***
Dari kompleks piramida, kami melanjutkan perjalanan, menuju ke Masjid Amru bin Ash. Ini lah masjid pertama yang dibangun di Mesir oleh Amru bin Ash, Sahabat Nabi Muhammad SAW yang kala itu ditugasi menjadi Gubernur Mesir.
Mesir memang sebuah negara yang tak pernah berhenti diperebutkan oleh peradaban besar dunia selama ribuan tahun lamanya. Negara ini tak pernah terputus peradabannya sejak 5.000 tahun lalu. Mulai dari zaman batu, zaman kerajaan, hingga modern. Rekam jejak peradaban Mesir dapat dilihat dari berbagai peninggalan yang ada. Mulai dari peradaban Mesir Kuno, Kekaisaran Persia, Yunani, Romawi hingga Kekhalifahan Islam.
Peradaban Mesir Kuno diperkirakan berlangsung hampir 2.500 tahun lamanya. Pada kekuasaan Mesir Kuno ini, menghasilkan piramida, Sphinx hingga kuil-kuil raksasa yang menakjubkan. Selama kurun waktu 2.500 tahun itu ada sekitar 30 dinasti yang berkuasa, dengan 140-an Firaun yang menguasai Mesir. Termasuk di dalamnya adalah Firaun Ramses I, Ramses II (era Nabi Musa), Hatsepsuth, Tutankhamun, hingga Ratu Nefertiti.
Dari era Mesir Kuno, lantas beralih ke peradaban Persia. Ketika Mesir diserang oleh Persia, penguasa Mesir kala itu adalah Dinasti Firaun ke-30 pada tahun 341 SM. Persia tak lama menguasai Mesir. Kekuasaan Persia di Mesir hancur ketika diserang oleh Yunani yang dipimpin Alexander Agung pada tahun 331 SM.
Setelah dijajah Persia, Mesir lantas ganti dijajah Yunani. Setelah Alexander Agung meninggal, Yunani terpecah dan banyak wilayah yang dikuasai oleh para jenderal. Dan jenderal yang menguasai Mesir adalah Jenderal Ptolemaios. Sejak saat itu, muncul Dinasti Ptolemaios yang menguasai Mesir. Dinasti ini juga disebut Firaun dari ras Yunani. Dinasti ini memerintah Mesir hingga Octavianus Augustus dari Romawi mengalahkan Penguasa Mesir terakhir, yaitu Ratu Cleopatra tahun 30 SM. Sejak saat itu, Mesir menjadi bagian dari Romawi. Cleopatra disebut-sebut sebagai Firaun terakhir dalam sejarah Mesir. Selain dikenal karena kecantikannya, dia juga dikenal sangat lihai dalam mempertahankan negaranya dari penjajahan Romawi.
Dari sini lah lantas muncul cerita yang sangat terkenal, tentang kisah cinta antara Cleopatra dengan Julius Caesar. Dengan bantuan Julius Caesar, Cleopatra pun menjadi berkuasa penuh di Mesir. Cleopatra memerintah Mesir selama 14 tahun. Dia sukses melakukan berbagai manuver politik terhadap penguasa Romawi sehingga membuat Mesir tetap eksis sebagai negara yang merdeka.
Kekuasaan Cleopatra hancur ketika terjadi perang saudara antara keponakan Julius Caesar. Sejak saat itu, Mesir menjadi milik Romawi seutuhnya. Bagi Romawi, Mesir sangat lah berharga. Selain Mesir sangat subur, juga menghasilkan begitu banyak bahan pangan. Sejumlah bahan makanan, terutama gandum (bahan untuk roti) dikirim dari Mesir ke Roma sebagai pajak dalam kapal-kapal besar.
Akibat invasi Romawi, sekitar 300-400 M, sebagian besar orang Mesir menerima agama Kristen. Namun, Kristen di Mesir adalah Kristen Ortodoks, yang berbeda dengan agama Kristen yang dianut Romawi. Gara-gara ini, masyarakat Mesir mengalami penyiksaan dan intimidasi dari Roma selama ratusan tahun.
Romawi menguasai Mesir hingga sekitar abad ke 7 M. Ketika itu, umat Islam dan bangsa Arab menyerbu Romawi dan menaklukkan Mesir. Rakyat Mesir berada di belakang pasukan Islam kala itu. Karena rakyat Mesir sudah muak hidup dijajah Romawi. Pasukan Islam sebanyak 13 ribu saat itu dipimpin oleh Panglima Amru bin Ash. Penaklukan Mesir terjadi di era Khalifah Umar bin Khattab. Ketika dikuasai pasukan Islam, rakyat Mesir diberi kebebasan untuk memilih agamanya masing-masing. Tapi, mayoritas memilih Islam. Ini lah awal bagi peradaban Islam di Mesir.
ABAD KE TUJUH: Penulis di bawah papan penanda Masjid Amru bin Ash di Kairo.
Masjid Amru bin Ash adalah saksi bagaimana peradaban Islam berawal di Mesir. Ini lah masjid pertama yang dibangun di Benua Afrika. Lokasinya berada di wilayah Fusthath, di bagian kota tua Kairo. Masjid Amru bin Ash berada di lokasi yang berdekatan dengan bangunan gereja dan sinagog. “Di sini (Mesir), jumlah orang yahudinya hanya 300-an orang,” kata Mustafa Mukhtar, guide lokal yang menemani kami selama di Mesir. Dia lantas mengawali ceritanya tentang masjid tersebut. “Bangunan yang sekarang ini sudah berubah sama sekali jika dibandingkan dengan bangunan sejak awal masjid dibangun,” cerita Mustafa. Artinya, masjid itu sudah berkali-kali direnovasi oleh para pemimpin Mesir setelah Amru bin Ash. Sejarah mencatat, setelah Amru bin Ash, Mesir dikuasai Dinasti Fatimiyah, Ayubiah, Mamalik, hingga Turki Utsmani (Dinasti Usmaniyah).
Yang menarik, sekaligus membuat kami heran, fasilitas di Masjid Amru bin Ash tidak betul-betul baik. Misalnya, soal fasilitas untuk berwudhu. Sebelum kami berkunjung ke masjid itu, ketika makan siang di sebuah restoran China (Chinese Restaurant Silk Road), Mustafa menyarankan kepada kami agar berwudhu lebih dahulu. “Tempat wudhu di sana (Masjid Amru bin Ash) kurang bagus,” kata Mustafa. Kami pun mengikuti saran dia. Kami ambil wudhu dan buang air kecil di toilet restoran.
Setibanya di Masjid Amru bin Ash, ternyata yang disampaikan Mustafa betul. Fasilitas untuk berwudhunya, kurang memadai. Apalagi untuk kamar kecilnya. Untung, kami sudah berwudhu. Di masjid itu, kami pun menjamak solat dhuhur dan ashar. Sebenarnya, di bagian tengah dari masjid itu ada semacam menara air yang dimanfaatkan sebagai tempat wudhu. Tapi, saat kami ke sana, airnya macet.
Saya punya kesan, masjid berbentuk kotak yang ukuran panjangnya sekitar 120 meter dan lebarnya sekitar 112 meter, serta atapnya hanya dibangun di bagian tepinya tersebut kurang terawat. Padahal, itu adalah bangunan masjid yang sangat bersejarah, yang dibangun pada 641 M atau 21 Hijriyah. Ketika kami ke sana, kondisi karpet-karpetnya sudah pada memudar warnanya. Dan kelihatan jarang dicuci.
Sayangnya, kami hanya berkesempatan sekali saja salat di masjid itu. Padahal, kami ingin salat di sana lagi, untuk mendengarkan suara imam masjid yang kata teman-teman yang pernah ke sana lebih merdu daripada imam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.(bersambung/dilengkapi berbagai sumber) Editor : Radar Malang Administrator