Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir, Palestina, dan Yordania (25): Sensasi Gurun, Gunung, dan Kambing Panggang di Wadi Rum

Radar Malang Administrator • Senin, 18 Mei 2020 | 04:09 WIB
Photo
Photo
Jika ke Yordania, mampirlah ke Wadi Rum. Makan malamlah dan menginaplah di sana. Serasa menginap di planet lain.
***

Dari lokasi makam Nabi Syuaib Alaihissalam (AS), kami melanjutkan perjalanan menuju ke Wadi Rum. Hari semakin beranjak sore menjelang malam. Di Wadi Rum dijadwalkan untuk makan malam, sekaligus menginap di sana.
Menuju ke Wadi Rum, kami harus melewati Kota Amman, Ibu Kota Yordania. Saya sempat menyaksikan corak bangunan rumah-rumah ketika akan masuk ke Kota Amman. Seluruh bangunan yang terdapat di Kota Amman tampak seragam. Yakni berasal dari batu atau beton bertingkat, tidak memiliki ruang kosong, dan rata-rata berbentuk sama.
Ketika mulai masuk ke Kota Amman, Majid, guide lokal dari Manaya Indonesia yang mendampingi kami selama di Yordania mengejutkan kami dengan menyuruh menoleh ke sebelah kiri. Beruntung saya pas duduk di sebelah kiri. ”Ini adalah rumah Manasir, orang terkaya di Yordania,” kata Majid. Rumah itu tampak menyerupai istana. Bangunannya megah dengan warna pastel. Pagarnya ditumbuhi tanaman-tanaman hijau. Dan di depan rumah yang menyerupai istana itu terdapat taman yang luas. Sekilas, rumah itu seperti istana dengan corak bangunan ala gedung-gedung kuno di Eropa dari abad pertengahan.
Manasir atau Ziyad Manasir memang orang terkaya di Yordania. Dan pada 2015, dia berada di peringkat ke-41 dari 100 orang Arab terkaya di dunia. Peringkat pertama Pangeran Al Waleed bin Talal dari Arab Saudi dengan kekayaan USD 22,6 M. Sedangkan kekayaan Manasir USD 1,1 M.
Setelah melihat rumah Manasir yang megah itu, kami tak bisa melihat pemandangan apa-apa lagi. Maklum, hari sudah mulai gelap. Sebenarnya, perut ini sudah mulai keroncongan. Tapi, harus bersabar. Kata Majid, perjalanan ke Wadi Rum 2-3 jam lagi. Wow….harus menahan lapar selama 2-3 jam. Untung saya selalu siap dengan cokelat batangan, Silver Queen, yang saya bawa dari Indonesia. Sengaja saya bawa cukup banyak. Fungsinya ya untuk mengganjal perut saat keroncongan, sementara jadwal makan masih agak lama. Setelah melahap satu batang kecil Silver Queen, saya pun terlelap.
Saya terbangun, ketika suara Majid membangunkan kami. Jam menunjukkan hampir pukul 9 malam waktu setempat. Kata dia, beberapa saat lagi, sudah sampai di Wadi Rum. Saya melihat ke kaca bus, tak melihat apa-apa. Gelap. Bus pun berhenti. Keluar dari bus, hawa dingin menusuk tulang. Kami berada di tengah-tengah gurun pasir. Saya melihat, ada tenda-tenda yang sudah terpasang rapi berderet-deret dengan lampu temaram. Di tenda-tenda itulah kami akan menginap semalam.
Perhatian saya tidak ke mana-mana saat itu, kecuali mencari di mana tempat makannya. Oleh Majid kami diajak ke sebuah aula. Tapi lebih dahulu diajak ke bagian belakang dari aula itu. Tepatnya di dekat dapur. Di sana, kami melihat ada dua orang sedang menggali gundukan tanah yang berasap. Setelah digali, ternyata di dalam gundukan tanah itu ada tempat seperti oven. Dan di oven itu terdapat bungkusan kertas timah. Dan di dalam kertas timah itu adalah daging kambing. Rupanya, daging-daging kambing itu dipanggang dengan cara unik. Yakni dipanggang di dalam tanah. Wow…baru kali ini saya menyaksikan cara masak daging kambing seperti itu. Perut lapar, aroma sedap, maka nafsu makan saya pun menggelora. Apalagi, daging kambing adalah daging favorit saya.
Kami makan malam di sebuah tempat seperti aula. Dan aula itu dirancang seperti sebuah tenda besar. Lalu ada deretan kursi-kursi yang cover-nya dari kain tenun dengan motif merah-kuning, khas Timur Tengah. Selain menunya kambing panggang, juga disiapkan beberapa macam minuman penghangat badan. Mulai dari teh, kopi, hingga minuman yang rasanya seperti jahe.
Setelah makan malam, kami pun menuju ke tenda. Setiap tenda diisi dua orang. Tendanya berderet-deret. Di atap tenda dihiasi kain berjuntai. Mirip kamar pengantin baru. Sedangkan dinding tendanya ditempeli dengan kain tenun khas Yordania, warna merah bergaris-garis kuning.
Hawa malam itu dingin sekali. Sampai-sampai AC di kamar saya fungsikan sebagai pemanas. Suhunya saya naikkan hingga 40 derajat Celsius. Di dalam kamar dilengkapi dengan kamar mandi. Bagus juga sensasi bermalam di Wadi Rum. Makan malamnya daging kambing panggang, dengan cara panggang yang unik, lalu dilanjut dengan bermalam di tenda-tenda yang terdapat di tengah gurun pasir. Saya merasa seperti kabilah-kabilah di masa lalu yang sedang melakukan perjalanan.
Malam itu, setelah menjamak takhir qasar salat Magrib dan Isya, kami tidur pulas. Esok harinya, setelah salat Subuh, dan ketika mentari mulai beranjak keluar, saya melihat teman-teman satu rombongan sudah tak sabar untuk menyaksikan pemandangan indah. Yakni pemandangan gurun sahara, dengan pegunungan berwarna cokelat kekuning-kuningan. Subhanallah….indah sekali pemandangan di Wadi Rum.
Pemandangan gurun sahara di Wadi Rum sangat khas. Khas warna pasirnya. Yakni merah berkilauan. Dan khas warna pegunungan batu yang mengelilinginya. Dari jauh, permukaan pegunungan batu itu seperti bergerigi. Seperti dipahat-pahat. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto.
Deretan tenda yang ada di Wadi Rum tertata rapi. Dinding tenda bagian luar dilapisi kain yang warnanya seragam. Yakni hijau tua, dilengkapi garis-garis berwarna putih. Ada tenda yang bentuknya kotak-kotak. Tapi, ada juga tenda yang bentuk atapnya menyerupai tabung. Warnanya putih. Pemandangannya bersih.
Wadi Rum merupakan lanskap alam yang dilindungi di Yordania sejak 1998. Gurun tersebut dilindungi karena memiliki sejarah dan budaya yang penting untuk Yordania dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Dan belakangan saya baru tahu, jika Wadi Rum adalah salah satu tempat yang sering dijadikan lokasi syuting untuk film-film produksi Hollywood. Untuk mengurusi dan mempromosikan lanskap Wadi Rum sebagai tempat syuting film ini, pemerintah Yordania membentuk Komisi Film Royal Jordan yang didirikan pada 2003. Organisasi inilah yang kemudian mempromosikan Yordania, termasuk Wadi Rum sebagai studio terbuka besar. Komisi yang diketuai oleh Pangeran Ali, salah satu saudara tiri Raja Abdullah II juga menawarkan insentif keuangan bagi perusahaan film yang membuat film di Yordania.
Di antara film yang mengambil lokasi syuting di Wadi Rum adalah saga terakhir Star Wars: The Rise of Skywalker yang rilis tahun lalu. Ini adalah film ketiga dari trilogi sekuel Star Wars, sekaligus episode kesembilan dan final dari Saga Skywalker yang telah dimulai dari 1977. Ini salah satu film favorit saya. Begitu menyaksikan Wadi Rum secara langsung, saya berusaha mengingat-ingat adegan dari film Star Wars itu.
Saya sering menyaksikan film-film Hollywood yang menggambarkan tentang pemandangan alam di planet lain. Dan begitu menyaksikan pemandangan dan lanskap di Wadi Rum, memang serasa berada di planet lain, yang sering digambarkan di film-film Hollywood itu. Subhanallah…berada di Wadi Rum, serasa menyelami ayat-ayat Allah SWT…begitu indahnya ciptaan-Nya. (bersambung/dilengkapi berbagai sumber/ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Radar Malang Administrator
#Sensasi Gurun Gunung dan Kambing Panggang #Palestina dan Yordania #wadi rum #Sembilan Hari Napak Tilas Spiritual ke Mesir #Religi