SURABAYA – Peredaran narkoba di kawasan Jalan Kunti, Sidotopo, Semampir, kian memprihatinkan. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai kampung padat penduduk itu kini disebut telah menjelma menjadi kantong peredaran narkotika yang sulit disentuh aparat.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur Brigjen Pol Budi Mulyanto bahkan menyamakan situasi di wilayah tersebut dengan Kota Medellin, Kolombia, yang pernah dikuasai kartel narkoba pimpinan Pablo Escobar.
Budi menuturkan, kesulitan aparat bukan hanya terletak pada masifnya peredaran narkoba, tetapi juga adanya perlawanan warga saat petugas melakukan penindakan.
Sejumlah operasi dan razia yang digelar BNNP Jatim kerap tidak membuahkan hasil maksimal. Informasi razia sering bocor lebih dulu sehingga saat petugas tiba di lokasi, barang bukti telah dipindahkan atau disembunyikan.
”Kondisinya sudah sangat kompleks. Setiap kali kami masuk, selalu ada hambatan. Ini bukan cerita fiktif, tapi fakta di lapangan,” ujar Budi. Menurut dia, atmosfer peredaran narkoba di Kunti sudah menyerupai adegan dalam film tentang kartel Medellin. Jaringan yang terbangun rapi membuat aparat harus bekerja ekstra.
BNNP Jatim mencatat, dalam razia yang dilakukan bulan lalu, petugas mengamankan sedikitnya 15 anak yang kedapatan mengonsumsi narkoba. Temuan tersebut memperkuat indikasi bahwa narkotika telah menyasar kelompok usia rentan dan berpotensi merusak masa depan generasi muda di kawasan itu.
Menghadapi situasi tersebut, BNNP Jatim tidak hanya mengandalkan pendekatan penegakan hukum. Budi menyebut pihaknya juga menyiapkan langkah rehabilitatif dan preventif. Salah satunya melalui program pelatihan serta layanan rehabilitasi keliling di wilayah yang teridentifikasi sebagai kampung narkoba.
Langkah itu diharapkan mampu memutus mata rantai peredaran sekaligus memberikan jalan keluar bagi warga yang sudah terjerat penyalahgunaan narkotika. ”Penanganannya harus komprehensif. Tidak bisa hanya ditindak, tapi juga dipulihkan,” tegasnya. (leh/gas/adn)
Editor : A. Nugroho