***
Dari Kota Eilat, wilayah Israel yang berbatasan dengan Taba, Mesir, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Jericho. “Dari sini (Eilat), butuh waktu sekitar 4 jam ke Kota Jericho,” kata Nazzi, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama berada di Palestina dan Israel.
Kami saat ini berada di kawasan Israel. Salah satu negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Meski tujuan kami adalah ke Palestina, tapi, kami terpaksa harus melewati Israel. Jadi, Palestina sebenarnya sedang “terjajah” oleh Israel. Siapa pun yang akan berziarah ke tempat-tempat suci di Palestina, harus melewati perbatasan yang dijaga dan dikuasai Israel.
Dalam perjalanan menuju ke Jericho, kami melewati pemandangan, yakni di kanan-kiri adalah pegunungan berbatu dan cadas. Sekitar 2,5 jam berlalu, Nazzi menyuruh kami melihat kawasan pegunungan bebatuan di sebelah kiri bus. “Perbukitan yang Anda lihat itu adalah dulunya Kota Sodom, tempat kaumnya Nabi Luth AS tinggal,” cerita Nazzi. Tidak terlihat jejak apa pun di perbukitan itu, kecuali bebatuan terjal dan cadas.
Kisah tentang Kota Sodom, tempat kaumnya Nabi Luth AS diabadikan di dalam Alquran. Di antaranya disebutkan di dalam surat Al A’raf ayat 80-84. Di dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan tentang kemungkaran dan kemaksiatan umat Nabi Luth AS. Yakni menyukai sesama jenis. Istilah sekarang adalah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).
“Nabi Luth AS hidup semasa dengan Nabi Ibrahim Kholilullah,” kata Nazzi. Dan memang, secara keturunan, Nabi Luth AS adalah putra dari saudara laki-laki Nabi Ibrahim bernama Haran. Berarti, Nabi Luth AS masih keponakannya Nabi Ibrahim AS.
Dalam Kitab Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir diceritakan, Nabi Luth AS pergi meninggalkan tempat tinggal pamannya, Nabi Ibrahim AS, atas perintah dan izinnya menuju ke sebuah negeri yang dikenal dengan Gharzaghar. Tepatnya di Kota Sodom.
Kota Sodom adalah ibu kota Gharzaghar yang pada saat itu didiami oleh orang-orang paling jahat dan sangat kafir. Mereka menjalani hidupnya dengan merampok, melakukan kejahatan, bergelimang kemaksiatan, dan berbagai macam kemungkaran lainnya. Mereka tidak mau menghentikan perbuatan mungkar yang mereka lakukan itu.
Bahkan, mereka melakukan kemungkaran dalam bentuk baru yang belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya. Yaitu melakukan hubungan seks sejenis (homoseksual). Kaum laki-laki yang melakukan homoseksual itu tidak mau menikahi kaum wanita. Dan kaum Sodom ini adalah kaum pertama di muka bumi yang melakukan praktik homoseksual.
Di Kota Sodom ini lah Nabi Luth AS berdakwah untuk mengajak kaumnya itu kembali ke jalan yang benar. Tapi, dakwah Nabi Luth AS mendapat tentangan yang keras. Kaum Sodom itu bukannya berhenti. Tapi, kemaksiatan mereka malah menjadi-jadi. Hingga akhirnya Allah SWT menurunkan adzab kepada kaum Sodom itu. Ini seperti yang disebutkan di dalam Alquran Surat Huud ayat 82: "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi." Dalam ayat tersebut dijelaskan, Allah 'menjungkirbalikkan' Kota Sodom hingga luluh lantah tak tersisa.
Juga diceritakan dalam Surat Al Hijr ayat 73-77: “Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman,”.
MONUMEN ADZAB: Penulis berdiri di wilayah dekat Laut Mati, yang diyakini sebagai bekas Kota Sodom, tempat tinggalnya kaum Nabi Luth AS.
Yang menarik pada surat Al Hijr di atas adalah ayat 76 yang menyebutkan: “Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia),”. Maksudnya, bekas kota kaumnya Nabi Luth AS yang sudah dihancurkan itu masih tetap dilalui oleh manusia hingga saat ini. Kawasan itu, bisa jadi seperti yang ditunjukkan oleh Nazzi tadi.
Pertanyaannya adalah, benarkah daerah perbukitan yang ditunjuk oleh Nazzi itu dulunya adalah Kota Sodom? Padahal kota itu sudah lenyap berabad-abad yang lalu? Sebuah penelitian arkeologis mendapati, bahwa Kota Sodom diperkirakan terletak di tepi Laut Mati (yang dulu merupakan Danau Luth). Kota ini memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania.
Temuan arkeologi ini diperkuat oleh penelitian seorang geolog asal Inggris bernama Graham Harris. Graham dan timnya menemukan bahwa Sodom dibangun di pesisir Laut Mati dan penduduknya berdagang aspal yang tersedia di wilayah tersebut. Zat hitam lengket itu di masa lalu digunakan sebagai pelapis tahan air pada perahu dan perekat bebatuan pada bangunan.
Daerah pemukiman warga Sodom berupa dataran yang mudah diguncang gempa. Selain mendapati fakta Kota Sodom adalah zona gempa bumi, selama penggalian, tim geologi menemukan banyak lapisan lahar dan batu basal, bukti pernah terjadinya letusan gunung berapi dan gempa bumi maha dahsyat di pesisir Laut Mati itu.
Sedangkan peneliti lain asal Jerman, Werner Keller, mengungkap hasil temuan yang lebih detail. Penelitian Werner menghasilkan fakta bahwa Kota Sodom dahulunya terletak di wilayah yang kini bernama Lembah Siddim. Sedangkan gempa bumi maha dahsyat yang menghancurkan kaum Sodom diperkirakan dulunya terjadi dari tepi Gunung Taurus. Lalu memanjang ke pantai selatan Laut Mati dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqoba, melintasi Laut Merah hingga mengguncang Afrika.
Werner menduga, saat itu Lembah Siddim (Kota Sodom) terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam akibat guncangan gempa yang sangat hebat. Dia juga memperkirakan gempa tersebut disertai letusan petir, keluarnya gas alam bahkan munculnya lautan api yang dahsyat.
Serangkaian penemuan arkeologis dan percobaan ilmiah di atas, semakin membuktikan bahwa Kaum Nabi Luth AS memang pernah hidup pada masa lalu seperti diceritakan di dalam Alquran, dimana lokasi tempat kaum Nabi Luth AS diperkirakan berada di sekitar Laut Mati, yang kini berada di perbatasan Israel dan Yordania.
Dan memang, kawasan perbukitan yang ditunjuk oleh Nazzi tadi, berada di dekat kawasan Laut Mati. Kami sempat berhenti di tepian jalan, dan dari jalan itu kami bisa menyaksikan pemandangan Laut Mati di bawah. Dari kejauhan saya menyaksikan birunya warna Laut Mati itu.
Mengapa disebut Laut Mati? “Kandungan garamnya tertinggi di dunia. Mencapai 80 persen,” kata Nazzi. Tapi versi lain menyebutkan, bahwa kadar garamnya 32 persen. Artinya, setiap liter air Laut Mati memiliki kadar garam 320 gram. Padahal, kadar garam air laut biasa hanya 3 persen.
Karena kadar garam yang terlalu tinggi itu lah, sehingga tidak memungkinkan vegetasi atau biota apa pun untuk hidup di dalam air Laut Mati itu. Ini yang lantas membuat nama laut itu disebut Laut Mati. Tapi, ada juga yang meyakini, termasuk saya, bahwa keberadaan dan sejarah dari Laut Mati itu sangat terkait dengan keberadaan dan sejarah dari kaum Nabi Luth AS yang mungkar itu. Yang kemungkarannya sudah kelewatan karena tidak pernah terjadi pada kaum-kaum sebelumnya. Jadi, keberadaan Laut Mati yang bisa disaksikan hingga saat ini, merupakan saksi sejarah akibat kemurkaan Allah terhadap hamba-hambaNya yang tidak mengindahkan seruan utusanNya.
Subhanallah. Mengikuti tour perjalanan kali ini, selain bisa menyaksikan langsung jejak sejarah yang disebutkan di dalam Alquran, bagi saya, ini sekaligus tadarus Alquran. Dan mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang diceritakan di dalam Alquran.(bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator