15:22 WIB
FOKUS: Para sivitas akademika menyimak pidato dari Rektor Universitas Negeri Malang Prof Hariyono dalam Dies Natalis Ke-72 UM, kemarin.
FOKUS: Para sivitas akademika menyimak pidato dari Rektor Universitas Negeri Malang Prof Hariyono dalam Dies Natalis Ke-72 UM, kemarin.

MALANG – Dalam pidatonya, Rektor UM Hariyono menegaskan, tema tersebut menjadi arah transformasi kampus setelah UM berkembang dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan menjadi universitas komprehensif dan berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Menurutnya, transformasi UM tidak cukup berhenti pada perubahan kelembagaan. Kampus harus semakin mandiri, unggul, adaptif, bereputasi, serta mampu memberikan kontribusi hingga tingkat global.

Dari sisi sumber daya manusia, UM kini memiliki 164 guru besar dan 579 dosen berkualifikasi doktor. Penguatan tersebut jadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas akademik sekaligus menyiapkan generasi pemimpin keilmuan.

Baca Juga: Demi Meningkatkan Mutu Pendidikan Dosen Ma Chung Berbagi Praktik Asesmen Pembelajaran di Hari Guru

Saat ini, UM siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja. Salah satunya melalui pengembangan pendidikan yang emansipatoris. Pendidikan tidak hanya diarahkan agar mahasiswa menguasai keterampilan teknis sesuai bidang studi, tetapi juga memiliki keterampilan yang lebih luas.

“Yang kita ubah bukan sekadar pengetahuannya itu sendiri, tapi bagaimana kami para dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa berani juga mengubah mindset kita, cara pandang kita,” katanya kemarin (18/10).

Perubahan paradigma dinilai penting karena kebutuhan masyarakat dan dunia kerja terus bergerak. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Transformasi tersebut juga terlihat dari perkembangan akademik UM. Jumlah program studi meningkat dari 114 pada 2023 menjadi 154 pada 2026. Sebanyak 105 program studi telah meraih akreditasi Unggul/A, sedangkan program studi dengan akreditasi internasional meningkat menjadi 47.

Di bidang riset, dosen UM menghasilkan 6.607 publikasi sepanjang 2021-2025. Namun, capaian tersebut tidak ingin berhenti sebagai ukuran kinerja. Prof Hariyono menegaskan, riset UM harus bergerak menuju keunggulan riset.

Arah tersebut kemudian diterjemahkan melalui lima kebijakan prioritas UM pada 2027. Yakni Institutional Excellence, Research Excellence, Teaching and Learning Excellence, Global Talent, serta Financial Sustainability. Kelimanya diarahkan untuk memperkuat tata kelola, riset, inovasi pembelajaran, talenta mahasiswa, hingga kemandirian keuangan kampus.

Dengan arah tersebut, Dies Natalis UM ke-72 menjadi refleksi dan pijakan untuk memperkuat peran UM sebagai perguruan tinggi yang sehat, terus bergerak, menghasilkan dampak, dan mampu menjaga keberlanjutan kontribusinya bagi masyarakat.

Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) H. Fauzan saat menghadiri Dies Natalis UM ke-72 mendukung misi UM tersebut. Fauzan menilai, perguruan tinggi perlu mengubah paradigma dalam tata kelola pendidikan tinggi. Kampus harus diposisikan sebagai arsitektur pembangunan yang ikut menjawab berbagai persoalan di masyarakat.

“Artinya, perguruan tinggi yang bertugas mencipta SDM unggul sebagai pusat inovasi, pusat teknologi, semuanya itu harus memiliki kebermanfaatan,” ujarnya.

Keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya lulusan, publikasi, maupun capaian akademik. Hasil pendidikan tinggi harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca Juga: Universitas Negeri Malang Mengukuhkan Empat Guru Besar, Perkuat Kepakaran Bidang Pendidikan, Desain, dan Teknologi

Editor : Aditya N. Rian
Prof Hariyono Riset Perguruan Tinggi Universitas Negeri Malang Dies Natalis UM ptnbh