Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hidup Lebih Tenang, Kerap Menangis Saat Dengar Takbir

Shuvia Rahma • Jumat, 7 Mei 2021 | 15:30 WIB
Rieky Prasetyo (Galih RP / Radar Malang)
Rieky Prasetyo (Galih RP / Radar Malang)
Hidup Ida Ayu jauh lebih tenteram dari sebelumnya. Ini setelah dia menyatakan masuk Islam pada 2002 silam. Dia merasa ingin terus dekat kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah.

Ida Ayu tampak santai. Dia duduk-duduk dengan tenang di sofa ruang tamu rumahnya. Sosoknya terlihat begitu ramah. Dia juga tidak canggung berkisah perjalanannya sampai menjadi seorang mualaf. Menurut ibu satu anak itu, kisahnya menjadi seorang muslimah tidak melalui jalan terjal. Semuanya berjalan secara natural. Juga tidak ada penolakan serius dari siapa pun.

Ibaratnya sebuah air yang mengalir dari hulu ke hilir. ”Rasanya (masuk Islam) seperti ketidaksengajaan yang akhirnya berujung nyata,” papar perempuan berusia 45 tahun itu.

Awal mula mengenal Islam saat dia duduk di bangku SMA. Kala itu, menurutnya, dia mengenal agama yang saat ini diimaninya tersebut lantaran di kelas ikut pelajaran agama Islam. Kondisi tersebut terjadi karena di sekolahnya tidak ada guru agama non muslim.

Karena tidak seagama, saat ada mata pelajaran agama Islam, dia cuek saja. Tidak memberi perhatian. Namun, entah mengapa, lama-lama ada rasa tertarik pada Islam. Banyak konsep dalam Islam yang kala itu disebutnya menarik. Seperti semua hal ada aturannya. Dia pun penasaran ingin mengenal lebih jauh tentang Islam.

”Semakin sering saya mendengarkan apa yang disampaikan guru agama Islam, saya ingin terus ikut belajar,” jelas perempuan kelahiran Lampung itu.

Namun, hal-hal yang ditemukan saat SMA tidak langsung membuatnya serta-merta menjadi mualaf. Ida harus menunggu beberapa tahun sebelum akhirnya pada 2002 lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat. Menurutnya, ketika itu kesibukan kerja di Jakarta membuatnya belum memutuskan masuk Islam.

”Tapi meski belum menjadi mualaf, saya sedikit-sedikit tetap mengikuti perkembangan tentang Islam,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Allah SWT rupanya mempunyai cara tersendiri untuk membuat Ida akhirnya menjadi mualaf. Adalah lewat suaminya saat ini yang seorang muslim. Dia tidak ingin di rumah tangganya ada dua agama yang berbeda. Akhirnya Ida dengan tulus ikhlas masuk Islam.

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dan terus memperdalam Islam, ada banyak hal menakjubkan yang dirasakannya. Salah satunya adalah langkahnya selalu dipermudah oleh Sang Pencipta. Persoalan-persoalan yang dihadapinya tidak pernah sekali pun tak diberikan jalan keluar oleh Allah SWT.

”Namanya hidup pasti ada cobaan. Namun, ketika kita berusaha mendekat dengan Allah SWT, segala sesuatu seperti dibuat ringan. Hati ini juga merasa tetap tenang,” terang alumnus SMA Wiratama Lampung itu.

Lebih lanjut, keajaiban lain yang dirasakannya adalah dorongan memperdalam agama seperti diperkuat. Ida mengaku kalau langkah kakinya selalu dibuat enteng ketika mengikuti kajian-kajian di suatu tempat. ”Alam seperti mendukung segala aktivitas yang tujuannya untuk Allah SWT,” ucapnya.

Di mana hatinya selalu dibuat rindu belajar apabila mengetahui ada kajian-kajian di sekitar tempatnya tinggal. Menurutnya, semakin memperdalam tentang agama membuatnya merasakan kenyamanan batin yang luar biasa.

Ramadan disebutnya juga menjadi sebuah bulan yang berbeda sejak dia masuk Islam. Dorongan untuk menjalankan ibadah diakuinya semakin besar. Suara azan bagi dia seperti menggetarkan hatinya untuk segera menunaikan ibadah.

”Rasanya ingin selalu menambah ibadah dan tidak ingin bulan suci lewat begitu saja,” paparnya.

Karena itu, Ida mengaku acap kali merasa sedih ketika Ramadan mendekati hari-hari terakhir. Malam takbir disebutnya juga jadi momen yang sangat spesial dalam hidupnya. Lantunan menyebut asma Allah SWT, menurutnya, selalu mampu membuatnya bergetar.

Tidak hanya itu, dia jadi teringat dosa-dosanya. ”Ketika ada suara takbir saya bisa sampai menangis mengingat orang tua dan belum sempurnanya ibadah saya,” tuturnya. Baginya, meski berbeda agama, ikatan batin dengan ayah dan ibunya tidak pernah putus. Orang tuanya juga memberi support. (*/c1/abm/rmc)
Editor : Shuvia Rahma
#kisah mualaf malang