Dalam event yang mengusung tema ’Jadi Lebih Baik’ itu, motif tato mereka cukup beragam. Ada yang di tangan gambar kupu-kupu, ada yang di jari, dan ada pula yang di tengkuk leher. Mereka ingin tubuhnya menjadi glowing bila tanpa ada tato.
Koordinator J99 Foundation Sidik mengatakan, program hapus tato itu bertujuan untuk membantu orang-orang yang ingin menjadi lebih baik. ”Namun, sebelum mengikuti kegiatan ini, para peserta yang sudah terdaftar diseleksi berdasarkan niat dan tujuannya untuk menghapus secara permanen,” ungkapnya.
Dia juga menyampaikan, mereka juga ada persyaratan khusus sebelum menghapus tato. Yakni wajib melakukan uji tes HIV dan tes antigen sebagai syarat dan ketentuan standar. Dalam penghapusan tato itu, dia menyebut, pihaknya menggunakan alat yang dimiliki setiap klinik. Di antaranya pico ways, pico clear, dan Alma.
Sementara itu, aesthetic doctor dr Beni Lukandar menjelaskan, treatment penghapusan tato ini biasanya pasien tidak diperbolehkan terkena air selama 5 jam. ”Hal itu untuk menghindari infeksi,” imbuhnya.
Selain itu, pasien dibawakan krim pengering iritasi dan antibiotik. Biasanya dipakai selama dua hari dua malam. Waktu pakainya itu ketika pagi hari dan malam hari. ”Kalau untuk yang tatonya agak lebar, kami bawakan minum obat nyeri dan antibiotik,” tambahnya.
Dia membeberkan, untuk dampak awal saat penghapusan tato biasanya terlihat melepuh. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. ”Karena nantinya bisa kering dan memudar, lalu mengelupas, kurang lebih sekitar 5 hari,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, perempuan sebut saja Luci, salah satu orang yang menghapus tato, mengatakan, sebenarnya sudah ada keinginan sejak dulu untuk menghapus tato, sekitar 1 tahunan yang lalu. Namun, setiap mendaftar acara hapus tato kuotanya selalu penuh. ”Bersyukur sekarang ada kesempatan,” imbuhnya.
Dia membeberkan, satu tato di tengkuk leher miliknya itu sudah cukup lama. Dia membuatnya sekitar 6 tahun yang lalu. ”Waktu itu buatnya kelas XI SMK,” beber perempuan asal Malang itu.
Setelah menghapus tato, dia mengaku, lebih sakit proses pembuatan tato dibandingkan proses penghapusannya. Sehingga, dia menyarankan untuk yang berkeinginan membuat tato harus lebih dipikirkan lagi. ”Dari pada nyesel di akhir karena menghapusnya lebih sakit,” ungkapnya.
Terlebih, sesuai dari pengalamannya, memiliki tato membuat dirinya susah untuk mencari lapangan pekerjaan. ”Karena memang diperiksa dulu dan kerja di mana-mana jadi susah,” sesal dia. (rmc/ulf/c1/abm)
Editor : Ahmad Yani