Gerakannya serasi. Hampir tidak ada kesalahan berarti sepanjang cover dancer dari lagu grup K-Pop Iz*One berjudul panorama. Gerakan yang ditampilkan grup Loueva itu juga cukup mirip dengan aslinya. Sisi feminim, ceria, dan powerfull tergambarkan. Begitulah gambaran awal saat wartawan Jawa Pos Radar Malang melihat cover dancer yang dilakukan Loueva dalam ajang K-Pop Cover Dance Festival 2021.
Menurut juru bicara Loueva yang juga dancer di DJavu Management, Winda Prameinastiti, cover dance yang semirip mungkin dengan aslinya sudah menjadi sebuah kewajiban. Selain gerakan, pakaian yang dikenakan juga harus disamakan dengan video klip yang mereka cover. ”Karena kami cover lagu grup K-Pop Iz*One berjudul panorama, jadi kami semua samakan dengan aslinya. Mulai dari jumlah personel, gaya rambut, pakaian, sampai warna sepatu,” jelasnya.
Untuk menyiapkan dress code, mereka harus menjahit secara mandiri. Beberapa anggota Loueva juga rela mengecat warna rambutnya, sampai memotong dari panjang sampai pendek. Semua dilakukan agar bisa sama dengan band K-Pop yang di-cover. ”Alhamdulillah, meski untuk memenuhi kebutuhan panggung harus patungan dan menyisihkan uang pribadi. Hasilnya bisa memuaskan untuk kami,” tambah Winda sembari tersenyum.
Dari sekitar 180 grup cover dancer di Indonesia yang berpartisipasi dalam ajang K-Pop Cover Dance Festival 2021, mereka akhirnya keluar sebagai peringkat pertama. Dan berhak mewakili Indonesia di event yang sama berskala internasional. Pada bulan Oktober sampai November mendatang, mereka akan beradu dengan grup cover dancer dari sejumlah negara. Mulai dari Rusia, Jepang, Thailand, China, Filipina, dan negara-negara dari Eropa serta Afrika.
Dikisahkan Winda, untuk mengikuti event tersebut, sejatinya Loueva tidak memburu gelar juara. Sejak awal mereka memilih nothing to lose. Tujuan mereka berpartisipasi untuk mengisi waktu di saat pandemi. Sebab, anggota dari grup dancer itu memang sepi dari job pasca merebaknya Covid-19. ”Awalnya coba-coba kirim video saja. Eh, ternyata mendapatkan pemberitahuan kalau karya kami terpilih masuk 15 besar. Lalu masuk 3 besar, dan akhirnya menjadi juara pertama,” terangnya.
K-Pop Cover Dance Festival 2021 itu merupakan event internasional pertama yang mereka ikuti. Sementara Loueva sendiri mulai aktif melakukan cover dance K-Pop sejak tahun 2020 lalu. Dari informasi yang diterima koran ini, event itu turut menggunakan juri profesional. Mulai dari babak awal sampai final, aksi mereka dalam cover dance juga dilihat langsung oleh warga Korea Selatan. Alhasil, apa yang didapatkan mereka merupakan capaian yang cukup luar biasa. Terlebih, gerakan di di lagu panorama dari grup K-Pop Iz*One terkenal tidak mudah untuk ditirukan.
Berkat kerja keras anggota Loueva lah semua itu bisa terjadi. Untuk diketahui, member mereka terdiri dari Riskha Arvia, Ari Rosyida Octarina, Farradina Ike Widiasari, Reska Maya Sari, Bait Safira Noer Aziza, Bella Sugiarto, Cyntya Nanda Isabella, Selvi Widiarti, Cindy Magdalena, Ade Ningrum, Fahiro Mamesah, Maya ayu puspita, dan Thesalonica Tara.
Mereka tidak pernah menyerah dengan minimnya fasilitas. ”Para member Loueva itu tidak manja. Untuk latihan biasanya kami lakukan di halaman Rektorat Universitas Negeri Malang (UM),” kata Winda. Dijelaskan perempuan berusia 30 tahun itu, saat ada kebijakan PPKM, mereka memanfaatkan tayangan video untuk berlatih. Setiap hari, member Loueva diwajibkan untuk menyetor video yang merekam gerakannya.
Akibat adanya kebijakan pembatasan itu pula lah, Winda menyebut bila pihaknya hanya memiliki waktu H-1 untuk bersiap tampil live di final K-Pop Cover Dance Festival 2021, 11 September lalu. ”Untungnya saat tampil live tidak ada kesalahan. Hanya ketika video kami dilihat dewan juri di Korea Selatan sana, sempat ada yang tersendat,” tuturnya.
Meski begitu, mereka tetap bisa menang. Sebab mampu membawakan cover dance dengan sangat rapi dan dinamis. Lalu juga mampu menghadirkan karakter yang kuat sesuai dengan karakter grup K-Pop itu. ”Karena anak-anak ini berangkat dari hobi. Jadi meski latihan sebentar bisa langsung kompak, dan total di setiap gerakannya,” jelas Manager Loueva, Dany Erwin.
Berawal dari hobi dan passion itulah, pria menjadi owner DJavu Management tersebut melihat bila member Loueva bukanlah anak-anak yang manja. Mereka tidak sungkan untuk patungan, atau harus pindah-pindah tempat latihan. ”Sebetulnya, ikut event-event itu biayanya lebih besar. Tapi, para member rela untuk mensisihkan uang pribadi agar bisa mencukupi kebutuhan di dance,” katanya.
Dany mengisahkan, awal terbentuknya Loueva terjadi tahun 2015 lalu. Para member-nya adalah terdiri dari dancer-dancer yang ada di Kota Malang. Ada yang berlatar belakang modern dance, hip-hop dancer, sampai traditional dancer. ”Kami sebelumnya lebih ke modern dance. Baru setelah 2020 fokus ke K-Pop,” kata dia. Trend dan permintaan klien menjadi salah satu alasan pemilihan genre itu.
Disebut Dany, nama Loueva sendiri diambil dari bahasa Yunani. Kata itu mempunyai arti pemberi kehidupan. Ia mengakui bila mempertahankan kekompakan di antara member bukanlah tugas yang mudah. ”Kami selalu berusaha memahami mereka (dancer),” jelasnya.
Selama pandemi. Ia juga mengakui bila pihaknya kerap kesulitan untuk mengumpulkan para member. Alhasil, untuk latihan, mereka kerap memilih mengirim tayangan video. (gp/by/rmc)
Editor : Shuvia Rahma