Selama ini, kulit hewan memang banyak digunakan desainer top. Namun proses pembuatan produk dari kulit hewan menyumbang 14,5 persen dari emisi karbon yang dihasilkan manusia. Berbeda dengan proses pembuatan jamur yang tidak membutuhkan berhektar tanah untuk beternak, kulit jamur cukup dibudidayakan dengan tong jamur yang diberi makan gula bit.
Ketika sudah tumbuh menjadi jamur yang matang, kemudian dapat diiris dan dikeringkan untuk dilakukan proses kimia dan fisik sampai terlihat seperti kulit. Beberapa hasilnya memang sangat mirip dengan kulit binatang.
Dikutip dari Discover Magazine, Rabu (3/2), tim peneliti dari Florida International University di Miami melalui uji stres menunjukkan bahan jamur memang kurang kuat jika dibandingkan kulit suede, tetapi cukup bagus dalam meregangkan tubuh di bawah tekanan pakaian. Kulit jamur ini bisa dipakai dengan baik di musim panas dan membantu menghilangkan keringat dengan sangat baik. Bahkan ketika terkena hujan sedikit saja, airnya meresap langsung ke dalam bahan dan membuatnya lengket.
Namun tetap saja kulit jamur masih bisa merusak lingkungan, meski jauh lebih sedikit dibanding kulit hewan lain pada umumnya. Perbedaannya tergantung pada pilihan yang dibuat produsen selama proses pembuatan. “Bagaimana Anda memanennya, bagaimana Anda mengirimkannya, bagaimana Anda memulainya, dan bagaimana Anda memurnikannya,” ujar Jakob Hildebrandt, insinyur lingkungan di Zittau / Görlitz University of Applied Sciences di Jerman.
Termasuk dalam bagaimana produk tersebut perlu diproses untuk menahan mikroba lain menempel pada tong jamur, Setiap langkah akan membuat perbedaan. Menurut Hildebrandt pula, yang cocok untuk menjadikan kulit jamur sebagai bahan adalah item yang tahan lama dan tidak selalu mengikuti tren. Karena akan percuma saja menggunakan kulit jamur untuk meminimalisir kerusakan lingkungan jika tren modenya masih cepat berganti-ganti.
Penulis: Aulia Hamazunnisa Editor : Ahmad Yani