Malang – Kekerasan seksual masih menjadi persoalan serius yang membayangi masyarakat, termasuk di Malang Raya.
Meskipun berbagai kampanye kesadaran terus digaungkan, banyak korban yang tetap memilih bungkam. Ketakutan, rasa malu, dan kurangnya dukungan sosial menjadi alasan utama mengapa suara mereka tak terdengar.
Korban kekerasan seksual bisa datang dari berbagai kalangan—anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, baik perempuan maupun laki-laki.
Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis. Trauma berkepanjangan, kehilangan rasa percaya diri, hingga gangguan kesehatan mental sering kali mereka alami dalam diam.
Baca Juga: Edukasi Seksual Sejak Dini Langkah Penting Mencegah Kekerasan Seksual
Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2024, banyak korban memilih untuk tidak melapor karena khawatir akan stigma sosial, tidak dipercaya, atau bahkan disalahkan.
Budaya victim blaming menjadi tembok besar yang membuat para penyintas merasa terisolasi.
Sementara itu, dukungan sejak awal sangat penting dalam proses pemulihan korban. Lingkungan yang mendengar tanpa menghakimi dan memberikan rasa aman akan mendorong korban untuk bangkit dan mencari keadilan.
Tersedianya layanan seperti Komnas Perempuan, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta pendampingan psikologis di sekolah dan kampus menjadi harapan baru bagi para penyintas.
Peran masyarakat menjadi kunci penting dalam memutus rantai kekerasan seksual. Dimulai dari langkah sederhana seperti mendengarkan dengan empati, menjaga kerahasiaan korban, hingga menyebarkan informasi tentang lembaga pendamping, semuanya bisa menjadi kontribusi besar.
Selain itu, edukasi seksualitas dan persetujuan yang diberikan sejak dini mampu membentuk generasi yang lebih sadar dan menghargai batasan.
Mendukung korban bukan hanya tentang simpati, tapi tentang menciptakan ruang aman yang sesungguhnya.
Setiap suara korban yang berani speak up adalah langkah awal menuju keadilan dan perubahan. Sudah waktunya masyarakat berhenti menyalahkan, dan mulai mendengarkan. (afh)
Editor : Aditya Novrian