MALANG KOTA – Jaksa menghadirkan psikolog yang memeriksa RJP, bocah 4 tahun korban penganiayaan babysitter, ke Pengadilan Negeri Malang kemarin (24/6).
Psikolog bernama Sayekti Pribadiningtyas SPsi Mpd itu memaparkan kondisi sang bocah sempat mengalami stress akut.
Termasuk sulit melupakan peristiwa penganiayaan pada 28 Maret 2024.
Seperti diberitakan sebelumnya, RJP yang merupakan putri dari selebgram Aghnia Punjabi dianiaya oleh Indah Permata Sari, 27.
Selain luka fisik, RJP juga mengalami trauma. Takut kalau melihat sosok perempuan seperti Indah.
Sayekti memeriksa kondisi psikologis RJP empat hari setelah penganiayaan itu terjadi.
Pemeriksaan dilakukan di rumah keluarga korban.
Saat itu masih terlihat jelas luka memar di mata sebelah kiri korban.
Waktu itu Sayekti didampingi dua asisten yang masih muda.
Satu laki-laki dan satu perempuan.
”Terlihat sekali ketika didatangi asisten saya yang laki-laki, dia tidak defense. Begitu didatangi yang perempuan, dia merasa tidak nyaman,” terang psikolog klinis dan forensik itu.
Ketika asisten perempuan Sayekti mengajak bicara, RJP tampak bengong dan ketakutan.
Malah langsung meminta didampingi ayahnya.
Hal itu tidak terjadi ketika RJP diajak bicara asisten Sayekti yang laki-laki.
Penegasan dari bentuk tidak nyaman itu juga terlihat ketika korban ditanya tentang cita-citanya.
RJP menjawab mau jadi burung besar atau unicorn (kuda terbang bertanduk).
Jawaban itu menandakan RJP ingin cepat-cepat keluar dari rumah.
Sayekti menambahkan, berdasar keterangan ayah dan ibu korban, sifat asli RJP tidak seperti itu.
Sehari-hari cenderung extrovert.
Ceria, mudah bergaul dengan sekitarnya, dan gampang menerima orang baru.
”Suka fashion dan merasa senang ketika orang-orang melihat dia,” papar dia.
Sifat itu berubah setelah RJP mengalami penganiayaan.
Dia lebih banyak melamun dan sering merasa ketakutan.
Pada satu sesi, orang tuanya memakaikan gaun ala Cinderella, lengkap dengan tongkatnya.
Tapi RJP menunjukkan ekspresi kosong dan berjalan seperti robot.
Hingga kini RJP juga masih mengigau dan sering mimpi buruk.
Dia tiba-tiba bangun dan langsung ketakutan.
Korban juga mudah ketakutan saat ditinggal orang rumah.
Itu menandakan dia harus terus didampingi, entah oleh psikolog atau orang tuanya.
”Memori hari itu masih sering mengganggu dan muncul tiba-tiba,” imbuh Sayekti.
RJP juga sempat ditanya apakah mau ditemani babysitter baru.
Dia langsung bertanya balik, apakah babysitter baru itu suka memukul atau tidak.
Sempat pula ditanyakan tentang yang dilakukan Indah pada korban.
Selain dicubit dan dijewer, RJP mengatakan bahwa Indah sering misuh.
Menurut Sayekti, hasil pemeriksaan menunjukkan RJP mengalami acute stress disorder (gangguan stres akut).
Jika dalam satu bulan setelah kejadian tidak diperiksa dan ditangani, gangguan itu bisa meningkat menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca-trauma. (biy/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana