***
Ini masih dalam perjalanan meninggalkan Mesir, menuju ke Semenanjung Sinai. Kami sudah melewati Terusan Suez melalui Terowongan Ahmad Hamdi. Kami juga sudah beristirahat di rest area, tak jauh setelah keluar dari Terowongan Ahmad Hamdi itu.
Dari rest area tersebut, kami melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama, sekitar 20-an menit, kami tiba di Uyun Musa. Artinya, Mata Air Musa. Ini adalah sebuah kawasan padang pasir cukup luas, dan hanya ditumbuhi sedikit pohon kurma. Jarak antara pohon kurma yang satu dengan yang lain agak berjauhan. Lokasi ini sebenarnya tak nyaman untuk dikunjungi. Selain berdebu, juga kotor. Kelihatan tidak terawat. Satu-satunya alasan mengapa harus ke tempat ini, karena nilai sejarahnya yang tinggi. Khususnya bagi para pemeluk agama samawi.
DEKAT PATUNG UNTA: Batu yang menjadi penanda makam Nabi Saleh AS di Sinai.
Di tempat itu, terdapat sumur yang diyakini sebagai 12 mata air yang berasal dari sebuah batu yang dipecahkan oleh Nabi Musa AS dengan tongkatnya. Nabi Musa AS melakukan hal itu, sebagai mukjizat dari Allah SWT, setelah disambati kaumnya, yakni Bani Israil yang kehausan. Cerita tentang kejadian ini ada di dalam Alquran, surat Al Baqoroh ayat 60. ”Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: ”Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.”
Menurut beberapa ahli tafsir, 12 mata air itu sesuai dengan jumlah golongan atau suku yang ada pada Bani Israil, seperti dijelaskan dalam Alquran surat Al A’raf ayat 160: ”Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: ”Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): ”Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu”. Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.
Merujuk pada ayat tersebut, maka di kawasan itulah juga diyakini sebagai tempat diturunkannya makanan dari langit yang disebut Manna dan Salwa.
Sayangnya, hingga kini, dari 12 mata air itu tinggal tersisa satu mata air saja. Ke-11 sumber mata air lainnya tertutup oleh pasir gurun yang selalu tertiup angin, baik di musim panas maupun dingin. Dan dari satu mata air yang masih tersisa itu, ironisnya kondisinya kurang terawat. Mata air itu hanya dipagari dengan batu berkeliling, mirip sebuah sumur. Dan air yang ada di dalamnya sangat kotor. Ada sejumlah sampah yang dibiarkan teronggok di dalam air itu. Ini sangat disayangkan. Padahal, sumber mata air itu bernilai sejarah tinggi.
Saya melihat, tak banyak turis yang datang ke tempat itu. Ada beberapa stan dari bambu yang berjualan aneka suvenir dan makanan. Saya tak tertarik, karena selain barang yang dijual kurang menarik, tempatnya juga kotor.
NAIK KE BUKIT: Penulis di dekat Makam Nabi Harun AS di Sinai.
Di tempat itu, saya pun membayangkan, bagaimana tegarnya Nabi Musa AS. Bagaimana sabarnya Nabi Musa AS, dalam menghadapi Bani Israil yang terkenal cerewet dan banyak maunya itu.
Dari Uyun Musa, kami lantas melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Sinai. Tapi kami mampir dulu di sebuah restoran untuk makan siang. Menunya istimewa. Nasi lemak, semacam nasi kebuli, dengan lauk daging kambing panggang. Ini menu favorit saya.
Setelah makan siang, lalu salat Duhur dan Asar dijamak, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Sinai. Habis makan siang, perut dalam keadaan kenyang, maka ”penyakit keturunan” pun kumat. Yakni, mengantuk. Kami pun tertidur. Tiba-tiba suara Mustafa Mukhtar, guide lokal yang mendampingi selama di Mesir membangunkan kami. Tak terasa, kami tertidur hampir tiga jam. Dan kata Mustafa, kami akan memasuki Saint Catherine. Tak berapa lama, dari dalam bus, saya melihat ada papan berukuran cukup besar. Bertuliskan: Welcome to Saint Catherine. Tak jauh dari papan itu, terdapat patung berbentuk cangkir berwarna putih.
Saint Catherine dengan Gunung Sinai berada dalam satu area. Hari menjelang sore, ketika rombongan kami berhenti di sebuah tempat, di pinggir jalan. Kami semua turun dari bus. Dari tempat itu, kami bisa melihat dari jauh Gunung Sinai. Gunung ini sering disebut juga dengan Jabal Musa. Gunung setinggi 2.285 meter itu sangat bersejarah. Karena di gunung inilah, diyakini sebagai tempat Nabi Musa AS menerima wahyu berupa 10 perintah Allah yang juga dikenal dengan sebutan The Ten Commandment.
Tak ada permukiman penduduk di kaki Gunung Sinai itu. Yang ada hanyalah sebuah bangunan kuno, yakni Biara Saint Catherine. Bangunan itu dari kejauhan tampak berwarna pastel. Dengan dua salib di ujung-ujung bangunan.
SEJAK ABAK KE ENAM: Bangunan biara Saint Catherine dilihat dari jauh.
Biara Saint Catherine termasuk bangunan bersejarah. Biara itu dibangun pada awal abad ke-6 oleh Kaisar Romawi Yustianus I. Meski telah ada sejak berabad-abad lamanya, tapi bangunan biara tersebut masih utuh sampai sekarang. Dan kini, biara itu digunakan sebagai tempat penginapan para turis yang berziarah ke Gunung Sinai.
Selain dibangun sejak awal abad ke-6, biara Saint Catherine sangat bersejarah karena Nabi Muhammad SAW pernah menulis semacam piagam untuk biara itu. Ceritanya, pada 628 M, utusan dari Biara Saint Catherine mengunjungi Nabi Muhammad SAW di Madinah untuk meminta perlindungan. Nabi SAW pun memberikan perlindungan dengan menuliskan sebuah piagam.
Dari isi piagam itu menunjukkan sikap toleransinya Rasulullah SAW terhadap agama Kristen. Bisa jadi karena surat jaminan dari Rasulullah SAW inilah, keberadaan Biara Saint Catherine tetap terjaga, terutama saat Mesir dikuasai kekhalifahan Islam.
Tahun 1517 M, piagam itu diambil oleh Sultan Selim I dari Dinasti Usmaniyah Turki (Ottoman). Dan saat ini, piagam itu disimpan di Museum Top Kapi Istanbul. Sultan Selim I tapi memberikan salinan atas piagam tersebut kepada para biarawan di biara itu, dan melegalisasi isi piagam tersebut. Jadi, piagam asli dari piagam Rasulullah SAW itu disimpan di Top Kapi, sedangkan salinannya disimpan di Saint Catherine. Sampai sekarang.
Biara Saint Catherine lokasinya berdekatan dengan sebuah bangunan yang diyakini adalah makam dari Nabi Harun. Ada tumpukan batu yang disemen, lalu di atasnya diletakkan semacam prasasti dari batu bertuliskan: El Nabi Haroun. Untuk bisa masuk ke makam Nabi Harun, kami harus mendaki ke perbukitan. Karena waktu sudah menjelang gelap, sehingga kami cukup melihat makam Nabi Harun AS dari kejauhan.
Masih di kawasan Gunung Sinai, di antara perbukitan bebatuan, kami ditunjukkan oleh Mustafa sebuah batu berbentuk sapi. ”Menurut masyarakat sini, patung itu dianggap sebagai bekas patung sapi yang dibuat oleh Samiri, salah seorang kaum Nabi Musa AS,” cerita Mustafa. Benarkah, bahwa patung itu adalah bekas patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri dulu? Wallahu A’lam Bissowab.
DIYAKINI JEJAK SAMIRI: Patung yang menyerupai bentuk sapi ini menurut warga di Semenanjung Sinai adalah bekas jejak patung sapi yang diciptakan Samiri.
Kisah tentang kesesatan Samiri yang membuat patung anak sapi dari emas disinggung dalam Alquran. Patung anak sapi dari emas itulah yang oleh Samiri dianggap sebagai Tuhan dan dia mengajak kaum Nabi Musa untuk menyembahnya.
Tak jauh dari lokasi makam Nabi Harun, terdapat makam yang diyakini sebagai makam Nabi Saleh AS. Sama seperti Nabi Harun, keberadaan makam Nabi Saleh itu juga ditandai dengan adanya tumpukan batu yang disemen, dan di atasnya terdapat prasasti dari batu bertuliskan: El Nabi Saleh. Makam Nabi Saleh terletak di pinggir jalan. Terletak di atas sebuah bukit. Makam itu berada dalam sebuah bangunan kecil berbentuk seperti musala dengan kubah kecil di atasnya. Bangunan itu sangat sederhana.
Di dekat makam Nabi Saleh AS, terdapat patung unta betina. Seperti diketahui, salah satu mukjizat Nabi Saleh AS yang diberikan Allah SWT adalah, dapat memunculkan unta betina dari dalam sebuah batu. Mukjizat ini sebagai tanda kebesaran Allah SWT terhadap kaum Tsamud, kaumnya Nabi Saleh. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator