Namun di tengah proses modern tersebut, masih ada beberapa pelaku retail yang bertahan dengan cara penjualan klasik. Yakni menjual dagangan mereka secara offline atau membuat pelanggannya datang langsung ke toko atau outlet yang mereka kelola.
Seperti yang dilakukan oleh pemilik Toko Papinja dan Toko Tio. Keduanya merupakan pusat belanja lawas yang masih bertahan hingga kini di Kota Malang.
Meski di tengah pandemi, aktivitas ramai lalu lalang pembeli masih terlihat di toko yang menjual pakaian tersebut. Ada yang sedang memilih jarik dan ada pula yang sedang memilih seragam sekolah.
Di tengah kesibukannya memantau pembeli yang masuk ke outlet, owner Toko Papinja, Paulus menceritakan, tokonya itu sudah berusia sekitar 68 tahun. Untuk bisa tetap bertahan di era millennial tentunya bukan hal yang mudah. Terlebih, sejak setahun yang lalu, pandemi mulai menyerang. “Dan itu membuat penurunan pembelian yang cukup drastis,” ungkapnya. Bahkan, menurut dia, dampaknya sangat berpengaruh. Sebab, bila di persentasekan, penurunan sampai anjlok di angka 25-30 persen. “Ya karena kami jualannya memang pakaian musiman, seperti jarit dan seragam sekolah,” katanya.
Seperti diketahui, biasanya jarit dan seragam sekolah hanya dicari saat momen-momen tertentu. Misalnya, jarit untuk dipakai di adat pernikahan, kelahiran ataupun digunakan saat alat pemakaman jenazah. “Nah kalau untuk seragam penjualannya jelas menurun, karena memang sekolahnya daring,” tambah Paulus.
Namun, dirinya tidak putus asa begitu saja. Dia memutar otak agar toko dengan luas 150 meter persegi itu bisa tetap beroperasi secara normal. Perlahan, tokonya mulai ada pergerakan, penjualan meningkat meski belum sepenuhnya. “Saat ini masih di bawah, tapi setidaknya sudah hampir setengahnya, sudah berangsur membaik 40 persen,” ucap pria yang menjadi tangan kedua, dalam merintis toko Papinja tersebut.
Hal itu karena dirinya berkaca pada zaman-zaman masih awal merintis tokonya tersebut. Yakni, beberapa kendala dan perjuangannya mempertahankan toko agar tetap eksis itu menjadi sumber motivasi untuknya. Dia membeberkan, selama ini, pihaknya sudah mempertahankan bisnisnya itu dan tidak kalah dengan pesaing yang ada. “Karena dulu awalnya tidak langsung jualan pakaian, tapi jualan kelontong yang berjualan serabutan secara bergantian,” bebernya.
Dengan kata lain, untuk menentukan jualan apa yang paling prospek, dirinya tidak takut mencoba menjual semua produk. Sehingga, perlahan, dia mulai menemukan produk yang paling pas untuk dijadikan bisnis. “Itu setelah beberapa bulan mencoba trial and error, kami lihat yang paling laku selama ini, jadi kami tahu,” tambahnya.
Misalnya, dia melanjutkan, pemilihan produk jarit ini karena dirinya menganggap jarit akan selalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah menentukan produk, pria yang berusia 74 tahun itu juga menyebutkan bila dirinya harus memikirkan bagaimana bisnisnya itu akan longlast (tahan lama). Salah satunya dengan mengetahui siapa lawan dalam penjualan produk pakaian tersebut. “Intinya harus pintar baca peluang, misalnya jarit ini sudah jarang ada yang jual, jadi mau tidak mau mereka akan ke sini,” paparnya.
Menurut Paulus, dengan tidak berjualan produk yang sudah banyak dipromosikan di pasaran itu, secara otomatis tokonya akan lebih dikenal dengan penjualan barang spesialis. Karenanya, dirinya memilih tiga produk unggulan, selain jarit, juga menjual celana pria dengan ukuran besar dan seragam sekolah.
Skema pemilihan produk itu rupanya berhasil. Sebab, pembelinya bahkan dari luar Malang raya. “Karena mulai di kenal kalau kami menyediakan jarik dan celana ukuran besar, jadi kalau mereka ke Malang pasti ingin tahu dan mampir ke toko ini,” jelas pria asal Kota Malang itu.
Namun seiring berjalannya waktu, dirinya memang dituntut untuk adaptasi dengan situasi dan kondisi. Misalnya, dalam penjualan online. “Dan kami tidak bisa sepenuhnya melayani online, karena kami tidak memiliki brand sendiri,” terang ayah satu anak itu.
Selama ini, dia membeberkan, dirinya tidak mengandalkan satu tempat untuk kula’an. Yakni, ada yang mengambil barang dari Surabaya, Solo dan Bandung. “Kami lihat yang mana yang paling bagus, misalnya jagonya celana di Bandung, kalau jarit ambil dari Solo dan Pekalongan,” tambahnya.
Menurut dia, dalam menjalankan bisnis, yang paling penting adalah harus jeli melihat perkembangan zaman. Selain itu, bagaimana menjaga kepercayaan pelanggan juga harus diperhatikan, artinya harus menjadikan toko itu berintegritas tinggi. “Karena kalau pelanggan kecewa satu kali, itu akan susah ke depannya,” pungkasnya.
Selain Papinja, Toko Tio juga menjadi salah satu retail lawas yang masih bertahan hingga sekarang. Toko yang sudah berdiri sejak zaman Belanda ini tetap eksis dan bertahan menjual pernak-pernik antik dan juga berbagai macam perhiasan. Toko Tio, merupakan toko yang sudah berusia hampir satu abad ini tetap bertahan tetap eksis.
Penanggung jawab toko bernama Sri (65) terlihat masih semangat dan penuh kesabaran melayani para pembeli yang datang ke toko. Wanita yang mengaku nama pada KTP tertera hanya Sri ini mengatakan jika selama pandemi ini dia harus kerap menelan pahit akibat sepinya pelanggan. Bahkan, dia mengaku pernah dalam satu minggu tokonya tidak ada pembeli sama sekali. "Pernah satu minggu nihil dalam masa pandemi ini," ucapnya.
Sri mengatakan jika dia tetap bertahan karena hanya sedikit toko yang menjual pernak-pernik unik dan antik. "Bahkan di deretan sini jarang, makanya kami tetap bertahan supaya para pelanggan tidak kecewa ketika mau berkunjung dan membeli," ucapnya. Dia juga kerap harus termenung melihat sejumlah stok barang yang masih menumpuk sejak tahun kemarin. Sri mengaku jika dalam sehari hanya ada satu atau dua pembeli yang datang, dirinya masih merasa bersyukur.
Ketika ditanya soal penurunan pelanggan, dirinya sampai tak bisa berkata-kata lagi. "Sudah sangat di bawah 0 lagi, sudah sampai tidak bisa bilang saya berapa penurunannya," ucap perempuan berkacamata ini. Dia juga sempat kaget, ketika mendengar berita bahwa pemerintah mengatakan kalau ekonomi Indonesia mengalami peningkatan. Sementara banyak masyarakat yang benar-benar masih membutuhkan uang untuk kehidupan sehari-hari. "Lha katanya pemerintah pusat naik ya ekonomi negara, sementara rakyat masih bersusah susah ini, dalam hal ekonomi," ucapnya. Dia berharap pemerintah bisa memberikan solusi bagi masyarakat yang masih terhimpit masalah ekonomi.
Disinggung soal toko tempat dia bekerja, Sri mengatakan bahwa dia tetap akan bertahan menjual pernak-pernik antik dan perhiasan guna memudahkan pelanggan yang ingin membeli dan berkunjung. Dia juga mengatakan jika mau tutup, dirinya mengaku merasa sayang , karena Toko Tio sudah hampir seabad berdiri dan menjual barang pernak-pernik antik serta perhiasan yang terbuat dari stainless steel dan perak ini. (ulf/cj6/mas) Editor : Farik Fajarwati