“Sesuai ciri-cirinya, batu tersebut mengandung unsur logam atau stony-iron, dan sudah kami uji dengan magnet. Ketika ditemukan pemilik rumah, batu tersebut dalam kondisi hangat. Itu merupakan dampak bebatuan yang bergesekan dengan atmosfer, ada proses pembakaran di sana,” ujar Aji, anggota tim peneliti pada Jumat (29/1).
Dilansir dari laman resmi ITERA, Sabtu (30/1), meteorit tersebut kemudian diketahui memiliki kandungan air, tetapi bukan air dari bumi. Sehingga akan mudah berkarat dalam waktu singkat. Sementara itu, Danni Gathot Harbowo, dosen Teknik Geologi ITERA juga meminta warga untuk tidak menyalahgunakan meteorit tersebut.
Imbauan Gathot tersebut dikhawatirkan karena masih adanya unsur radioaktif dari meteorit. Ia juga menekankan untuk tidak mengonsumsi air rendaman batunya. Untuk mengetahui unsur apa saja yang terkandung di dalamnya, ia mengatakan akan melakukan analisa yang lebih mendalam.
Ditemukannya batu meteorit ini awalnya karena suara dentuman yang didengar beberapa warga disusul jatuhnya batu di dapur salah seorang warga. Diduga suara dentuman tersebut terdengar saat meteorit pecah di langit atau yang dikenal dengan fenomena fireball.
Tim Peneliti ITERA kemudian mengimbau agar warga tidak perlu panik dengan fenomena jatuhnya meteorit tersebut. Jika ada kejadian serupa terjadi lagi, warga bisa dengan segera menghubungi tim peneliti.
Menurut tim peneliti, fenomena hujan meteor memang terjadi sepanjang bulan Januari 2021. Di mana puncaknya terjadi pada tanggal 3-4 Januari lalu.
Penulis: Aulia Hamazunnisa Editor : Shuvia Rahma