MALANG KOTA - Pemkot Malang mempunyai tempat penampungan untuk gepeng, anjal, dan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang terjaring razia satpol PP.
Lokasinya di puncak bukit Buring, Tlogowaru,
Kedungkandang.
Banyak penghuni yang tidak betah dan serasa di penjara.
Bagaimana kondisinya?
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
BANGUNAN dua lantai di puncak perbukitan Buring dikelilingi pagar kawat berduri.
Tujuannya untuk menyulitkan penghuni yang ingin kabur.
Maklum, gedung berwarna kuning itu berisi gelandangan dan pengemis (gepeng) maupun anak jalanan (anjal) hasil razia satpol PP.
Terkadang berisi Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Mereka itu dikategorikan sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
Akses menuju Camp Assessment di kampung Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan
Kedungkandang tersebut tergolong sulit.
Apalagi jika Anda memakai mobil.
Selain ruas jalan sempit, sebagian belum diaspal, khususnya 500 meter sebelum lokasi.
Saat Jawa Pos Radar Malang mengunjungi camp atau shelter tersebut, sebagian besar kamar
kosong.
Dari total 30 kamar, hanya terisi enam kamar. Sebenarnya satpol PP berhasil menjaring banyak
gepeng, anjal, ODGJ, dan PSK.
Tapi mereka hanya tinggal sementara di shelter tersebut.
”Maksimal tujuh hari.
Setelah itu, antara dikembalikan ke keluarga atau justru dibawa ke UPT Rehabilitasi milik Dinsos Provinsi Jatim,” ucap Kadinsos-P3AP2KB Kota Malang Donny Sandito sembari mendampingi wartawan koran ini.
Sebelum medio 2018, gepeng, anjal, dan PSK yang terjaring razia di bawa ke UPT Tuna Wisma
Karya (TWK) di Sukun, Kota Malang.
Tapi karena semakin banyak PMKS yang terjaring razia, akhirnya dibangun lah fasilitas
tersebut.
Keberadaan mereka di gedung tersebut untuk asesmen awal rehabilitasi sosial.
Selama di shelter, mereka mendapat bimbingan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
Tujuannya agar mereka tidak mengulangi perbuatannya.
Karena suasana di puncak bukit dan dikelilingi Perkebunan dan pepohonan lebat, keadaan di
sana sepi dan dingin.
Warga sekitar menyebut kawasan tersebut angker.
Hal mistis yang berdampak pada penghuni pernah terjadi pada 2021 lalu.
Yakni salah seorang PSK kesurupan.
”Mungkin karena pikirannya kosong dan tidak betah, makanya dia kesurupan.
Tapi bisa diatasi dan tak lama setelah itu dia dibawa ke UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita (RSBKW) Kediri,” ujar Putri Bella, petugas pelayanan sosial Dinsos- P3AP2KB Kota Malang.
Pada suatu ketika ada satu kamar yang over kapasitas.
Sekitar dua tahun lalu, kurang lebih 50 anjal dan gepeng hasil razia gabungan Satpol PP
ditampung.
Dengan kamar terali besi dan kamar mandi disediakan satu tiap lantai, image Camp Dinsos
setara lembaga pemasyarakatan (lapas) pun muncul.
Stigma camp itu sebagai penjara PMKS pun muncul.
Meski setara penjara, empat penghuni tidak merasakan apa-apa.
Misalnya Mahendra Aji
Pamungkas alias Doweh, 39.
Pengemis asal Jombang itu masuk camp pada 19 Februari lalu.
Dia sudah 22 kali ditangkap Satpol PP dan dimasukkan camp tersebut.
Sempat akan dibawa ke UPT Rehabilitasi Provinsi, namun dia kabur dan kembali ke Malang.
Beberapa hari hidup di camp, Doweh makin kurus.
Dia lebih berotot, padahal sebelumnya gendut.
”Ya di sini olah raga terus.
Kadang bantu-bantu menenangkan ODGJ,” kata Doweh sambil terkekeh.
Sedangkan penghuni lain, Sugiono, 52 merasa tidak betah.
”Tetap enak di rumah saya di Sukun sana.
Di sini, paling saya belajar merangkai bunga yang diajarkan mas-mas di sini,” ucapnya.
Dia diamankan petugas karena memukul seorang Perempuan dengan gitar miliknya.
Meski tidak betah, suasana di camp yang sunyi membuatnya lebih tenang.
”Di sini saya minum obat juga lebih teratur,” tandas Sugiono. (*/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana