Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (1) : Sungai Nil, Piramida, dan Paradoks Peradaban

Mufarendra • Jumat, 24 April 2020 | 16:30 WIB
Photo
Photo
Di tiga negara ini: Mesir, Palestina, dan Yordania, terdapat jejak sejarah dan makam para Nabi dan Rasul, juga istri Nabi dan Rasul, serta cucu Rasulullah SAW. Selain itu, juga terdapat makam para ulama besar dunia. Selama 9 hari, 16-24 November tahun lalu, Kurniawan Muhammad mengunjungi tiga negara tersebut. Berikut catatannya:
***



Bertahun-tahun lamanya, saya memendam keinginan untuk bisa ke Aqsho. Saya pun juga memendam keinginan untuk bisa berziarah ke makam para Nabi dan Rasul, serta ulama-ulama besar dunia.

Maka, begitu ada tawaran dari Manaya Indonesia, untuk mengikuti tour ke Mesir-Palestina-Yordania, saya seperti menemukan oase. Apalagi, oleh Khadafi, sang owner Manaya, saya diberikan diskon khusus. Sebagai bentuk penghargaannya, karena ternyata belakangan baru tahu kalau Khadafi dulunya adalah mahasiswa saya. Yakni ketika saya sempat mengajar di IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel Surabaya), sekitar tahun 2000-an.

Saya sebenarnya lupa. Tapi dia ingat. Karena katanya, saya dulu pernah menghukum dia.
Selain memang memendam keinginan yang lama untuk pergi ke Aqsho, saya juga sempat terusik dengan penjelasan seorang kiai muda, yang sudah saya anggap sebagai guru saya.

Dia tahu, kalau saya sering pergi ke luar negeri. Dari catatan yang sering saya buat, baik di koran maupun di media sosial. Suatu ketika, kiai saya itu menyuruh saya untuk membaca sebuah hadis: ”Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh, kecuali menuju ke tiga masjid; masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidilharam, dan Masjidil Al Aqsho”.

Hadis soheh (riwayat Bukhori dan Muslim) ini seperti menampar saya. Secara tidak langsung, sang kiai itu mengingatkan kepada saya, ”Percuma saja engkau bepergian ke mana-mana, nggak akan ada artinya jika engkau belum ke tiga tempat itu (Masjid Nabawi, Masjidilharam, dan Masjidil Aqsho),”. Saya sudah pernah ke Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Bahkan beberapa kali. Tapi, ke Masjidil Aqsho, saya memang belum pernah.

Sang kiai itu lantas memberikan doa kepada saya, agar selalu dibaca setiap hari, setiap kali selesai salat fardu: ”Allahumma Yassir lana…ziyarotal Makkah Wal Madinah….Wa Baitul Maqdis…Bissyafa’ati Rosulillah SAW.” Dan Alhamdulillah, doa itu akhirnya terkabul.

Melalui Manaya Indonesia, dan melalui diskon khusus dari Khadafi, saya akhirnya diberi kemudahan untuk berziarah ke makam Nabi dan Rasul, para ulama besar dunia, dan puncaknya bisa mengunjungi Masjidil Aqsho.

BARU PERTAMA: Penulis saat tiba di Cairo International Airport.

Kami berangkat satu rombongan berjumlah 39 orang. Selain ditemani Khadafi, sang owner Manaya, kami juga dibimbing KH Muzakky, salah satu imam Masjid Al Akbar Surabaya dan juga pengasuh acara pengajian di beberapa stasiun televisi lokal di Surabaya.

Destinasi pertama kali kami adalah Kairo, Mesir. Kami tiba di Cairo International Airport sekitar pukul 01.00 waktu setempat, pada Minggu, 17 November 2019. Ini termasuk bandara baru di Mesir. Baru beroperasi 2017.

Penerbangan kami cukup panjang. Berangkat dari Surabaya pukul 07.40 pada hari Sabtu (16 November 2019). Kami dua kali transit. Di Singapura dan Jeddah.

Di Mesir, lebih lambat lima jam dari WIB. Rasa lelah selama penerbangan, tak kami rasakan. Kalah dengan spirit untuk segera bisa menziarahi makam Nabi dan Rasul, serta berkunjung ke Masjidil Aqsho. Baru kali ini saya menginjakkan kaki ke bumi Mesir.

Mesir adalah negara dengan banyak julukan. Mesir disebut sebagai negerinya para Nabi. Karena Nabi-Nabi dan Rasul Allah banyak berasal dari Mesir. Juga dijuluki sebagai Negeri Para Ulama. Karena memang banyak ulama besar terkenal dunia tinggal dan dimakamkan di sini.

Disebut juga sebagai Negeri Seribu Menara. Karena di Mesir memang banyak terdapat masjid. Disebut juga Negeri Piramida. Dan inilah yang paling khas di Mesir. Karena tidak ada piramida di belahan dunia lainnya, selain di Mesir. Mesir juga dijuluki sebagai kota suci keempat. Setelah Makkah, Madinah, dan Aqsho.

Dari bandara, kami langsung menuju ke hotel. Selama perjalanan, kami mendapati Kota Kairo yang sepi. Maklum, saat itu dini hari. Yang istimewa, kami menginap di Hotel Grand Nil. Sesuai namanya, hotel itu dekat sekali dengan Sungai Nil. Dan saya bersyukur, dari kamar saya, begitu jendela dibuka, saya sudah bisa menyaksikan Sungai Nil, yang namanya diabadikan di dalam Alquran itu. Sungai, di mana bayi Nabi Musa AS saat itu ditemukan oleh istri Firaun. Lalu dirawat di Istana Firaun.

Sungai Nil selain namanya diabadikan di dalam Alquran, di antaranya disinggung di dalam Surat Thaaha ayat 39 dan surat Al Qashash ayat 7, juga disinggung di dalam Al Kitab. Yakni pada Perjanjain Lama maupun Perjanjian Baru. Terutama tentang kisah Nabi Musa AS yang dihanyutkan ke Sungai Nil oleh ibunya, kemudian ditemukan dan diasuh oleh permaisuri Firaun.

Keistimewaan dari Sungai Nil lainnya, ini adalah sungai terpanjang di dunia, mencapai 6.695 kilometer. Begitu panjangnya, sampai melewati 9 negara. Yakni Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, dan Mesir. Saya merasa bersyukur, kali ini, bisa menyaksikan dari dekat, sungai bersejarah yang umurnya ribuan tahun, terpanjang di dunia, dan namanya disinggung di dalam Alquran maupun Al Kitab.

Negeri Mesir menurut saya adalah cermin negeri yang paradoks. Di satu sisi, dalam sejarah peradaban dunia, Mesir Kuno merupakan salah satu yang paling maju di antara lainnya. Negeri ini dikenal telah memiliki berbagai macam kemajuan sejak dulu kala dalam berbagai bidang, seperti arsitektur, ilmu pengetahuan dan sosial-budaya. Adanya mumi (teknologi mengawetkan tubuh), piramida (arsitektur) serta adanya patung Sphinx, merupakan bukti nyata tingginya peradaban mereka saat itu.

Tapi, pada sisi lain, saat ini Mesir termasuk negara yang stagnan perkembangannya. Bahkan cenderung mundur. Akhir tahun lalu, Mesir sempat dilanda instabilitas politik, akibat dilanda aksi unjuk rasa berkepanjangan. Aksi unjuk rasa ini menuntut Presiden Abdul Fattah as-Sisi mundur karena dianggap sering menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi.

Presiden As-Sisi menjadi presiden melalui kudeta pada Juli 2013. Dia yang saat itu menjadi Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Bersenjata Mesir, menggulingkan Presiden Muhammad Mursi yang terpilih secara demokratis melalui pemilu. Gara-gara masih terjadi instabilitas politik berkepanjangan, membuat perekonomian Mesir merosot tajam.

Cadangan devisanya anjlok 60 persen, dan pertumbuhan ekonominya turun. Sekitar sepertiga dari 100 juta rakyat Mesir hidup dengan penghasilan kurang dari USD 1,5 per hari. Korupsi merajalela. Indeks persepsi korupsi Mesir berada pada tingkat ke-144 dari 177 negara.

Dengan fakta-fakta yang paradoks ini, tetap saja tak mengurangi antusiasme para turis untuk datang ke Mesir. Menurut data, kunjungan wisatawan ke Mesir dilaporkan sebesar 11.345.760 pada tahun 2018. Ini naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2017) yang mencapai 8.292.426 orang. Dan bagi saya, Mesir tetap magnet. Dan Mesir tetap memesona. (bersambung/dilengkapi dari berbagai sumber) Editor : Mufarendra
#Ramadan #Mesir #Kurniawan Muhammad #Religi #napak tila #Yordania #Palestina