***
Setelah dari maqom Nabi Yunus AS di Kota Halhul, kami menuju ke kompleks pemakaman Nabi Ibrahim AS di Kota Hebron. Jarak antara Kota Halhul dan Hebron sekitar 7 kilometer. Dan Kota Halhul berada di sebelah utara Kota Hebron.
Menuju ke kompleks pemakaman Nabi Ibrahim AS, kami melewati perkampungan Yahudi. Dari tempat parkir bus, kami harus berjalan kaki. Sekitar 100-an meter. Selama perjalanan, kami sering didekati orang-orang Palestina menawarkan suvenir. Mulai dari yang anak-anak hingga dewasa.
Tibalah kami di depan pintu masuk yang terbuat dari besi. Pintu itu dijaga ketat polisi dan tentara Israel. Mereka tampak siaga dengan senapan laras panjangnya. Rupanya, itu adalah pintu masuk menuju ke Masjid Al Ibrahimy. Atau ada yang menyebut Masjid Khalil Ibrahim. Ini merujuk pada gelar Nabi Ibrahim AS yakni Khalilullah (kekasih Allah). Dan makam Nabi Ibrahim AS berada di dalam masjid itu.
Demi dapat berziarah ke makam Nabi Ibrahim AS, maka kami pun terpaksa harus ikut prosedur. Di pintu itu, kami diperiksa secara ketat. Barang-barang bawaan kami dipindai dengan mesin, juga dengan metal detector, mirip seperti pemeriksaan di bandara. Lalu paspor kami juga dicek satu per satu. Baru kali ini saya mengalami, mau ke masjid saja, diperiksa dengan begitu ketatnya. Dan inilah masjid yang penjagaannya paling ketat di dunia. Saya lihat kamera CCTV ada di mana-mana di seputaran pos pemeriksaan itu.
DI DALAM MASJID KHALIL IBRAHIM: Penulis di depan makam Nabi Ibrahim AS.
Setelah melewati pos pemeriksaan, kami menuju ke Masjid Khalil Ibrahim. Begitu memasuki areal masjid, kami menjumpai makam Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim AS. Makam itu berada di sebuah ruangan yang dikunci dan hanya diberikan jendela dengan teralis besi.
Kami masuk ke ruangan masjid yang lebih dalam lagi. Di dalam masjid itu kami melihat ada dua bangunan berbentuk empat persegi panjang. Tingginya kira-kira 200-an sentimeter lebih. Panjangnya kira-kira 3 meter dan lebarnya 2 meter. Di atasnya ditutupi atap berbentuk seperti joglo, dilapisi kain berwarna hijau. Dua bangunan itu ternyata makamnya Nabi Ishaq AS dan istrinya, Rifqa binti Bitawabil. Keduanya berdampingan, berjarak kira-kira 10 langkah.
Kami sempat Salat Duhur dijamak qasar dengan Asar di masjid tersebut. Kami melihat, saat itu ada beberapa jamaah perempuan sedang berkelompok. Tampaknya sedang membuat kegiatan majelis taklim.
Di bagian belakang, masih satu ruangan dengan masjid itu, ada satu ruangan khusus yang dikunci. Hanya diberi jendela berteralis besi. Kami melihat ada keranda yang ditutupi dengan kain hijau di atasnya. Itulah makam Sang Khalilullah, Nabi Ibrahim AS. Panjang keranda itu cukup panjang untuk ukuran manusia. Kira-kira 3-4 meteran.
Seperti makam nabi-nabi lainnya, hari itu yang berziarah ke makam Nabi Ibrahim AS tak banyak. Selain rombongan kami, ada satu rombongan lain. Belasan orang. Tampaknya dari Eropa. Bisa jadi, karena faktor penjagaan yang ketat itulah, yang membuat makam tempat itu menjadi sangat terbatas dikunjungi para peziarah.
SUPER KETAT: Sebelum menuju ke kompleks pemakaman Nabi Ibrahim AS di Masjid Khalil Ibrahim, lebih dulu harus diperiksa di pintu besi itu.
Ada satu keterangan yang menjelaskan, bahwa di dalam masjid itu terdapat gua yang disebut sebagai Gua Makhpela. Di dalam gua itulah, dimakamkan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Mulai dari istrinya, Sarah; putranya, Ishaq; menantunya, Rifqa binti Bitawabil; Nabi Ya’kub AS, putra Nabi Ishaq yang juga cucu Nabi Ibrahim AS; istrinya Nabi Ya’kub AS, Liya; dan Nabi Yusuf AS, putranya Nabi Ya’kub AS, sekaligus cicitnya Nabi Ibrahim AS.
Versi inilah yang menjelaskan, mengapa makam Nabi Ibrahim AS, Sarah, Nabi Ishaq AS, Rifqa, Nabi Ya’kub AS, dan Nabi Yusuf AS berada di satu tempat, yakni di dalam masjid itu. Dan memang, di dalam masjid itu terdapat pintu besi. ”Ini pintu besi untuk turun ke gua yang berada di bawah masjid. Kedalaman gua itu kira-kira 15 meter,” kata Nazzi, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama tour di Palestina. Pintu besi itu ditutup dan digembok. Pengunjung dilarang turun ke bawah. Saya sempat mengintip di lubang-lubangnya yang kecil itu. Tampak suasananya gelap. Karena hanya diterangi dengan lilin-lilin kecil.
Versi ini diperkuat dengan adanya keterangan lain, bahwa makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’kub berada di satu bangunan persegi empat yang dibangun oleh Nabi Sulaiman bin Daud AS di Negeri Hebron. Dan versi ini diyakini secara turun temurun, khususnya di kalangan Bani Israil.
Sayang, kami tidak bisa melihat langsung makam Nabi Ya’kub AS dan Nabi Yusuf AS. Karena keduanya berada di sinagog, tempat ibadah kaum Yahudi. Nama sinagog itu: Cave of the Patriarchs. Dan memang, kompleks pemakaman Nabi Ibrahim AS disekat menjadi dua. Satu untuk masjid yang di dalamnya terdapat makam Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishaq AS, Sarah, dan Rifqa. Sedangkan bagian satunya lagi untuk sinagog. Di dalamnya terdapat makam Nabi Yusuf AS dan Nabi Ya’kub AS. Dengan adanya makam para nabi itulah, tempat tersebut dianggap sebagai tempat yang keramat dan suci oleh tiga agama: Islam, Nasrani, dan Yahudi.
Di dekat makam Nabi Ibrahim AS, kami ditunjukkan oleh Nazzi satu ruangan kecil. Ruangan kecil itu diberi pintu besi dan dikunci. Saya melihat ada bebatuan di dalamnya. ”Di batu itulah, ada bekas kaki Rasulullah SAW saat beliau berziarah ke makam Nabi Ibrahim AS ketika Isra Mikraj,” cerita Nazzi. ”Jejak Rasulullah SAW ini disebut maqom Rasulullah. Kalau di Mekkah ada maqom Ibrahim, di sini ada maqom Rasulullah,” sambungnya.
DEKAT SUAMI DAN ANAK: Makam Sarah, isteri Nabi Ibrahim AS yang berdekatan dengan makam sang suami.
Tak jauh dari makam Nabi Ibrahim AS, terdapat sebuah mimbar. ”Mimbar ini dinamakan mimbar Salahuddin,” kata Nazzi. Maksudnya, adalah Sultan Salahuddin Al Ayyubi, sang penakluk Yerussalem. Dan masjid Khalil Ibrahim itu dibangun di eranya Salahuddin Al Ayyubi.
Kalaupun ada yang disayangkan dari tempat itu, adalah berada di wilayah kekuasaan Israel. Dan memang, tempat tersebut adalah pemukiman Yahudi yang dibangun sejak 1967. Kata Nazzi, terdapat sedikitnya 40 ribu orang Yahudi yang tinggal di tempat tersebut. Karena berada di dalam penguasaan Israel atau Yahudi, maka aktivitas Masjid Khalil Ibrahim sangat dibatasi. ”Pada waktu-waktu tertentu, masjid ini dipakai kegiatannya orang-orang Yahudi. Dan tidak boleh azan pakai pengeras suara,” cerita Nazzi.
Bisa jadi, gara-gara dijaga ketat Israel, tak banyak yang berziarah ke makam Nabi Ibrahim AS. Selain itu, masjid yang seharusnya banyak jamaahnya, menjadi sangat sedikit jumlahnya. Bahkan, aktivitas keagamaan di masjid itu menjadi sangat terbatas.
Mungkin jika tak dijaga ketat seperti sekarang, akan banyak yang berziarah ke makam Nabi Ibrahim AS. Sebab, Nabi Ibrahim AS adalah nabi dengan banyak keutamaan. Allah SWT sendiri menyebut di sejumlah ayat Alquran tentang pujian dan sanjungan-Nya kepada Nabi Ibrahim AS. Ada yang berpendapat, bahwa pujian Allah kepada Ibrahim disebutkan dalam Alquran di 35 tempat. Lima belas di antaranya terdapat di dalam surat Al Baqoroh. Dan nama Ibrahim AS disebutkan di dalam Alquran sebanyak 69 kali.
Selain itu, Nabi Ibrahim AS termasuk salah satu dari lima nabi yang mendapat gelar khusus sebagai Ulul Azmi. Mereka adalah nabi-nabi istimewa dan pilihan, seperti yang disebutkan di dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 7: ”Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu sendiri (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.”
Para ahli tafsir menyebut bahwa Nabi Ibrahim AS adalah Nabi Ulul Azmi yang paling mulia setelah Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW pada saat Isra Mikraj pernah berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS di langit ke tujuh dalam keadaan bersandar di Baitul Makmur, yang setiap harinya 70 ribu malaikat masuk ke dalamnya.
DIKUNCI ISRAEL: Penulis di depan pintu makam Nabi Yusuf AS.
Nabi Ibrahim AS juga bisa disebut sebagai nabi yang paling peduli dengan masalah kebersihan. Ibnu Abbas berkata: ”Allah menguji Ibrahim AS dengan masalah kebersihan tubuh atau bersuci. Yaitu lima bagian di kepala, dan lima lagi di bagian tubuh. Lima bagian di kepala: mencukur kumis, berkumur, bersiwak (menggosok gigi), memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya kembali untuk membersihkannya, dan merapikan rambut. Adapun lima bagian tubuh lainnya: memotong kuku, mencukur rambut kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak, serta mencuci bekas buang air besar dan bekas kencing dengan air (HR Ibnu Abi Hatim).
Khusus ajaran khitan, Nabi Ibrahim AS-lah yang dianggap pertama kali melakukannya. Disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: ”Ibrahim melakukan khitan dengan menggunakan qaddum (kapak) saat beliau berusia 120 tahun. Setelah itu, beliau masih hidup selama 80 tahun lagi,” (HR Ibnu Hibban).
Dan kebiasaan Nabi Ibrahim AS yang sangat peduli dengan kebersihan ini pun dilanjutkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda: ”Sepuluh hal yang termasuk fitrah (kebersihan tubuh) yaitu: mencukur kumis, memanjangkan janggut, bersiwak, memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya kembali, memotong kuku, mencuci sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, khitan, dan istinja (cebok). (HR Muslim).
Nabi Ibrahim wafat di usia lebih dari 150 tahun. Ada yang menyebutkan 175 tahun. Ada yang menyebutkan 190 tahun. Ada yang menyebut 120 tahun, seperti hadis di atas.
Menurut Abu Qasim as Suhaili dalam kitabnya: At Ta’rif wal A’lam, selama hidupnya, Nabi Ibrahim menikah empat kali. Dari isteri pertama, Sarah, lahir Ishaq. Dari isteri kedua, Hajar, lahir Ismail. Setelah Sarah meninggal, Nabi Ibrahim menikah dengan Qunthura. Dari pernikahan ini, dikaruniai enam anak: Madyan, Zamran, Sarakh, Yaqsyan, Nasyaq, dan anak keenam tidak disebutkan. Setelah Qunthura meninggal, Nabi Ibarahim AS menikah lagi dengan Hajun binti Amin. Dari pernikahan ini dikaruniai lima anak: Kisan, Sauraj, Amin, Luthan, dan Nafis. …”Kama Sholaita ala Sayyidina Ibrahim…wa ala alihi sayyidina Ibrahim…” (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator